Pak Ogah Jl Hertasning Dapat Rp 6 Juta Sebulan
Ingin berpenghasilan setara gaji kepala dinas level provinsi? Jadilah Pak Ogah
Penulis: Ilham Arsyam | Editor: Muh. Taufik
Ini bukan main-main.
Sedangkan, pendapatan Pak Ogah di U Turn, Jl Hertaning Raya, tepatnya di depan SPBU Hertasning dan depan kantor PT Perum Perumnas Regional VII Makassar, bisa mencapai Rp 200 ribu sehari atau setara Rp 6 juta sebulan.
Akhir pekan dan Senin (3/9/2012) kemarin, Tribun mencoba mengamati aktivitas Pak Ogah di spot yang jadi putaran kendaraan dari utara Jl Toddopuli Raya yang akan ke Jl Toddopuli, atau ke Jl Hertasning.
Di titik ini, Pak Ogah mulai beroperasi antara pukul 09.00 hingga sekitar pukul 21.00 wita, malam hari.
"Pagi-pagi di sini ada polisi. Setelah polisinya pergi mereka baru datang," ujar Adnan, salah satu tukang bentor yang kerap mangkal di sekitar daerah tersebut.
Adnan tak menyangkal jika ada juga tukang bentor yang nyambi sebagai Pak Ogah. Lanjutnya, para Pak ogah ini jaga bergiliran, siang, sore dan malam hari. "Satu titik belokan bisa sampai 10 orang per harin," katanya.
Bagaimana dengan penghasilan? Ternyata, pendapat pengganti polisi lalu lintas dan traffick light (lampu merah) ini bisa menjadi sandaran hidup bagi beberapa orang.
Bayangkan setiap Pak Ogah bisa memperoleh penghasilan Rp 200.000 per harinya per orang. Artinya, jika yang ada 10 Pak Ogah yang bekerja aplosan,
dan bisa mendapatkan Rp 6 juta.
Durasi kerja mereka, 12 jam, atau empat jam lebih lama dibandingkan jam kerja yang disyaratkan otoritas tenaga kerja dan Jamsostek.
Artinya jika satu pak ogah berjaga 5 jam perharinya berarti setiap jamnya satu orang bisa mendapat minimal Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu.
"Pokonya lebih tinggi dari juru parkir," tambah Adnan. Malah, pendapatan tersebut akan meningkat pada jam-jam macet seperti pagi dan sore hari.
Sebenarnya, tugas sebagai pak ogah hanyalah sampingan. Di belokan jalan Sultan Alauddin, di depan warung coto daeng, orang yang bertugas sebagai pak ogah adalah tukang becak. Mereka juga bergantian. Alasannya, tak ada yang bisa bertahan seharian penuh terpanggang matahari.
Sementara itu, hasil pantauan Tribun di Jl AP Pettarani dari 10 titik pembelokan tak ada satupun Pak Pgah di sana. "Mungkin Polisi yang larang," ujar Asri salah satu, penjaga kedai pulsa handphone.
Sepintas penampilan mereka rapi. Baju kaos dipadu dengan celana jeans lengkap dengan sepatu kulit hitam. Tas selempang menggantung di bahu kirinya. Mirip mahasiswa.
Usianya juga masih muda kisaran 20-25 tahun. Kadang ada yang usai di bawa 17 tahun. Pria ini sibuk mengatur lalu lintas di sebuah belokan di jalan Hertasning, tepatnya di depan kantor Dinas Pendidikan Kota Makassar.
Dengan bermodalkan sebuah peluit tugasnya mirip polisi lalu lintas, hanya mereka tak dilengkapi seragam khusus. Ia lebih dikenal sebagai pak ogah. Sebuah julukan yang terbilang baru ditelinga warga kota Makassar. Pak ogah sebuah status tak resmi, namun begitu menjamur di jalan-jalan kota Makassar akhir-akhir ini.
Di Jl Hertasning sedikitnya ada tiga titik belokan. Di setiap titik tersebut ada dua pak ogah. Keduanya berbagi masing-masing satu sisi.
Pak Ogah tak meminta bayaran dalam usahanya mengatur lalu lintas tersebut hanya saja ia juga tak menolak jika diberi imbalan. Berbeda dengan usaha jasa lainnya seperti juru parkir (Jukir) pak ogah tak menetapkan tarif. Namun warga sepertinya sudah paham khususnya bagi pengendara mobil, mereka menyodorkan uang lembaran seribuan, dua ribuan bahkan lima ribuan sebagai ucapan terima kasih.(*)