Benarkah Perintah Presiden? Jual Gabah ke Sidrap, Tentara Sergap Petani Maros
Mereka datang memenuhi undangan Dandim Maros membicarakan persoalan gabah yang dijual ke luar daerah.
"Saya petani, Pak. Kami sampaikan, bahwa biaya yang kami keluarkan selama kami merawat padi sekitar tiga bulan sangat banyak. Tapi kenapa saat panen, harga gabah dibatasi," kata Ibrahim di Markas Kodim 1422.
Padahal ada sejumlah pedagang yang membeli gabah petani dengan mahal, dibanding harga Bulog. Namun TNI justru melarang pedagang tersebut.
Menurutnya, jika pedagang dilarang membeli gabah secara langsung, maka petani tidak akan sejahtera. Justru yang disejahterakan adalah oknum tertentu.
"Kenapa kalau ada yang mau beli mahal gabah kami, tapi dilarang. Jangan batasi harga gabah pak. Kami juga mau sejahtera seperti orang lain," katanya.
Benarkah Perintah Presiden?
Kodim 1422 Maros semakin gencar melakukan Operasi Serapan Gabah Petani (Sergap) agar gabah petani bisa diserap maksimal oleh Bulog.
Dandim 1422 Maros, Letkol Kav Mardi Ambar mengatakan, Selasa (13/3/2018) gabah yang berhasil dicegat, rencananya akan dibawa ke Kabupaten Sidrap.
"Tadi malam, ada beberapa titik lokasi prajurit melakukan operasi. Anggota berhasil menghalau penjualan gabah petani oleh tengkulak. Gabah itu, mau dibawa ke Sidrap," katanya.
Para oknum sengaja membeli gabah saat malam hari, supaya leluasa mengangkutnya ke Sidrap. Oknum yang dipergoki tersebut diarahkan untuk menjual gabahnya ke Bulog.
Dia mengimbau, petani supaya tidak terkecoh dengan harga tinggi yang ditawarkan oleh tengkulak. Pasalnya, tengkulak tersebut juga memainkan bobot timbangan.
Meski selisih harga dari Bulog dan tengkulak bisa mencapai seribu rupiah perkilogram, namun kuantitasnya jelas lebih sedikit.
Jika dibeli oleh Bulog, berat gabah bisa mencapai 100 kilogram perkarung. Namun saat dibeli tengkulak, beratnya hanya 90 kilogram per karung.
"Mereka memang berani membeli gabah dengan harga tinggi dari harga normal Bulog Rp 4.400 per kilogram. Tapi mereka memainkan timbangan. Jadi petani yang rugi. Sama saja dengan bohong dan akal-akalan," katanya.
Selama ini, banyak tengkulak yang bermain di Maros. Mereka membeli gabah Maros lalu membawanya ke Sidrap untuk ditimbun, atau dikirim keluar daerah secara ilegal.
Memang saat ini bisa untung dengan harga tinggi. Tapi petani akan kembali merugi saat harga beras naik di pasaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/kodim_20180314_232601.jpg)