Orang Pendek di Pegunungan, Rekayasa atau Misteri?
bisa jadi, sosok orang pendek itu dari dulu sengaja diciptakan untuk melindungi kekayaan hutan
Menurut Freeman, ini adalah keempat kalinya sejak tahun 2003 ia kembali ke hutan Kerinci untuk melacak makhluk yang disebutnya ”short man.” Ia membagi timnya menjadi dua. Satu tim melacak jejak di kawasan hutan Danau Gunung Tujuh, satu lagi di kawasan perladangan di tepian hutan.
Dari laporan warga sekitar disebutkan, makhluk ini beberapa kali terlihat merusak tanaman warga, terutama tebu. Dari laporan Freeman yang juga dimuat di The Guardian, 7 Oktober 2011, belum ada kesimpulan jelas tentang keberadaan ”orang pendek.”
Ia menyebut, jebakan kamera yang dipasangnya hanya menangkap gambar hujan, serangga, dan burung. Jejak rambut yang ditemukan, katanya, akan diuji DNA. Namun, sampai sekarang belum ada kelanjutan kabar dari Freeman.
Ada tidaknya ”orang pendek” di Kerinci tetap menjadi kontroversi. Banyak yang meyakini keberadaannya, sebanyak yang menilai hal itu sebagaimana fantasi tentang yeti, manusia salju dari Himalaya, atau alien dari luar angkasa.
Rekayasa
Jauh sebelum Marsden
menulis soal orang pendek, penjelajah Italia, Marco Polo, yang datang ke
Sumatera pada tahun 1290-an mengisahkan tentang orang pendek. Menurut
Marco Polo, orang pendek ini hanya rekayasa dan diciptakan manusia.
Menurut catatan Marco Polo, dalam buku The Travel of Marco Polo (1926),”...orang pendek atau yang sering dibawa ke India diciptakan di pulau ini (Java Minor atau Sumatera).”
Marco kemudian menjelaskan bagaimana membuat orang pendek itu. ”Ada semacam monyet (orang utan?) di Sumatera yang ukurannya sangat kecil dan berwajah seperti manusia. Ekor monyet ini kemudian dipotong dan seluruh bulunya digunduli dengan menggunakan sejenis salep.”
”Kemudian mereka menempelkan rambut panjang ke dagu monyet sebagai pengganti jenggot, memasukkan rambut tersebut melalui pori-pori kulit, sehingga ketika monyet itu mengerut pori-pori akan menyusut dan rambut tersebut tampak tumbuh alami. Kaki, tangan, dan anggota badan lain yang tidak sesuai dengan bentuk manusia direntangkan, ditegangkan, dan dibentuk ulang dengan tangan agar menyerupai manusia.”
Marco Polo melanjutkan kisahnya, ”Tubuh-tubuh monyet tersebut lalu dikeringkan dan dibalsem dengan kapur barus serta obat-obatan lain sehingga tampak seperti manusia. Semua itu adalah tipuan. Karena tidak ada satu pun tempat di seluruh India atau wilayah lain seliar tempat ini pernah ditemukan manusia begitu kecil.”
Catatan Marco Polo tentang orang pendek ini memang secara gamblang membantah tentang keberadaan sosok pigmi yang rupanya sudah tersiar luas sejak awal abad ke-13. Ketika nyaris tak ada lagi lekuk hutan Sumatera yang belum dijelajahi, kisah perburuan tentang keberadaan orang pendek ini menjadi semakin sulit dipertahankan.
Tetapi, bisa jadi, sosok orang pendek itu dari dulu sengaja diciptakan untuk melindungi kekayaan hutan di jantung Sumatera. Dengan cara yang sama, kisah tentang kanibalisme orang-orang pedalaman Sumatera yang disebutkan Marco Polo dan sejumlah penjelajah lain, telah melindungi sumber emas di Bukit Barisan selama berabad-abad lamanya.
Seminggu lebih menjelajah hutan di Gunung Kerinci, Gunung Tujuh, dan Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat, kami hanya ketemu tupai tanah, ayam hutan, sejumlah burung, berbagai jenis monyet, dan yang paling mencolok: perambahan yang semakin jauh masuk ke pedalaman hutan.
Sore itu gerimis, ketika kami menuruni puncak Gunung Kerinci. Secara tak sengaja kami melihat-lihat jejak yang ada di jalan setapak. Sebuah jejak terlihat. Jejak bercakar!
Midun (28), pemandu jalan, warga Kersik Tuo, menyebut jejak itu sebagai jejak harimau. Jejak itu membuat kami berusaha ngebut menuruni lereng Kerinci. Tak peduli lagi tentang kontroversi ”orang pendek”, biarlah tetap menjadi misteri....(*)