Tribun Wiki
TRIBUNWIKI: Sejarah NU Sulsel, dari 1930-an Hingga Era Milenial
Itulah sebabnya KH Abdul Wahid Hasyim yang diutus ke Sulawesi berusaha keras menjumpai beberapa ulama aswaja di daerah ini.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Secara kelembagaan dan organisasi, Nahdlatul Ulama (NU)emang baru ada di Sulsel setelah kemerdekaan, 1950-an. Namun paham Ahlus Sunnah Waljamaah (Aswaja) yang identik dengan NU sudah berkembang di Sulsel jauh sebelumnya. Bahkan embrio lahirnya NU sudah ada di Sulsel sejak tahun 1930-an.
Menjelang Muktamar Ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) yang dilaksanakan di Makassar, 22-27 Maret 2010, sejarawan Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Abd Latif, menulis ulasan khusus tentang NU di Sulawesi ke Tribun Timur cetak.
Di masa hidupnya, dosen Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Unhas yang meninggal dunia pada Hari Selasa, 2 Desember 2014, ini banyak melakukan penelitian tentang organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Sulsel.
Menurutnya, hingga awal tahun 1960-an, NU belum mampu mengeksiskan diri sebagai sebuah organisasi keagamaan yang disegani di Sulsel. Beda dengan Muhammadiyah yang sejak pertengahan 1930-an telah eksis khususnya di Soppeng dan Wajo.
“Itu tergambar jelas dalam beberapa skripsi sarjana di UIN dan UNHAS yang tidak berani memotret keberadaan NU di Sulsel pada tahun 1950-an dan bahkan tahun 1960-an. Salah satu dari skripsi itu yang mencoba memotret NU tahun 1960-an di Makassar, tetapi oleh penulisnya diakui betapa sulitnya memperoleh bahan dokumen yang memungkinkan dilakukan studi kritis tentang NU pada periode tersebut,” jelas Latif.
Bukan hanya penulis skripsi yang kesulitan memperoleh bahan-bahan penulisan yang memungkinkan dilakukan perluasan analisis tentang eksistensi NU di Sulsel pada periode awal, menurut Latif, beberapa tesis dan disertasi tentang organisai keagamaan di Sulsel hanya memberikan sedikit informasi tentang NU di Sulsel pada tahun-tahun itu.
Era 1930-an
Sebenarnya, lanjut Latif, pada tahun 1933 di Makassar pernah terbentuk Jamiah NU Wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara dengan menampilkan Abdul Hamid Daeng Magassing sebagai ketua umum, KH Ahmad Bone sebagai rais suriah.
Hanya saja, organisasi itu kurang aktif dan dikenal hanya di Kota Makassar. Organisasi yang sehaluan dengan NU dan lebih aktif, tetapi juga terbatas di Kota Makassar, adalah Rabitatul Ulama.
Dalam organisasi itu berhimpun beberapa ulama berpaham aswaja:
Pengurus Rabitatul Ulama Makassar 1933.
* KH Ahmad Bone: Ketua Umum
* KH Muhammad Ramli: Wakil ketua I
* KH Syaifuddin: Wakil ketua II
* KH Abdul Haq: Wakil ketua III
* KH Sayyid Husain Assegaf: Sekretaris umum
* KH M Paharu: Wakil sekretaris
* KH Kasim Daeng Pabeta: Bendahara
* KH M Saleh Assegaf: Wakil bendahara
* Bagian Dakwah
- Ketua: KH Sayyid Djamaluddin Assegaf Puang Ramma
- Wakil Ketua: KH A Rahman Daeng Situju
- Anggota: KH Abdur Razak
* Bagian Pendidikan
- KH Asap
- KH M Nuh
- KH M Said
- KH Abd Muin
Era 1950-an
“Beberapa sumber mengungkapkan bahwa NU baru mulai diperkenalkan secara intens di Sulsel pada tahun 1950-an. Ini dilakukan oleh pengurus-pengurus NU di Jawa untuk berusaha memperluas jangkauan organisasi ke daerah-daerah di luar Jawa,” tulis Latif.
Menurut Latif, sturuktur kepengurusan Rabitatul Ulama nampak jelas bahwa organisasi ini hanya menghimpun ulama-ulama berapaham aswaja yang tinggal di Makassar. Itulah sebabnya ketika NU keluar dari Masyumi dan mendirikan partai tersendiri yang disebut Partai NU, maka KH Abdul Wahid Hasyim yang diutus ke Sulawesi berusaha keras menjumpai beberapa ulama aswaja di daerah-daerah.
Pada waktu itu, agenda pertama dan utama KH Abdul Wahid Hasyim adalah bersilaturrahmi ke KH Abdurrahman Ambo Dalle pimpinan DDI (Darud Dakwah wal Irsayad) di Parepare. Setelah itu diagendakannya akan berangkat ke Soppeng dan Sengkang.
KH Abdul Wahid Hasyim mengutamakan dan mendahulukan untuk menjumpai KH Abdurrahman Ambo Dalle karena ketika NU keluar dari Masyumi, NU mencoba memprakarsai membentuk Liga Muslimin Indonesaia. Ternyata Liga Muslimin Indonesia kurang menarik bagi organisasi keagamaan, sehingga pada awal berdirinya hingga "mati di tengah jalan" yang sempat bergabung dalam Liga Muslimin Indonesia hanya NU dan DDI.
Ketika KH Abdul Wahid Hasyim berjumpa dan mengajak KH Abdurrahman Ambo Dalle bergabung ke Partai NU, dengan halus KH Abdurrahman Ambo Dalle menolak dan mengatakan bahwa dirinya telah bergabung ke PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/nahdatul-ulama_20181021_221828.jpg)