Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Wiki

TRIBUNWIKI: Sejarah NU Sulsel, dari 1930-an Hingga Era Milenial

Itulah sebabnya KH Abdul Wahid Hasyim yang diutus ke Sulawesi berusaha keras menjumpai beberapa ulama aswaja di daerah ini.

Tayang:
Penulis: AS Kambie | Editor: AS Kambie
int
Nahdatul Ulama 

Gagalnya KH Abdul Wahid Hasyim memasukkan KH Abdurrahman Ambo Dalle ke dalam Partai NU menjadi penyebab utama beliau tidak melanjutkan perjalanannya ke Soppeng dan Sengkang, melainkan kembali ke Makassar dan seterusnya kembali ke Jakarta.

Menurut Latif, perhatian NU dan mantan Menteri Agama atau KH Abdul Wahid Hasyim terhadap figur KH Abdurrahman Ambo Dalle menjadi salah satu alasan bagi Abdul Qahhar Mudzakkar, pimpinan DI/TII (Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia), membawa pendiri DDI itu masuk hutan untuk dimasukkan dalam struktur kenegaraan Darul Islam pada posisi yang cukup prestisius.

Periode 1970-an
Memasuki periode tahun 1970-an barulah NU Sulawesi Selatan mulai banyak berkiprah. Khususnya dari kalangan muda NU yang aktif di PMII (Pergerakan Mahasisa Islam Indonesia).

Pada tahun-tahun itu, menutut Latif, muncul beberapa tokoh PMII Sulawesi Selatan yang cukup disegani oleh sesama organisasi kemahasiswaan ekstra universitas.
Mereka disegani paling tidak pada empat domein penting yang menjadi medan pergumulan kaum muda atau mahasiswa.

Pertama, tokoh-tokoh PMII pada waktu itu rata-rata memiliki kemampuan akademik dan kapasitas intelektual yang cukup diperhitungan. Sekarang, kapasitas intelektualitas kelihatanya tidak lagi menjadi domein penting oleh kaum muda dan mahasiswa. Tidak hanya di kalangan aktivis PMII, tapi mungkin rata-rata orgnisasi kemahasiswaan dan organisasi kepemudaan pada umumnya mulai terjebak ke dalam "virus praktisme politik dan ekonomi". Tidak sedikit pimpinan organisasi kemahasiswaan dan organisasi kepemudaan yang mulai mengabaikan kemampuan akademik dan mengedepankan tujuan-tujuan politis yang menguntungkan secara ekonomis, walau keuntungan itu sesaat sifatnya.

Kedua, aktivitas mereka dalam berorganisasi menciptakan banyak kader NU. Pada tahun-tahun ini banyak anak muda dan mahasiswa yang tertarik bergabung ke organisasi-organisasi otonom NU, seperti GP Ansor, IPNU, PMII, walaupun orangtua mereka bukan berasal dari NU. Bahkan, menurut Latif, ada yang menjadi kader PMII walaupun orangtuanya adalah pengurus Muahammadiyah. Pada tahun-tahun itulah banyak kader PMII yang merupakan kader generasi pertama dalam keluarga mereka. Tidak seperti sekarang, nyaris tidak dapat dijumpai kader PMII yang merupakan kader generasi pertama dalam geneologi mereka.

Ketiga, kaum muda NU generasi tahun 1970-an rata-rata tidak hanya bergiat di organisasi-organisasi badan otonom NU, seperti IPNU, GP Ansor, dan PMII, tetapi juga mereka aktif dan menjadi tokoh pimpinan pada orgnasi lainnya, misalnya KNPI dan Resimen Mahasiswa. Keempat, mungkin karena mereka pada umumnya adalah alumni pondok pesantren asuhan ulama-ulama DDI, sehingga walaupun mereka mulai tampil menjadi tokoh pimpinan kaum muda dengan segala godaan gaya hidup modern, mereka rupanya tetap setia pada tradisi hubungan santri dengan kiyai. Silaturahmi mereka dengan kiyai-kiyai DDI dan NU tetap terjaga.

Generasi muda NU yang mengawal eksistensi NU melalui badan otonom PMII pada tahun 1970-an diantaranya yang dapat disebut adalah Abdul Rahman Idrus, A Rahim Mas P Sanjata, Harifudin Cawidu, Umar Lobitubun, Musdah Mulia dan lain-lain.

Salah satu kelemahan kalangan muda NU generasi tahun 1970-an adalah kurang diantara mereka yang memilih dunia tulis-menulis sebagai wadah mensosialisasikan ide dan gagasan. Itulah sebabnya ketika mereka "turun panggung" dari hiruk-pikuk dunia kemahasiswa perlahan menghilang pula nama-nama mereka dari peredaran dunia kemahasiswaan.

Misalnya, kalangan luar NU pun tidak meragukan kapasitas intelektual Harifudin Cawidu. Beliau dikenal sebagai intelektual muslim (baca NU) dari timur, tetapi terbatasnya ruang sosialisasi pemikiran yang hanya melalui mimbar-mimbar kuliah, seminar, dan ceramah di berbagai kesempatan, sehingga masyarakat pembaca buku dan penikmat surat kabar kurang dapat mengikuti gerak pemikiran Harifuddin Cawidu.

Mungkin hanya satu orang tokoh muda NU tahun 1960-an yang setia memilih dunia jurnalistik sebagai profesi hingga usia tua adalah Rahman Arge (Abdul Rahman Ambo Gega). Tokoh ini masih aktif menulis, tetapi sayangnya beliau lebih dikenal sebagai budayawan, wartawan senior, dan mantan politisi Golkar, ketimbang sebagai orang NU. Ini boleh jadi karena beliau memang tidak pernah aktif dalam sturktur NU. (Rahman Arge wafat pada 10 Agustus 2015)

Aktivis NU, tepatnya aktifis PMII, tahuan 1970-an tampaknya tidak bertahan lama. Walaupun pada masanya mereka aktif melakukan kegiatan pengkaderan, tetapi rupanya mereka gagal menciptakan kader generasi pelanjut yang dapat disegani dan diperhitungkan dalam pergaulan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan.

Era 1980-an
Latif menulis, Syukur Sabang dan A Jamarro Dulung sebagai kader muda NU atau PMII yang tampil pada era tahun 1980-an tidak dapat menjadi center of view di kalangan mahasiswa.

Bahkan dapat dikatakan tidak sedikit mahasiswa yang merupakan alumni pondok pesantren yang memilih mengikuti pengkaderan yang dilakukan oleh orgnasasi mahasiswa selain PMII. Mungkin salah satu penyebab surutnya minat mahasiwa mengikuti pengkaderan PMII karena di kalangan pengurus PMII tidak mengubah metode pengkaderan sebagai media rekrutemen anggota baru, sementara pada organasi kemahasiswaan lainnya telah berkali-kali melakukan perubahan metode pengkaderan.

Pada dasawarsa tahun 1980-an , dan mungkin samapi sekarang, mulai berkurang silaturahmi antara kaum muda NU yang aktif di IPNU, GP Ansor, dan PMII dengan ulama NU.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved