Tribun Wiki
TRIBUNWIKI: Berikut 5 Rumah Adat Khas Sulawesi Selatan
Dahulunya rumah adat ini memakai atap yang terbuat dari bahan-bahan alam seperti rumbia, nipah ataupun bambu.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Ina Maharani
Laporan Wartawan Tribun Timur, Desi Triana Aswan
TRIBUNTIMUR.COM, MAKASSAR- Indonesia memiliki keragaman yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata keindahannya.
Salah satunya Sulawesi Selatan, dengan ibu kota, berlokasi di Makassar.
Kota Daeng ini memiliki perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Makassar memiliki beragam suku, seperti Bone, Mandar, Duri, Pattinjo, dan lain-lain.
Dengan keberagam suku, Sulawesi Selatan juga memiliki berbagai rumah adat.
Sedikitnya ada lima rumah adat khas Sulsel.
Tribunwiki, telah merangkumnya.
1. Rumah Adat Suku Makassar
Rumah ini menyerupai rumah panggung.
Dahulunya rumah adat ini memakai atap yang terbuat dari bahan-bahan alam seperti rumbia, nipah ataupun bambu.
Dengan perkembangannya waktu, rumah adat seperti masih tetap dibangun, namun berbeda atap yang digunakan adalah seng atau genteng yang terbuat dari tanah liat.
Rumah adat ini, memakai empat atau lebih tiang kayu yang digunakan sebagai penyangga.
Dulu rumah ini, identik dengan rumah para bangsawan. Ada yang unik dapat dilihat dari rumah ini, yaitu bentuk atap seperti pelana kuda dengan ujung yang runcing.
Ada dua jenis tangga rumah adat Makassar ini, yaitu Sapana dan Tukak.
Perbedaannya terletak pada jenis bahan yang digunakan dan jumlah anak tangga.
Jika Sapana menggunakan bambu dengan tiga atau lebih anak tangga yang dianyam, maka Tukak ini merupakan jenis anak tangga yang terbuat dari kayu.
Perbedaan lainnya terletak pada kepemilikan, Sapana khusus untuk bangsawan sedangkan Tukak untuk rakyat biasa.
2. Rumah Adat Suku Bugis
Tiga bagian yang wajib dimiliki oleh Rumah Adat Bugis, dan mengandung makna filosofis.
- Boting Langiq, ini merupakan bagian atap rumah yang diberi rongga, sebagai lambang perkawinan di atas langit yang dilakukan We Tenriabeng, saudari kembar Sawerigading yang merupakan permaisuri dari Remmang ri Langi alias Hulontalangi (Raja pertama Gorontalo).
- Ale Kawaq ini adalah bagian tengah, area pemilik rumah untuk tinggal. Dari filosofi bangunannya, ini menjadi tempat untuk gambaran tentang kondisi dari bumi pertiwi.
- Buri Liu, ini merupakan bagian bawah atau kolong rumah. Area ini adalah lambang dunia bahwa tanah dan laut. Dulunya ini digunakan sebagai tempat peliharaan hewan.
3. Rumah Adat Suku Luwuk
Jika anda jalan-jalan ke Luwuk, rumah adat ini sangat unik. Dari luar rumah adat ini lebih besar atap ketimbang badan rumah.
Rumah adat ini disebut, dengan rumah Langkanae. Dengan ciri khas yang terbuat dari kayu dan ada 88 buah tiang sebagai penopang.
Saat dijajah Belanda, rumah ini menjadi sasaran dihancurkan.
Rumah adat ini terdiri dari tiga ruangan dengan fungsi berbeda-beda.
Pada ruangan pertama, diberi nama tudang sipulung. Ukurannya luas sangat pas untuk menampung tamu.
Pada ruangan kedua, adalah ruang tengah sebagai tempat privasi keluarga dan beristirahat.
Pada ruangan ketiga yang merupakan ruangan belakang terdiri dari dua kamar dengan ukuran kecil berbeda dengan kamar yang berada diruangan tengah.
4. Rumah Adat Soa Roja
Rumah adat ini bisa dipindahkan dari tempat satu ke tempat lainnya.
Sengaja didesain dengan rumah segi empat dan memanjang kebelakang untuk mudah dibongkar pasang.
Tingkatan sosial berpengaruh dengan bentuk sebuah rumah.
5. Rumah Adat Bola
Rumah adat ini merupakan rumah biasa yang dihuni oleh rakyat biasa pula.
Ukurannya kecil dibandingkan Sao Raja.
Tangganya pun tidak terlalu tinggi, namun dihiasi berbagai ornamen didalamnya.
Mulai dari corak alam, ornamen flora, dan fauna.
6. Rumah adat Toraja
Rumah adat Tongkongan ini terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung dilapisi dengan ijuk hitam melengkung layaknya perahu terbalik.
Rumah ini dibangun berjajar dan menghadap kearah utara. Menurut kepercayaan penduduk sekitar, jika mereka meninggal akan kumpul bersama dengan para leluhur dari utara.
Ciri khas lainnya dari tongkonan ini adalah memiliki ukiran berwarna merah, hitam dan kuning.
Rumah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal namun pusat berlangsungnya kehidupan sosial suku Toraja.