Ditinggal Suami, Wanita di Maros Ini Butuh Uluran Tangan
Seorang wanita paruh baya di Dusun Bonto Panno, Desa Toddopulia, Kecamatan Tanralili, Maros, Halija (58) butuh bantuan pemerintah
Penulis: Ansar | Editor: Anita Kusuma Wardana
Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe
TRIBUN TIMUR.COM, MAROS - Seorang wanita paruh baya di Dusun Bonto Panno, Desa Toddopulia, Kecamatan Tanralili, Maros, Halija (58) butuh bantuan dari pemerintah dan para relawan.
Pasalnya, sejak suaminya Jafar merantau ke Kendari 10 tahun lalu, ia tidak pernah kembali lagi ke kampungnya.
Baca: Tak Bisa Mendengar, Terdakwa Nahkoda KM Arista Pakai Juru Bahasa Isyarat di Persidangan
Baca: Umat Buddha Makassar Padati Sanghadana Kathina di Klenteng Kwan Kong
Bahkan, dikabarkan suaminya itu sudah menikah lagi.
Saat ini, Halija tinggal bersama putranya, Ibrahim (33) di rumah reot dan berlantai karpet.
Jika hujan, air masuk ke dalam rumah dan tergenang. Air hujan juga masuk ke rumah, lantaran beberapa seng sudah bocor dan terbang akibat puting beliung.
Halija hanya pasrah jika diguyur hujan saat malam hari. Jika hujan turun dia pindah ke tempat yang belum tergenang air.
Cobaan hidupnya harus ditambah dengan keterbatasan anaknya.
Ibrahim yang dikenal sebagai pemuda yang rajin ke masjid itu rupanya mengalami gangguan jiwa.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, Halija mengandalkan hasil jualan pisang yang ada di kebun warisannya. Kebun tersebut seluas 15 are.
Setiap kali memamen pisang, Halija datang ke pasar yang berjarak sekira 7 kilometer dari rumahnya. Kadang dia berjalan kaki lantaran tidak memiliki uang.
Setiap jualan pisang, Halija mendapat keuntungan sekitar Rp 30 ribu. Pengasilan tersebut ditabung untuk kebutuhannya. Halija harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya.
Pasalnya, Halija tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah. Bahkan, warga yang tedaftar sebagai warga miskin tersebut, juga tidak pernah mendapat bantuan beras miskin.
"Saya harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan. Tidak ada yang bisa diandalkan. Anak saya juga kurang waras. Bantuan dari pemerintah juga tidak pernah, termasuk raskin," katanya.
Pada pernikahannya puluhan tahun silam, Halija dan Jafar dikarunia empat orang anak yakni, Ibrahim (33), Jumadir (31), Salma (30) dan Kurnia (24).
Lantaran keterbatasan biaya, Jafar memilih merantau untuk mencari nafkah. Namun setelah tiba di rantauan, Jafar tidak pernah menghubungi istrinya lagi.
Setelah Jafar tidak bisa dihubungi keluarga, Jumadir juga memilih merantau ke daerah Kalimantan. Namun sampai sekarang, Jumadir juga tidak pernah kembali.
Sementara Salma, juga sudah menikah dan tinggal bersama istrinya di Dusun Abbekae. Hanya saja, Salma jarang memberikan uang kepada ibunya, karena juga terdaftar sebagai warga miskin.
Beberapa bulan lalu, Kurnia meninggal akibat penyakit yang dialaminya. Dia hanya terbaring di rumahnya, lantaran tidak memiliki biaya cukup untuk berobat.
Baca: Buktikan Dosa Nahkoda KM Arista, JPU Hadirkan Syahbandar dan Penumpang yang Selamat
Baca: 3 Keunggulan Persib Bandung Dibanding Persija dan PSM dalam Perburuan Gelar Juara Liga 1
Pihak pemerintah juga tidak pernah menyalurkan bantuan untuk pengobatan Kurnia. Bahkan pihak tetangga juga begitu.
"Anak saya Kurnia, masih muda. Tapi sudah meninggal karena sakit. Kami tidak memiliki biaya cukup. Rumah sakit juga jauh," katanya.
Lebih dekat dengan Tribun Timur, subscribe channel YouTube kami:
Follow juga akun instagram official kami:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/janda-dusun-bonto-panno.jpg)