Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Perspektif

Siri’ Ala Jepang

Sebenarnya orang Bugis Makassar punya potensi dan modal budaya untuk menjadi bangsa yang besar.

Editor: Jumadi Mappanganro
TRIBUN TIMUR/ MUH ABDIWAN
Syamril (Dirut Sekolah Islam Athirah) 

Oleh: Syamril
Dirut Sekolah Islam Athirah

Seorang teman yang pernah tinggal di Jepang bercerita tentang ‘keanehan’ bangsa Jepang yang dia amati selama di sana.

Orang Jepang terkenal sebagai pekerja keras, disiplin dan berintegritas tinggi. Saya bertanya kepadanya “Apa kuncinya sehingga mereka bisa demikian?”

Teman saya menjawab : “besarnya rasa malu”.

Saya kaget, ternyata ‘hanya’ itu? Mereka malu jika santai, tidak bekerja keras. Mereka malu jika tidak disiplin dan melanggar peraturan.

Mereka malu jika tidak jujur apalagi korupsi, atau mengambil barang yang bukan miliknya. Seorang menteri mengundurkan diri setelah ketahuan korupsi.

(BACA JUGA Perspektif: Berani Hidup dan Ingat Mati)

Bagi kita masyarakat BugisMakassar, malu atau siri’ itu sudah menjadi kearifan lokal yang sejak kecil diajarkan kepada kita.

Jadi sebenarnya orang Bugis Makassar punya potensi dan modal budaya untuk menjadi bangsa yang besar.

Malu dapat dibagi dua yaitu malu pada diri sendiri dan malu pada orang lain. Semua itu terkait dengan harga diri.

Seseorang malu berbuat jahat seperti mencuri karena jika dia melakukan itu maka habislah harga dirinya di mata masyarakat.

Namun rasa malu pada orang lain ini masih ada kelemahannya karena masih ada kejahatan yang bisa dilakukan dan tidak terlihat oleh orang lain.

Oleh karena itu diperlukan rasa malu berikutnya yaitu malu pada diri sendiri.

(BACA JUGA: Awas Kospin Berkedok Umrah Murah)

Rasa malu pada diri sendiri akan tumbuh jika seseorang memiliki jati diri, nilai diri dan karakter yang kuat.

Kendalinya adalah nilai-nilai yang diyakininya yang jika dia langgar dia akan malu pada dirinya sendiri.

Nilai diri itu akan menjadi kompas dan rambu-rambu hidupnya.

Jika diyakininya kejujuran adalah nilai yang harus dipegang teguh maka dia akan malu pada dirinya jika harus berbuat curang atau berkata bohong.

Sebenarnya bagi kita umat beragama ada satu rasa malu lagi yang diajarkan kepada kita yaitu malu kepada Allah.

Kita semua meyakini bahwa Allah itu Ada dan Allah tidak cuma Ada tapi juga Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Mengawasi.

Dia mengetahui segala aktivitas makhluknya di tempat yang gelap sekalipun.

Jika rasa malu kepada Allah ini betul betul dapat kita amalkan maka Insya Allah kita akan menjadi pribadi yang terjaga dari segala hal yang dilarang oleh-Nya.

Bangsa Jepang dapat menjadi bangsa yang besar hanya dengan bermodalkan rasa malu kepada diri sendiri dan orang lain.

Bangsa Indonesia seharusnya dapat menjadi bangsa yang lebih besar lagi karena ada rasa malu kepada Allah sebagai ajaran agama. (*)

Tulisan ini telah dipublikasikan di Tribun Timur edisi cetak Selasa 23 Mei 2017

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved