Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

opini

Kampanye: Ujian Literasi Informasi dan Digital

Pada musim pilkada, banyak pesan disebar untuk meraih citra atau sebaliknya merusak image seorang kandidat.

Editor: Jumadi Mappanganro
handover
Dr Yasdin Yasir SPd MPd 

Dr Yasdin Yasir SPd MPd
(Dosen Universitas Negeri Makassar/ Pemerhati Politik Pendidikan)

MASA kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak telah dimulai beberapa waktu lalu. Kandidat telah melakukan berbagai cara untuk merengkuh simpati pemilih.

Mulai dari mengenalkan diri hingga bertaruh dan bertarung program, visi, hingga misi. Harapannya adalah mendongkrak popularitas, meningkatkan aksepbilitas, hingga mengunci elektabilitas.

Bakal calon menggunakan pendekatan yang beragam, mulai dari blusukan hingga menyebar atribut. Intinya adalah menyebar informasi.

Kandidat paling banyak menyebarkan informasi menggunakan media. Pertama, menggunakan media lama (media tradisional atau media mainstream) seperti surat kabar, radio, dan televisi.

Kedua, menggunakan media baru (teknologi web 2.0) seperti, website, blog, situs jejaring sosial (Facebook), situs komunikasi sosial singkat (Twitter), situs berbagi foto (Flicker), dan situs berbagi video (Youtube).

BACA OPINI: Pendidikan yang Berkarakter

BACA OPINI: Quo Vadis Pengembangan Profesi Guru

Ketiga, melalui e-media (digital dan multimedia) seperti surat kabar online, radio online, dan televisi digital.

Penyebaran informasi menggunakan ketiga jenis media itu banyak ditemukan selama kampanye pemilihan kepala daerah. Termasuk di Sulawesi Selatan.

Bahkan jauh sebelum masa kampanye, saat para kandidat mulai mengambil ancang-ancang bertarung dalam gelanggang politik, mata dan telinga masyarakat telah dipenuhi sajian-sajian informasi dari para pertaruh melalui media baru dan e-media.

Para kandidat tentu menyadari pentingnya informasi itu di-manage dan disebar.

Sekadar mengorbitkan diri, mengolah citra, menyindir pesaing, hingga menyerang kawan berdemokrasinya. Di antara tiga jenis media, yang paling sering digunakan kandidat adalah media baru dan e-media.

Alasannya tentu sederhana, media baru dan e-media dianggap lebih hemat, cepat, dan dapat dikelola sendiri.

Kandidat menyadari pentingya informasi itu harus segera didifusikan. Para kandidat sebagai sender ‘begitu pintar’ mengelola informasi melalui media baru dan e-media.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved