Faisal Oddang Berbagi Kisah Penyusunan Novel Puya ke Puya
Novel Puya ke Puya sebenarnyan berisi tentang sesuatu yang tidak disukai oleh Faisal Oddang, yaitu adat dan kapitalisme yang diramu dengan bumbu cinta
Penulis: Hasrul | Editor: Anita Kusuma Wardana
Laporan Wartawan Tribun Timur, Hasrul
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR --Penulis, Faisal Oddang hadir sebagai narasumber di acara Satellite Events Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) di Rumah Budaya Rumata' Jl Bontonompo 12 A Makassar, Rabu (3/11/2015).
Dalam kesempatan tersebut Faisal Oddang, lebih banyak bercerita tentang proses penyusunan novelnya yang telah memenangkan Sayembara Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014 berjudul Puya ke Puya.
Faisal Oddang berkata bahwa untuk menyusun novel Puya ke Puya, dia harus melakukan penelitian dengan berbaur langsung dengan masyarakat dan konsultasi dengan tokoh budaya.
"Dalam novel Puya ke Puya saya bahas tentang budaya, khususnya Toraja, makanya saya berbaur dan konsultasi ke pemangku adatnya, sehingga saya bermalam di Toraja selama kurang lebih satu minggu,"kata cerpenis terbaik di Harian Kompas tahun 2015 ini.
Novel Puya ke Puya sebenarnyan berisi tentang sesuatu yang tidak disukai oleh Faisal Oddang, yaitu adat dan kapitalisme yang diramu dengan bumbu cinta.
"Saya menulis sebagai bentuk kritikan saya terhadap sesuatu yang saya tidak sukai,"tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/faisal-oddang_20151103_191300.jpg)