opini
Menyoal Bayi Ajaib di Enrekang
Pengalaman saya di Baznas Enrekang bahwa mayoritas anak terlahir cacat akibat hubungan gelap yang berusaha digugurkan oleh orang tuanya.
Oleh: Dr Ilham Kadir MA
Peneliti MIUMI Pusat - Pimpinan Baznas Enrekang.
Dalam siklus kehidupan umat manusia, setidaknya ada tiga fase penting yang akan dialami: kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ketiganya saling terkait bahkan menjadi bagian tak terpisahkan. Inilah siklus mainstream manusia normal.
Bulan Syawal, bagi sebagian masyarakat Sulawesi Selatan adalah waktu tepat untuk melangsungkan pernikahan.
Salah satu alasannya bahwa bulan Ramadan telah menempa kedua calon mempelai agar menjadi manusia bertakwa, melepaskan segala sikap hewani dan memupuk jiwa kemanusiaan.
Sikap hewani yang penuh dengan kekejaman, kerusakan, kekacauan, saling menjatuhkan, saling memangsa yang dalam terminologi I Lagaligo "sianre bale, laksana ikan memangsa sesama ikan" telah dibakar hangus oleh Ramadan.
(BACA JUGA OPINI: Jalan Cinta Para Sufi)
Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq yang dinikahi Baginda Nabi pada bulan Syawal. Ia pun berkomentar, Sesungguhnya pernikahan di bulan Syawal itu penuh keberkahan dan mengandung banyak kebaikan.
Kecuali itu, menikah adalah perintah agama. Artinya ibadah yang mendapatkan pahala kedua belah pihak, baik suami maupun istri.
Adalah keliru jika diasumsikan bahwa hanya istri yang mendapat pahala, walaupun tentu saja dalam beberapa hal istri melebihi pahala dari suaminya jika pelayanannya lebih maksimal.
Menyediakan makanan, minuman, merapikan pakaian, tempat tidur, mencuci dan menyapu semua disediakan pahala agung di sisi Allah.
Sementara yang hidup menyendiri tanpa suami akan kehilangan kesempatan untuk mendulang pahala sebagai hasil pernikahan.
Khusus urusan kontak kelamin pasangan sah, segunung pahala menanti. Coba baca hadis berikut: Rasulullah bersabda,
Dalam kemaluanmu itu ada sedekah. Sahabat lalu bertanya, Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?
Rasulullah menjawab, Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala. (HR. Bukhari, Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimah).
Hubungan intim, menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam "Ath-Thibbun Nabawi" memiliki tiga tujuan: memelihara keturunan dan keberlangsungan umat manusia, mengeluarkan cairan yang bila mendekam di dalam tubuh akan berbahaya, dan meraih kenikmatan yang dianugerahkan Allah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ilham_20170417_233901.jpg)