Home »

Opini

opini

Quo Vadis Pengembangan Profesi Guru

Guru ber-PKB apa adanya. Akibatnya, guru menjadi pasif, penunggu undangan pelatihan/workshop ke sekolah masing-masing

Quo Vadis Pengembangan Profesi Guru
handover
Abdul Rahman 

Oleh: Abdul Rahman
Founder Celebes Global Act (CEGAT)

MENTERI Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, sudah sering mengutarakan kerisauannya atas besarnya anggaran pendidikan tetapi tidak berdampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

Program/kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru termasuk yang mendapat alokasi anggaran yang tidak sedikit jumlahnya.

Namun, keluhan bahwa guru-guru sudah sering mengikuti diklat tetapi kualitas dan performa mengajar mereka ‘masih seperti yang dulu’ masih akrab di telinga.

Bahkan untuk guru yang telah dianggap ‘profesional’ dengan sertifikat pendidik yang dimilikinya. Nampaknya, peningkatan kualitas pendidikan mandek salah satunya karena PKB jalan di tempat.

Tercatat bahwa sejak program PKB, dikenal dengan pendidikan dan pelatihan guru, pertama kali digulirkan di awal tahun 1970-an, program PKB di Indonesia umumnya dilakukan dengan model imbas atau berantai (cascade model).

Baca: OPINI: Pertarungan di Arena Tak Sehat

Guru dan penatar di daerah dipilih untuk dilatih ditingkat nasional untuk menjadi guru inti atau instruktur nasional.

Instruktur nasional kemudian kembali ke daerah dan sekolah masing-masing untuk mengimbaskan ke guru-guru yang lain.

Walaupun PKB model cascade secara ekonomis terbukti ampuh untuk melipatgandakan pelatihan dalam artian pelatihan mampu mencapai ribuan guru dalam kurun waktu yang relatif singkat, beberapa ahli melaporkan kelemahan dari model cascade ini.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help