Hari Jadi Orang Sulawesi Selatan
semangat kenegarawanan seorang Jenderal HZB Palaguna, terjadi pada acara seremonial “Penetapan 19 Oktober 1669 sebagai Hari Jadi Sulsel”...
BEGITU pawai gerak jalan lewat di depan rumah kami, saya tanyakan dalam rangka apa? Si Panji, puteraku, bilang, “Ini kan Hari Jadi Sulawesi Selatan, Ayah…!!!” Diucapkan dengan gaya menyentak, yang kemudian saya ekspresikan dengan simbol tiga tanda seru tadi, untuk melukiskan betapa kesalnya dia melihat ayahnya yang naif ini. Salah satu kelemahan saya, karena termasuk orang yang tidak terlalu gampang ingat angka, termasuk tanggal. Ingatan ini, biasanya hanya tersangkut pada peristiwa.
Oh, ya? Karena, melalui pesan grup BBM sore ini, saya hanya diingatkan bahwa yang ulang tahun itu Andi Fauziah Pujiwatie Hatta, adik sepupu saya yang kini jadi anggota DPR/MPR yang kemarin ikut melantik Jokowi sebagai Presiden RI ke-7. Ternyata memang ada dua peristiwa hari jadi penting yang harus saya ingat pada hari ini. Mengapa? Satu hari jadi seorang adik sepupu yang saya sayangi, sedangkan yang satunya hari jadinya orang Sulsel.
Apakah benar Sulsel lahir pada 345 tahun yang silam? Tentu saja ini bisa diperdebatkan, jika kita punya motif bersitegang urat leher. Debat seperti itu memang pernah sangat kuat aromanya sebelum Gubernur Sulsel HZB Palaguna berinisiatif memprakarsai Seminar Hari Jadi Sulawesi Selatan untuk menemukan ikon guna mempersatukan warga dan komunitas orang Sulsel yang selama ini kompleksitasnya dimitoskan secara begitu sederhana.
Sekali lagi, jangan tanyakan waktu persisnya, karena pasti lupa. Seingat saya, saat menghadap Gubernur Palaguna mendampingi Ketua Panitia Seminar, Andi Syamsul Alam Mallarangeng, dikenal dengan panggilan Andi Ancu yang menjabat Kepala PDE Provinsi Sulsel ketika itu, gubernur yang terkenal sangat berwatak kultural ini berkenan menugaskan saya membantu menyukseskan seminar tersebut. “Yayath, sebagai anak muda, kamu harus ikut berperan mempersatukan perbedaan,” katanya sungguh-sungguh.
Sekeluar dari ruang kerja gubernur, saya bisikkan kepada Andi Ancu, bahwa tantangan terberat datangnya dari politisi. Lelaki yang pernah menjadi Sekda Parepare ini celingukan menatap saya. “Kenapa bisa begitu? Bukankah seminar ini ranahnya para cendekiawan dan budayawan?” sergahnya. Sambil menyodorkan nama-nama ilmuwan sosial dan budayawan ternama, Andi Ancu menugaskan saya untuk menghubungi para pesohor tersebut meminta kesediaan menjadi narasumber. “Bagaimana? Bisaji to, Ndi,” tanyanya ragu dengan logat Bugisnya. Saya tersenyum mengangguk. Dalam benak saya, menghadapi para cendekiawan, jauh lebih sederhana, dibanding berurusan dengan politisi. Satu per satu, tugas saya jalankan. Hasilnya? Tentu saja positif.
Pendekatan Kultural
Gubernur Palaguna, tampaknya tidak dapat menyembunyikan rasa gembiranya, ketika seminggu sebelum hari pelaksanaan seminar, kami berdua melaporkan perkembangan. “Apakah benar semua mau datang? Pengalaman selama ini, beliau-beliau itu susah diajak bertemu satu meja,” tanyanya bergumam. Saya jawab, “Siap, Pak Gubernur!”
Untuk mengurangi kadar ketidakpercayaan mantan Panglima Kodam Hasanuddin ini, saya sampaikan, kata kunci yang diberikan Pak Gubernur lah yang membuat hati para pesohor itu mencair. Apa itu? Dengan sedikit malu-malu, saya ungkapkan bahwa panggilan “anak muda” kepada saya waktu beliau menugaskan kami itulah yang menjadi inspirasi untuk digunakan menyentuh nurani para profesor dan cerdik pandai.
“Mohon maaf Pak Gubernur, saya sampaikan kepada beliau-beliau bahwa berikanlah contoh kepada kami yang muda-muda ini, tentang bagaimana berbeda pendapat tapi tidak saling bermusuhan secara pribadi. Sebagai orang muda, kami ingin sekali melihat perbedaan itu disampaikan secara bermartabat dalam forum terhormat yang diinisiasikan Pak Gubernur,” ungkap saya membeberkan.
Selanjutnya, saya laporkan kepada Gubernur, bahwa saya datang bertamu ke kediaman beliau-beliau pada saat fikirannya masih fresh, yaitu pagi-pagi buta usai Salat Subuh. “Selain itu, sebagai anak muda yang mengenyam pendidikan tinggi, saya juga merasa sangat yakin Pak Gubernur, bahwa sepanjang yang kita mintakan kepada para cendekiawan seperti itu bersifat intellectual exercise dan alurnya academic-driven, pastilah beliau-beliau tidak punya alasan untuk menghindar,” tukas saya mantap.
Sempat saya lirik, secuil senyum kecil dan cerah di wajah garang sang jenderal. Lantas saya timpali dengan tambahan penutup, “Tugas saya sudah selesai, Pak Gubernur. Yang masih tertinggal, adalah mengajak para politisi untuk ikut berpartisipasi. Mohon maaf, Pak Gubernur, ini yang menurut hemat saya agak berat…..” seraya melirik Pak Andi Ancu. Namun, dengan secepat kilat, Pak Gubernur memotong tegas, “Itu urusan Gubernur, Yayath….”
Alhasil, seminar berlangsung dinamis, dihadiri oleh seluruh pihak yang berkompeten. Hasilnya, menyepakati 19 Oktober 1669 sebagai Hari Jadi Sulawesi Selatan.
Menjadi Dirijen
Sebagai penutup, sekelumit tercatat aksiden kecil yang menggugah semangat kenegarawanan seorang Jenderal HZB Palaguna, terjadi pada acara seremonial “Penetapan 19 Oktober 1669 sebagai Hari Jadi Sulsel” yang berlangsung di ruang pola Kantor Gubernur, seusai seminar yang melelahkan itu. Sebagai bagian dari panitia, kami merasa telah berusaha mempersiapkan acara tersebut dengan sangat baik.
Ruang penyelenggaraan acara puncak itu telah dipadati undangan yang dianggap mewakili seluruh komponen masyarakat. Begitu, acara sudah diyakini siap dimulai, saya pun menempati posisi di samping protokol acara, dimana saya bertugas sebagai pendamping untuk memberi tanda peralihan acara demi acara, sebagaimana yang telah kami rancang dalam gladi resik sore hari kemarinnya.
Begitu Gubernur menganggukkan kepala, sesudah saya pamit memberi tanda santun meminta persetujuan untuk bisa segera memulai acara, petugas perempuan pembawa acara yang berdiri di samping saya meraih gagang pengeras suara dan memulai tugasnya. Dalam keheningan suasana, saya baru merasa ada sesuatu yang salah, persis setelah pembawa acara dengan lantang mengucap kalimat, “Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, hadirin dipersilahkan untuk berdiri……….”.
Terasa waktu berdetak, namun anehnya, tidak ada pergerakan lebih lanjut. Saya menengok ke tempat dimana seharusnya dirijen berdiri, untuk bertugas memandu korsik dan kelompok paduan suara, terpadu untuk bersama-sama hadirin menyanyikan lagu keramat kita itu. Tampak belum ada pergerakan sama sekali.
Maka, entah dorongan apa yang telah membuat saya berinisiatif membuat hitungan sendiri…..satu….dua....tiga, emm….pattt. Hups…… tiba-tiba, saya melangkah dengan tak ragu-ragu sama sekali ke tempat yang disediakan khusus untuk sang dirijen. Wow, saya angkat tangan tinggi-tinggi, seperti mencorat-coret angkasa dengan hitungan palu empat perempat. Byarrr, Lagu Indonesia Raya berkumandang seakan berjalan dengan sendirinya sampai selesai.
Begitu selesai, saya pun melangkah kembali ke tempat semula. Di situlah baru terasa kegamangan yang luar biasa. Rupanya, sang dirijen yang barusan saya ambil alih tugasnya, memang tidak hadir. Kami pun, alpa untuk mengecek keberadaannya sebelum acara dimulai. Dalam galau, kita berharap hadirin tidak mengetahui kesalahan yang terjadi, meskipun tidak yakin benar bahwa hadirin tidak menyadari kekacauan yang hampir berakibat “fatal abis” itu.
Karena nelangsa, acara demi acara berlangsung, tak saya perhatikan lagi. Serta merta, ada perasaan sangat bersalah yang sangat dalam, karena tidak melakukan kontrol persiapan secara cermat, meskipun itu bukan tugas pokok saya saat itu. Namun, begitu memasuki jeda acara untuk istirahat, tiba-tiba saya melihat dari jauh, Pak Gubernur Palaguna menggapaikan tangan.
Saya pun menghampiri Gubernur yang sedang berdiri dalam kumpulan para Muspida, setidaknya untuk mengucapkan kata “Siap, Salah” kepada beliau. Tetapi, apa yang terjadi? Dengan tidak terduga, dengan sikap yang sangat ramah pak Palaguna menyodorkan tangannya untuk saya jabat. “Itu baru anak muda hebat. Yayath, kalau kamu tadi tidak ambil alih, saya yang akan turun memimpin lagu kebangsaan kita. Kita tak boleh main-main dengan simbol kenegaraan kita,” katanya dalam semangat militer yang kental.
Saya pun hanya bisa tersipu malu, disambut dengan gelak tawa para muspida yang tampaknya sepakat dengan pernyataan Pak Gubernur. Kembali saya bayangkan, betapa “sentris”nya saya pada saat kecelakaan itu terjadi. Ternyata seluruh hadirin, juga merasakan ketegangan yang amat sangat. Cuman, celakanya, saya merasa paling bertanggungjawab. Lagipula, memang saya terposisikan paling dekat dengan upaya penyelamatan situasi. Meskipun, saya juga menyadari, bahwa untuk pertama kali dalam hidup ini, saya menjadi dirijen lagu kebangsaan di forum yang segitu besarnya. Terima kasih Pak Gubernur, terima kasih Pak Palaguna, atas karya pemersatunya.(*)
Oleh:
Moch Yayath Pangerang
Pemerhati sosial budaya, mantan Sekretaris Jenderal Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS)