Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Berburu Madu Hingga Tawanga Sulawesi Tenggara

Koperasi MPU Desa Tawanga binaan AgFor memproduksi madu tiris

Penulis: Suryana Anas | Editor: Suryana Anas
TRIBUN TIMUR/SURYANA ANAS
pencari madu Desa Tawanga yang dalam bahasa lokal disebut Pasoema memperlihatkan sarang lebah madu saat kunjungan media ke lokasi desa binaan AgFor, di Desa Tawanga, Kecamatan Uluowoi, Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Suryana Anas

TRIBUN-TIMUR.COM, KENDARI –Anda ingin madu asli? Yuk jalan-jalan ke Desa Tawanga, Kecamatan Uluowoi, Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Desa ini menjadi salah satu daerah penghasil madu hutan. Hampir setiap tahun produksi madu di daerah ini mencapai belasan ton.

Baru-baru ini Tim Agfor AgFor (Agroforestry and Forestry) Sulawesi, Intenational Centre of ReWorld Agroforestry Centre (ICRAF) mengajak sejumlah jurnalis Makassar dan Kendari ke sejumlah lokasi desa binaannya, salah satunya di Desa Tawanga.

Untuk mencapai daerah ini, membutuhkan waktu enam jam perjalanan darat dari Kota Kendari, baik menggunakan mobil ataupun sepeda motor.

Perjalanan ke sini cocok bagi Anda yang suka dengan tantangan. Namun, saat hendak berangkat, Anda sebaiknya minum obat anti mabuk terlebih dahulu.

Pasalnya, Anda akan merasakan perjalanan sensasi ala “off road” sambil menyaksikan keindahan alam hutan dan perkebunan.

Sebagian bersar jalanan ke daerah ini masih belum beraspal, dan medan yang berliku. Jika hujan, jalannya licin dan sebagian digenangi air. Anda juga akan melewati sejumlah jembatan kayu yang sudah rusak, dan sebagian lagi sudah terputus. Hingga melintasi sungai.

Tiba di Tawanga, kami menginap di rumah Kepada Desa Tawanga. Desa ini, belum menikmati aliran listrik dari PLN. Jaringan telepon juga tidak ada sama sekali.

Untuk penerangan, warga menggunakan genset sebagai sumber energi untuk aliran listrik.

Madunya Bersih dan Higenis

Tim AgFor Kendari mengajak kami untuk menyaksikan langsung proses pengambilan madu di hutan. Mulai dari memanen hingga pengemasan madu.

Sayangnya, sarang madu yang kami temukan saat kunjungan ini sudah tua dan tak lagi menghasilkan madu.

Untuk tahun 2015 lalu, pencari madu Desa Tawanga yang dalam bahasa lokal disebut Pasoema mampu memproduksi madu sebesar 12 ton untuk madu peras dan 1,5 ton untuk madu tiris.

Madu peras ini masih dikelola secara tradisonal. Yakni saat dipanen, sarang lebah tersebut diperas menggunakan tangan agar sari madunya keluar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved