Tribun Wiki
TRIBUNWIKI: Sejarah NU Sulsel, dari 1930-an Hingga Era Milenial
Itulah sebabnya KH Abdul Wahid Hasyim yang diutus ke Sulawesi berusaha keras menjumpai beberapa ulama aswaja di daerah ini.
“Mungkin salah satu penyebabnya adalah pengurus-pengurus NU pada dekade itu, mungkin hingga sekarang, kurang diantaranya yang memiliki pondok pesantren. Bahkan agak sulit menunjuk siapa pengurus elite NU pada masa ini yang hidup secara fisik dalam lingkungan pondok pesantren untuk melakukan pembinaan terhadap cikal bakal generasi pelanjut,” jelas Latif.
Era Milenial
Situasi NU Sulsel di era milenial ini diulas pengamat demokrasi, Abdul Karim (Tribun Timur cetak edisi Senin, 22 Oktober 2018, halaman 1 dan 7).
Menurutnya, NU di Sulsel kini cenderung memisahkan diri dari pesantren. Padahal, sejarah sosial ormas ini nyata lahir dari pesantren. Karena itu, di masa datang, NU di daerah ini harus berkonstribusi dalam memberdayakan dan memperkuat pesantren sebagai salah satu basis sosial dan pendidikan NU.
“Selama ini, NU cenderung melayani kaum elite, bukan jamaah di bawah. Sehingga kerahmatan yang diberikan NU di sini adalah kerahmatan untuk elite di atas, bukan kerahmatan untuk jamaah di bawah. Ribuan jamaah NU bertebaran di daerah ini, tetapi mereka tidak pernah benar-benar dilayani dengan serius. Mereka ada di pelosok pedesaan, ada di kelompok marginal perkotaan,” jelas Karim.
Padahal, sesungguhnya, organisasi ini didirikan untuk melayani kaum bawah. Dan yang perlu diingat, bahwa salah satu ciri ulama adalah intensitasnya melayani jamaah di bawah. Hadratusyekh Hasyim Asy'ary sebagai pendiri NU hadir melayani warga dan jamaah di bawah, terutama warga desa.
Menurut Karim, selama ini PBNU begitu produktif memperoduksi gagasan dan gerakan untuk kerahmatan bangsa, entah itu soal kemiskinan, soal keagamaan, soal ekonomi, dan lain-lain, tetapi NU Sulsel tak mengapresiasi itu. Harusnya NU Sulsel melakukan hal yang sama.
“NU didirikan untuk pengabdian, bukan untuk jabatan tertentu di institusi lain.
Bila aspek-apek di atas tidak dipertimbangkan dalam memilih calon pemimpin NU di Sulsel, maka cepat atau lambat terjadilah apa yg disebut ‘frozen NU’, kebekuan NU. Beku di tengah cairnya kondisi,” ujar Karim.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/nahdatul-ulama_20181021_221828.jpg)