Apakah Itu Pedophilia?
Belakangan ini banyak kasus yang terjadi dengan menyebut-nyebut nama Pedophilia.
Dr Krafft Ebing yang pertama kali meluncurkan istilah pedophilia erotica di kalangan kedokteran mengaku hanya bertemu dengan empat pasien pedophilia sepanjang karirnya dan dia menggambarkan pasien-pasiennya itu dengan tiga sifat yang serupa, yaitu pertama pedophilia itu karena bakat, bawaan, bukan karena pengaruh lingkungan. Kedua, ketertarikan subyek adalah lebih kepada anak-anak, ketimbang pada orang dewasa, dan ketiga, perilaku yang ditunjukkan bukan hubungan kelamin, melainkan hanya menyentuh-nyentuh dan memanipulasi anak untuk melakukan sesuatu. Dia juga menyatakan bahwa pedophilia perempuan sangat jarang dan begitu juga anak laki-laki yang disalahgunakan secara seksual oleh homoseksual. Tentu saja pendapatnya ini tidak sesuai dengan keadaan sekarang di mana sudah makin banyak terungkap kasus pedophilia homoseksual laki-laki.
Sigmund Freud, penemu aliran psikoanalisis, justru berbicara sedikit saja tentang pedophilia yang disampaikannnya dalam bukunya Three Essays on the theory of Sexuality (1905, diterjemahkan: 1962). Ia menyatakan bahwa pedophilia eksklusif sangat jarang. Dikatakannya bahwa anak-anak praremaja yang menjadi obyek pedophilia dijadikan sasaran oleh orang-orang lemah yang mencari obyek pengganti, atau oleh orang-orang yang naluri seksualnya tak terkendali dan ingin pemuasaan seketika padahal tidak bisa menemukan obyek yang lebih pantas.
Seorang pakar anatomi syaraf berbangsa Swiss, Auguste Forel, menulis tentang gejala ini dan menyebutnya sebagai Pederosis, atau "selera seksual pada anak-anak". Sama seperti Krafft Ebing, Forel membedakan antara pelecehan seksual yang sesekali dilakukan oleh penderita dementia (kemunduran fungsi otak karena usia atau penyakit) dan hasrat seksual yang eksklusif terhadap anak-anak. Tetapi ia tidak sependapat dengan Ebing bahwa pederosis eksklusif adalah bawaan sejak lahir dan tidak bisa diubah.
Sementara itu penelitian psikologi biasanya merujuk pada faktor perkembangan psikologi seseorang sejak masa kecilnya. Lussier dan kawan-kawan (2005), misalnya, menemukan bahwa kelainan dalam kecenderungan ketertarikan seksual pada anak-anak ada kaitannya dengan pengalaman masa anak-anaknya, yaitu jalur kekurangan psikososial (psychosocial defisit pathway) seperti kurang perhatian dari orang tua, hubungan yang tidak baik dengan ayah dll, akan terkait dengan gejala pedophilia yang tidak melibatkan kekerasan, sedangkan jalur pelecehan seksual pada masa anak (sexual pathway) akan terkait dengan gejala pedophilia dengan kekerasan.
Jika penelitian Lussier dkk adalah tentang pelaku pedophilia, penelitian Tidefors dkk (2011) adalah tentang korbannya, yaitu 45 remaja laki-laki di Swedia yang pernah mengalami pelecehan seksual. Sejumlah remaja laki-laki lain yang non-korban juga diteliti dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama sebagai kelompok pembanding.
Hasilnya adalah bahwa pada kelompok korban pedophilia sering dijumpai masalah keluarga dan tidak diabaikan dalam keluarga. Perceraian orangtua, hidup dalam lingkungan keluarga besar, atau di panti-panti asuhan juga lebih banyak terjadi pada kelompok korban. Skor mereka lebih tinggi ketimbang kelompok non-korban dalam tes-tes tentang kemarahan, depresi, dan perilaku yang mengganggu. Kelompok korban juga memperlihatkan keinginan untuk bisa tampil lebih positif, tetapi mereka tidak terbuka dalam hal-hal yang menyangkut seksualitas.
Tentunya, sebagaimana akan kita lihat dalam kasus-kasus di Indonesia, tidak semua temuan dari luar negeri itu sama dengan realita di Indonesia. Misalnya, hidup dalam lingkungan keluarga besar, bukan hal yang aneh atau jarang terjadi di Indonesia. Walaupun demikian, tetap masih ada persamaan antar korban di manapun di seluruh dunia, yaitu korban menunjukkan lebih banyak gejala gangguan seperti depresi, pemarah dsb. (Bertha Sekunda/dikutip dari berbagai sumber & Sarlito Sarwono)