Perempuan dan Kritik Karl Marx
Tentu perempuan sangat membantu perputaran perekonomian ketika dibawa keluar dari ranah domestik (rumah tangga).
IBU, itu sapaan yang memuliakanmu wahai perempuan….
Perempuan dalam sejarah geraknya dari ranah domestik (rumah tangga) keluar ke ranah sosial tidak terlepas dari pengaruh gerakan “gender” yang menuntut kesetaraan peran sosial antara laki-laki dan perempuan, karena di anggap selama ini perempuan termarjinalkan (terpinggirkan) dalam peran sosial.
Gender merupakan gerakan sekaligus ideologi yang terilhami dari analisis strukturalisme Karl Marx yang menyatakan bahwa dalam struktur sosial laki-laki berada pada struktur atas dan perempuan berada ada struktur bawah. Marx melihat potensi sosial perempuan sebetulnya besar tetapi terhalangi oleh budaya patriarki (budaya egoisme laki-laki) yang selalu mengambil alih peran-peran sosial dan menyerahkan peran domestik sepenuhnya kepada perempuan.
Marx melihat dua potensi besar perempuan yang sayang kalau tidak diberdayakan. Pertama, perempuan konsumen loyal ( memiliki kebutuhan ekonomi terbanyak). Kedua, perempuan sales potensial (potensi perempuan dalam penjualan mampu meningkatkan nilai jual produk).
Contoh: Rokok seharga Rp 15 ribu mampu dijual seharga Rp 100 ribu. Tentu perempuan sangat membantu perputaran perekonomian ketika dibawa keluar dari ranah domestik (rumah tangga). Perempuan harus dikeluarkan dari wilayah domestik. Akan tetapi, mengeluarkan perempuan dari keterlenaannya dalam urusan rumah tangga merupakan kendala utama.
Karena itu, perlu penyeragaman pemikiran kaum perempuan agar sadar dengan potensi sosialnya. Hadirlah ideology ‘gender; sebagai solusi untuk mengeluarkan perempuan dalam kondisi itu. Dengan pendekatan bahwa ‘kodrat’ adalah potensi yang tidak bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan yang berada pada wilayah ini hanya reproduksi atau kelamin biologis saja).
Sedangkan ‘gender’ adalah potensi yang bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan (potensi feminin/maskulin, potensi atau fungsi lain yang bisa saling dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan sering disebut kelamin sosial karena dipengaruhi oleh lingkungan sosial).
Jadi, doktrinnya adalah memasak, mencuci, jaga anak (pekerjaan rumah tangga lainnya) bukan kodratnya perempuan karena itu merupakan peran yang bisa dipertukarkan dengan laki-laki. Kodratnya perempuan hanya melahirkan dan menyusui. Itulah semangat awal ‘gender’ yang luar biasa pengaruhnya dalam menyadarkan perempuan dalam peran sosialnya.
Peran Ibu
Pertanyaannya kemudian apa dan di mana peran ibu? Apakah Ibu hanyalah sapaan biasa bagi perempuan yang telah melahirkan? Apakah peran ibu dengan ayah sama selain melahirkan dan menyusui?
Perempuan merupakan manifestasi Tuhan yang paling sempurna karena dianugrahi rahim sebagai manifestasi pencipta. Peran pencipta tidak lantas selesai setelah mencipta. Karena ciptaan masih banyak kebutuhan terhadap Penciptanya.
Ibu memiliki ikatan erat dengan sang anak kerena terlahir dari rahimnya. Perempuan sebagai manifestasi Rahim (penyayang) sangat dibutuhkan dalam rumah tangga sebagai madrasah.
Aktivitas eksternal terbentuk karena aktivitas internal. Peran sosial kekuatannya dari peran domestik. Tujuan menikah adalah regenerasi. Jadi ketika tujuan (regenerasi) itu telah tercapai, jangan sia-siakan generasi kita.
Kelamin sosial
Tujuan pernikahan sesungguhnya adalah perbaikan domestik (rumah tangga) yang sakinah mawaddah warahmah. Aktivitas sosial hanyalah pendukung agar tujuan tersebut tercapai. Jadi jangan sampai aktivitas sosial yang merusak rumah tangga kita.
Betul bahwa kodrat laki-laki dan perempuan hanya pada kelamin biologis…
Betul bahwa potensi sosial antara laki-laki dan perempuan sama. Tapi, jangan lupa tujuan kita berumah tangga.
Sesungguhnya, ibu itu sapaan yang memuliakanmu wahai perempuan! (*)
Oleh:
Asmayanti Jibril
Ketua Umum Kohati HMI Cabang Makassar