Perspektif
Berani Hidup dan Ingat Mati
Dunia maya dikagetkan dengan siaran langsung bunuh diri seorang warga di Jakarta. Penyebabnya karena masalah rumah tangga yang sangat berat.
Jika dia lupa kematian maka masuk golongan 2 yaitu berani hidup tapi ‘lupa’mati.
Karena ‘lupa’ mati maka dia sangat cinta dunia dan menghalalkan segala cara untuk meraih harta, tahtadan cinta.
Inilah yang Rasulullah khawatirkan bahwa suatu masa ummatnya akan seperti buih di lautan. Jumlahnya banyak tapi terombang-ambing karena cinta dunia dan takut mati.
Akhirnya golongan terbaik yaitu manusia yang berani hidup dan tidak takut / ingat mati. Tipe ini akan semangat menjalani hidup, berani menghadapi segala permasalahan untuk mengasah diri.
Dia juga yakin bahwa kehidupan di dunia ini ada akhirnya yaitu kematian. Namun kematian tidak membuatnya ‘takut’ dan tidak berbuat apa-apa.
Justru karena ada kematian maka dia bekerja penuh semangatmenyiapkan bekal menghadapi hidup setelah kematian dengan iman, ilmu dan amal saleh.
Manusia golongan ini akan bertindak hati-hati, penuh perhitungan dan memperhatikan dengan baik segala rambu-rambu kehidupan.
Jika suatu perbuatan masuk kategori melanggar aturan agama atau masyarakat maka dia tidak akan berani melakukannya karena dia yakin sekecil apapun pelanggaran yang dilakukan akan diminta pertanggungjawabannya.
Jika di dunia dia bisa lolos maka di akhirat di hadapan Mahkamah Allah tidak akan ada yang bisa lolos.
Jika di dunia ini banyakmanusia berani hidup dan ingat mati maka dunia akan aman, sejahtera dan sentosa karena dipenuhi oleh manusia produktif dan taat aturan.
Semoga kita semua dapat menjadi manusia golongan ini. Manusia yang berani hidup dan selalu ingat akan kematian. (*)
Catatan: Tulisan ini telah dipublikasikan pula di Tribun Timur edisi cetak, Selasa 21 Maret 2017
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/syamril_20150410_233127.jpg)