Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Benarkah Perintah Presiden? Jual Gabah ke Sidrap, Tentara Sergap Petani Maros

Mereka datang memenuhi undangan Dandim Maros membicarakan persoalan gabah yang dijual ke luar daerah.

Penulis: Ansar | Editor: Mansur AM
ansar/tribunmaros.com
Kodim 1422 Maros menghentikan enam truk pengangkut gabah sebanyak 140 ton di Poros Maros - Pangkep, Lau beberapa waktu lalu. Gabah dari Maros tersebut rencananya akan dibawa ke Kabupaten Sidrap dan Pinrang. 

Menurutnya, dalam MoU tersebut, TNI AD bersama kementan menyepakati, dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional ditindaklanjuti perjanjian jual beli Beras nomor: PJB- 00004/03/2018/41/KBK.

"Jadi ini sudab tertulis dalam MoU itu, antara Subdivre Bulog Makassar dengan Primer Koperasi Hasanuddin Maros," kata Kolonel Alamsyah.

Komandan Kodim 1422 Maros, Letkol Kav Mardi Ambar, menyebut pembeli gabah petani Maros yang harganya lebih tinggi dari Bulog itu adalah tengkulak.

Menurutnya, ratusan karung gabah itu diperoleh tengkulak dari petani. Gabah disinyalir akan diolah dan ditimbun untuk diekspor secara ilegal.

"Beberapa hari terakhir, kami gencarkan patroli langsung ke lapangan. Itu kami lakukan untuk mencegah adanya gabah petani yang akan dibawa ke luar daerah," katanya.

Mitra Dolog
Pedagang dari Sidrap yang disebut tengkulak itu merugi puluhan juta rupiah.

Pasalnya, ratusan ton gabah yang sudah mereka beli ke petani diambil oleh Kodim kemudian diserahkan ke Bulog.

Pertemuan petani dipimpin kades dengan Komandan Kodim 1422 tidak “memuluskan” perjalanan ratusan gabah itu ke Sidrap.

Kades Alatenggae-Simbang, Abdul Azis, mengatakan, meski hasil dengan Dandim 1422 Maros membuahkan beberapa kesepakatan, tapi 140 ton gabah yang telah disita tidak dilepas.

Padahal, dalam pertemyan yang berlangsung sekitar pukul 15.00 wita itu, Dandim 1422 berjanji tidak akan lagi melakukan operasi Sergap untuk sementara.

Kodim mengarahkan pedagang untuk menjual gabahnya ke Bulog dengan harga Rp 4.500, padahal pedagang membeli gabah kisaran Rp 4.700 per kilogram.

"140 ton itu tidak dilepas. Gabah itu diarahkan ke mitra Dolog untuk dibayar dengan harga Rp 4.500 per kilogram," kata Azis yang juga Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Maros itu.

Pembeli gabah lokal Maros, Irwan, mengatakan, 140 ton gabah dirazia tentara itu langsung digiring ke mitra Bulog, Daeng Rala, dan kawan-kawan.

"140 ton gabah itu dibawa ke gudang Haji Rala dan kawan-kawan. Dia yang ditunjuk sebagai mitra Bulog di Maros. Tidak ada gabah yang dilepas. Malah beberapa pengusaha tani dirugikan," kata Irwan.

Demo Petani
Perwakilan petani, Ibrahim mengaku, menjual padinya ke pedagang Sidrap karena harganya lebih tinggi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved