Fotografer Senior yang Rendah Hati
Pak Alam adalah wartawan foto pertama yang mengabadikan mayat Kahar Madzakkar. Dan itulah foto pertama yang diafdruk Arfah yang dijepret Pak Alam
Satu demi satu tokoh pers Sulawesi Selatan ‘pergi’. Setelah kepergian H.Syafruddin Tang pasca memberikan suara pada putaran pertama pemilihan Ketua PWI Sulsel 30 Oktober 2015 malam silam, Kamis (10/12) komunitas pers Sulawesi Selatan dikejutkan lagi dengan kepergian fotografer senior anggota Pesatuan Wartawan Indonesia (PWI Sulawesi Selatan seumur hidup, H.Alam Makka. Dia pergi, meninggalkan para sahabat dan handai tolannya dalam usia yang cukup sepuh, 87 tahun.
Pak Alam, begitu biasa almarhum disapa, merupakan guru dari sejumlah fotografer handal Sulawesi Selatan. M.Arfah Lewa, almarhum, dan M.Syukur Kure, termasuk orang yang menjadikan Pak Alam sebagai mentornya. Lewat Syukur Kure pulalah, Arfah Lewa yang menjadi fotografer mendiang H.M.Dg Patompo, Wali Kota Makassar/Ujungpandang selama lebih dari 10 tahun.
Bagi Arfah, Pak Alam adalah orang yang sulit dia lupakan. Masalahnya, ketika semangatnya merantau membara, Pak Alam-lah yang mampu memadamkannya. Jadilah, Arfah sebagai Mat Kodak dengan gurunya Pak Alam. Lewat Pak Alamlah, Arfah belajar ABC-nya memotret. Bahkan hingga mencuci (meng-afdruk) foto hitam putih di kamar gelap, ketika foto warna belum terbayangkan.
Pak Alam adalah wartawan foto pertama yang mengabadikan mayat Kahar Madzakkar. Dan itulah foto pertama yang diafdruk Arfah yang dijepret Pak Alam di RS RS Pelamonia. Kahar Mudzakkar yang tertembak di pinggir Sungai Lasolo, daerah Sulawesi Tenggara 2 Februari 1965 oleh seorang anggota TNI berpangkat kopral, Sadeli namanya. Prajurit itu berasal dari Kodam Siliwangi. Mayat itu oleh Panglima Kodam waktu itu, M.Jusuf, diterbangkan dengan helikopter ke Makassar.
Pak Alam adalah pendidik yang baik. Saat menilai anak didiknya sudah bisa jalan sendiri, dia mulai melepas Arfah ke lapangan. Pernah pada tahun 1968, Pabrik Semen Tonasa diresmikan. Memeriahkan pendirian pabrik semen itu, diselenggarakan lomba foto. A.Latief Makka (ALAM) dan Arfah Lewa memborong 5 nomor juara dalam lomba tersebut. Satu nomor lainnya direbut Lontara. Pak Alam menerima piala. Di antara yang menyerahkan hadiah adalah Jenderal M.Jusuf, almarhum, yang waktu itu, menjabat Menteri Perindustrian.
Kisah 1.500 zak semen
Sebagai pemenang, Pak Alam dan Arfah, memperoleh hadiah yang sangat spektakuler., 1.500 zak semen. Pak Alam pikir mau diapakan semen sebanyak itu. Ternyata Patompo, Wali Kota Makassar saat itu, mengetahui kegelisahan Alam.
‘’Semua semenmu itu, kasih kepada Pemerintah Kota,’’ kata Patompo.
‘’Terus uangnya?,’’ Alam balik bertanya.
‘’Kita beli,’’ jawab Patompo.
Semen pun dikirim untuk pembangunan tanggul Pantai Losari, seperti yang disaksikan hingga sebelum pantai itu mengalami revitalisasi seperti sekarang. Lalu, pembayaran harga semen yang 1500?
‘’Empat tahun baru lunas,’’ kenang Pak Alam hampir 40 tahun kemudian.
Habis, Patompo mencicilnya tiap tahun.
Masih terkait kisah humanis Pak Alam dengan Patompo, Andi Djamaluddin Santo punya ’bank kisah’. Suatu hari, kisah Pak Santo sebelas tahun silam kepda penulis, Pak Alam menyampaikan satu ide kepada Patompo. Dia ingin menerbitkan kalender. Seluruh halamannya berisi dan diberi ilustrasi foto hasil pembangunan Kota Makassar yang dipimpin Patompo dan sedang maju-majunya.
‘’Bagus itu, Alam. Di mana dibikin?,’’ kata Patompo dengan perasaan yang berbunga-bunga saat mendengar Pak Alam mengungkapkan rencananya.
‘’Di Jakarta, Pak. Di sini belum bisa,’’ jawab Pak Alam.
‘’Bikin saja,’’ kata Patompo lagi.
‘’Berapa banyak, Pak,’’ Alam balik tanya.
‘’Bikin 5.000 eksemplar. Biar banyak orang bisa lihat, semua sekolah dipajangi,’’ imbuh Patompo.
Hari hitung hari, minggu berbilang minggu, waktu pun berlalu sejak pertemuan itu. Tiga bulan kemudian, Pak Alam pun menelepon dari Pelabuhan Makassar. Dia baru saja merapat dengan kapal, membawa kalender pesanan Patompo. Kebetulan Andi Santo sendiri yang menerima telepon tersebut.
‘’Mana Bapak, Ndi (Andi, maksudnya kepada ‘’Andi’’ yang berarti ‘’adik’’)?,’’ tanya Andi Santo kepada salah seorang yang ada di dekat telepon.
‘’Ada di dalam,’’ jawab yang Andi Santo.
Andi Santo bermaksud memberitahu Patompo bahwa Pak Alam sudah datang dengan membawa kalender pesanan Patompo. Dia pun mengetuk pintu, melaporkan berita gembira tersebut.
‘’Engka ni Alam, Daeng’’ (Sudah ada Pak Alam, Kak),’’ jelas Andi Santo.
‘’Kegi Alam (Di mana Alam)?,’’ dari balik biliknya Patompo balik tanya.
‘’Ada di pelabuhan,’’ jawab Andi Santo.
‘’Eh,,,laoni malai? (pergilah ambil.Maksudnya, jemput dia),’’ kata Patompo.
’’Dek gaga oto (tidak ada kendaraan),’’ sambung Andi Santo.
’’Iyaro oto saliweng,’’ (Itu oto di luar),’’ Patompo memberitahu.
Mendengar perintah itu – dan karena akan membawa kalender banyak – tanpa pinggir panjang Andi Santo langsung saja ‘’menyambar’’ DD 1 UP, mobil dinas Wali Kota. Andi Santo meluncur ke pelabuhan.
Baru saja mobil bergerak di depan Taman Bahari (di lokasi Ruko di samping POPSA sekarang), ajudan Patompo, Mahmud Gading, muncul terburu-buru.
‘’Auuuiiii….. lisu ki Andi (Aiii.. pulanglah Andi). Marah Bapak, mau keluar tidak ada mobil,’’ kata Mahmud Gading dalam bahasa Bugis.
‘’Bagaimana caranya, saya disuruh ke pelabuhan,’’ Andi Santo masih berusaha berkelit, juga dalam bahasa Bugis.
‘’Pulang, pulanglah,’’ Mahmud Gading ngotot.
Andi Santo pun membatalkan rencananya ke Pelabuhan. Dia pulang. Mobil berhenti dan merapat di rumah jabatan. Ternyata Patompo sudah lebih dulu berdiri di depan pintu rumah jabatan dengan berkacak pinggang.
‘’Mengapa kau membawa mobilku,’’ kata Patompo dalam bahasa Bugis.
‘’Kan saya disuruh menjemput Pak Alam,’’ Andi Santo berusaha memberi alasan.
‘’Mu issengmua ga iya oto’E. Iye oto wali kota. Iko wali kota-ko ga.(Kau tahu. Ini mobil wali kota. Kaukah wali kota),’’ kata Patompo dengan suaranya yang khas, keras, tegas, dan melengking.***
Pak Alam pun tidak jadi dijemput.
Dalam kariernya sebagai fotografer, Pak Alam pernah ikut dalam berbagai pembuatan film di Sulawesi Selatan bersama dengan Djamaluddin Effendy. Misalnya saja, film Senja di Pantai Losari, Embun Pagi, Latando di Toraja, dan sebagainya. Pada akhir-akhir hayatnya, Pak Alam fokus pada bisnis hotel dan restoran, setelah perkara lahan di eks kebun binatang (Karuwisi) yang menyita pikirannya ;puluhan tahun lamanya, dia menangkan. Selamat jalan, senior.
Oleh;
M. Dahlan Abubakar
Ketua Forum Mahasiswa Magister (Formaster) Sulawesi Selatan - Malang