Di Acara Prabowo, Gatot Nurmantyo Kritik TNI Miskin Anggaran dan Bandingkan Gedenya Diterima Polri
Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengkritisi TNI di bawah pemerintahan Jokowi.
Kemudian, ia membandingkan besaran anggaran yang diterima Polri.
Selain itu Gatot Nurmantyo juga mengkritik masalah pencopotan jabatan struktural di tubuh TNI.
Di sektor internasional, Gatot Nurmantyo menekankan soal global citizen atau penduduk global yang harus diwaspadai.
Mantan Panglima TNI itu menilai bahwa anggaran TNI saat ini berada dalam situasi yang kritis.
Ia mengatakan anggaran sekitar Rp 6 triliun mengecilkan institusi TNI.
"Saat ini yang kritis adalah mulai dari segi anggaran," ujar Gatot Nurmantyo.
"Saya tidak menyalahkan siapapun juga, tapi sekarang ini saya perlu informasikan karena saya mantan Panglima TNI, semuanya benar-benar saja tapi ini dari segi anggaran mengecilkan Tentara nasional indonesia," kata Gatot Nurmantyo.
Di sisi lain, jumlah personel TNI mencapai 455 ribu orang dan memiliki ribuan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Gatot Nurmantyo juga membandingkan anggaran yang diterima Polri sebesar Rp 17 triliun.
"Tetapi ada institusi yang tidak punya pesawat tempur, senjatanya pendek dan jumlah personelnya tidak sampai 3 ribu tapi anggarannya Rp 4 triliun dan Kepolisian Republik Indonesia Rp 17 triliun," kata Gatot Nurmantyo.
Saat mengawali pidatonya, Gatot sempat mengungkapkan alasan kenapa dirinya hadir dalam acara pasangan Capres dan Cawapres RI nomor urut 02.
Ia mengatakan, Prabowo Subianto meminta dirinya untuk berbicara terkait beberapa permasalahan yang tengah dihadapi bangsa ini.
"Saya datang ke sini tidak ada lain karena Merah Putih, negara dan bangsa memanggil, untuk negara dan rakyat Indonesia, atas telepon dari beliau, Pak Prabowo, meminta saya hadir untuk bicara masalah kebangsaan di sini," ujar Gatot Nurmantyo.
Hadir dalam pidato kebangsaan tersebut para petinggi Badan Pemenangan Nasional (BPN), antara lain Fuad bawazier, Dahnil Anzar Simanjuntak, Sudirman Said, Sufmi Dasco Ahmad, Ahmad Riza Patria, Eddy Soeparno dan Priyo Budi Santoso, Dahlan Iskan, Rizal Ramli, Bambang Widjojanto, Natalius Pigai, Syafrie Sjamsoeddin, dan Rustriningsih.(*)