Opini
Stop Plagiat
merevolusi akses publik karya tulis dan kontrol teks kesusastraan yang pada saat itu sangat ketat dikendalikan oleh dewan gereja.
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ridwan Putra
Andi Anto Patak
Dosen Business English FBS UNM
SEJARAH singkat lahirnya istilah plagiarism dalam menulis
Pada tahun 1450, Gutenberg dengan “Printing Press”nya merevolusi akses publik karya tulis dan kontrol teks kesusastraan yang pada saat itu sangat ketat dikendalikan oleh dewan gereja.
Dua ratus lima puluh lima tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 1675, lahirlah “Licensing Act” yang mengontrol ledakan publikasi. Hampir tiga dekade berikutnya, yakni pada tahun 1704, Sembilan koran diterbitkan di kota London. Selang lima tahun berikutnya, untuk pertama kalinya “Philosophical Transaction Journal” diterbitkan oleh the Royal Society of London. Setahun kemudian, pikiran dan gagasan pribadi diakui secara resmi sebagai "Property". Pada tahun yang sama, lahirlah “England's Statute of Anne” yang mengakui “authorial rights” yang menandai lahirnya “copyrights law”. Pelanggaran terhadap “copyrights law” inilah yang menjadi gagasan munculnya istilah plagiarism (Sutherland-Smith, 2008, p.37-41).
Berhentilah memplagiat karya orang lain
Tidaklah mudah menghentikan budaya plagiat. Hal pertama yang harus diubah adalah persepsi masyarakat terdidik tentang plagiarism. Masih banyak yang memaknai “plagiarism” sebagai “imitation”tindakan peniruan. Padahal, kedua istilah ini mirip secara kasat mata tetapi pada hakikatnya berbeda. Plagiarism merupakan tindakan penculikan hak intelektual, sementara imitation adalah peniruan yang secara alami dimulai sejak manusia dilahirkan. Persepsi keliru ini telah mengkristal dalam mindset kaum intelektual di negara miskin dan berkembang.
Maka tidak heran kalau ditemukan banyak akademisi yang melakukan plagiat di negeri ini. Bahkan, tidak sedikit professor dan calon professor yang belakangan ini terjerat dalam kasus yang memalukan ini. Persepsi yang keliru ini telah menjadi pola pikir sehingga mempengaruhi munculnya sikap masa bodoh yang pada akhirnya menciptakan budaya “copy and paste”.
Mereka yang terjerat dalam kasus ini sibuk mencari kambing hitam. Ada yang beralasan tidak sengaja, dikejar deadline dan sejumlah alasan klasik lainnya untuk sekadar justifikasi. Apapun alasannya, plagiarism merupakan tindakan melawan hukum.
Tidak bisa dipungkiri bahwa terbatasnya bahan bacaan dan kurangnya pengetahuan akan teknologi informasi memperparah tindakan plagiat. Harus diakui bahwa tanpa dukungan fasilitas akses buku dan jurnal terbaru yang memadai, budaya plagiat sangat sulit dihindari apalagi dihentikan. Namun demikian, kita tidak boleh larut saling lempar tanggungjawab.
Setelah persepsi kita sudah tidak keliru lagi memaknai plagiat dan berusaha untuk belajar teknologi informasi, barulah tiba saat yang tepat menghentikan budaya plagiat. Hal ini penting untuk mendorong budaya merangkai kata demi kata yang melahirkan gagasan original. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan publikasi karya ilmiah tanpa kekhawatiran akan terjerat kasus plagiat.
Di tengah keterbatasan buku terbaru di perpustakaan dan keengganan kampus berlangganan ejournal dan ebook terkenal, tidak boleh membuat langkah kita surut untuk menghentikan budaya plagiat. Sekurang-kurangnya, ada tiga jenis layanan dengan kualitas terjamin yang mahasiswa bisa akses untuk memulai budaya menulis karya ilmiah original.
Layanan pertama adalah layanan sumber bacaan online, seperti: http://scholar.google.co.id, www.doaj.org, dan http://www.eric.ed.gov.
Google Scholar
Layanan ini memungkinkan kita melakukan search teks dalam berbagai format publikasi. Layanan ini dilaunch pada tahun 2004 dengan indeks yang mencakup e-journal. Google scholar menyediakan cara mudah untuk mencari literatur akademik. Semua disiplin ilmu tersedia referensinya dengan lengkap. Makalah, thesis, buku, abstrak, dan artikel, dari penerbit akademis, komunitas profesional, universitas, dan organisasi akademis lainnya dapat diakses di layanan ini.
Google scholar sangat membantu usernya untuk mengidentifikasi mencari referensi yang paling relevan dari berbagai hasil penelitian akademis. Layanan google ini bertujuan menyusun artikel seperti yang dilakukan seorang peneliti. Kelengkapan teks setiap artikel, penulis, penerbit yang menampilkan artikel, dan frekuensi penggunaan kutipan artikel dalam literatur akademis lainnya adalah prioritas layanan ini. Olehnya itu, hasil paling relevan dengan keyword yang diketik di search enginenya akan selalu muncul pada halaman pertama.
Sayang sekali, referensi di Google Scholar umumnya tidak bisa didownload kalau kampus tidak berlangganan dengan e-journal dan e-book terkenal.
DOAJ(Directory of Open Access Journals)
Open Society Institute (OSI) yang mendanai banyak proyek open access pasca the Budapest Open Access Initiative (BOAI). Direktori adalah salah satu proyek yang didanai oleh OSI. Setelah berlangsung the Nordic Conference on Scholarly Communication, Lund University diberi kepercayaan untuk menset-up dan mengelola DOAJ.
Direktori ini bertujuan untuk meningkatkan visibilitas dan kemudahan mengkases jurnal ilmiah. Direktori ini mencakup semua jurnal ilmiah akses terbuka. Kualitasnya tidak perlu diragukan karena menggunakan sistem jaminan kontrol kualitas.
Direktori jurnal akses terbuka ini menggunakan model pendanaan yang tidak membebankan pembaca atau lembaga untuk mendapatkan hak akses. Setiap user berhak mendownload, menggandakan, menyebarluaskan, dan mencetak artikel dengan gratis dari direktori ini. Link: www.doaj.org.
ERIC(Education Resources Information Center)
Layanan ini adalah perpustakaan digital online yang mencakup hasil penelitian di bidang pendidikan. ERIC disponsori oleh the Institutes of Education Sciences (IES) Departemen Pendidikan Amerika Serikat. Koleksi ERIC dimulai pada tahun 1966, berisi catatan untuk berbagai jenis publikasi, mencakup artikel jurnal, buku, hasil penelitian, makalah konferensi, laporan teknis, disertasi, makalah tentang kebijakan publik, dan berbagai literatur berkenaan dengan pendidikan lainnya.
Layanan ini bertujuan untuk menyediakan akses mudah dan pencarian referensi yang komprehensif. ERIC terus mengeksplorasi pendekatan baru untuk meningkatkan dan memperluas layanan kepada masyarakat pengguna. Melalui upaya kolaboratif dan dengan feedback oleh komunitas pengguna ERIC, program ERIC terus meningkatkan layanan online, memperluas akses ke teks lengkap dan meningkatkan jumlah sumber jurnal dan non-jurnal terindeks.
ERIC menyediakan akses lebih dari 1,3 juta catatan daftar pustaka (kutipan, abstrak, dan data terkait lainnya) dari artikel jurnal yang berhubungan dengan materi pendidikan dengan ratusan catatan baru ditambahkan setiap minggu. Komponen kunci ERIC adalah koleksi “grey literature” di bidang pendidikan. Istilah “grey literature” digunakan oleh komunitas intelektual, pustakawan, dan medis serta peneliti profesional untuk merujuk kepada intisari sebuah literatur yang tidak dapat ditemukan dengan mudah melalui jalur konvensional. Umumnya, tersedia dalam teks lengkap dalam format Adobe PDF. Sekitar seperempat dari koleksi lengkap ERIC, tersedia dalam teks lengkap. Literature yang tidak memiliki teks lengkap, terutama artikel jurnal dapat diakses menggunakan link ke penerbit atau perpustakaan.
Layanan yang kedua adalah layanan deteksi plagiat.
Deteksi plagiat adalah proses menemukan kasus plagiat dalam karya ilmiah atau dokumen. Meluasnya penggunaan komputer dan munculnya Internet telah membuat siapa saja lebih mudah menciplak karya orang lain. Sebagian besar kasus plagiat ditemukan di dunia akademik, baik dalam bentuk essay maupun laporan. Namun, plagiat dapat ditemukan di hampir semua disiplin ilmu, seperti seni desain.
Deteksi dapat dilakukan baik secara manual maupun dengan bantuan komputer. Deteksi manual membutuhkan kerja keras. Sangat tidak praktis dalam kasus di mana terlalu banyak dokumen yang harus dibandingkan. Apalagi, dokumen asli tidak tersedia untuk dibandingkan. Bantuan software pendeteksi memungkinkan dilakukannya deteksi originalitas dokumen digital yang akan dibandingkan satu sama lain.
Mahasiswa yang kuliah di pergurua tinggi yang belum berlangganan software deteksi plagiat yang popular saat ini, seperti “Turnitin”, boleh mencoba alternative lain. Website deteksi plagiat yang dapat diakses gratis, seperti: http://www.dustball.com/cs/plagiarism.checker/ (versi berbayarnya maksimal dalam mendeteksi plagiarism) dan www.paperrater.com (belum ada versi premiumnya alias hanya versi gratisan yang dapat diakses dengan fitur basic).
Namun demikian, kedua website ini sangat membantu dalam mendeteksi indikasi plagiat ketika seorang mahasiswa atau peneliti sedang menulis. Namun, ada perbedaan mendasar kedua layanan ini. dustball.com memiliki fitur untuk mendeteksi plagiat semua bahasa, sedangkan paperrater.com hanya dapat melacak plagiat paper yang berbahasa Inggris. Paperrater.com memiliki beberapa fitur tambahan, seperti: grade otomatis, spelling dan deteksi grammar, analisis pilihan kata dan gaya penulisan, readability statistics, validasi judul, dan vocabulary builder tool.
Layanan yang ketiga adalah layanan free PDF reference manager.
Mendeley adalah website yang diperuntukkan untuk mengelola dan berbagi makalah penelitian secara online. Layanan ini memungkinkan peneliti mengadakan penelitian kolaboratif dan share data penelitian. Layanan ini dapat juga disebut sebagai social network layaknya twitter atau facebook, bahkan dapat dijadikan alternatif mencari referensi layaknya Google Scholar. Tentu saja, mereka yang daftar di akun mendeley ini adalah para kaum intelektual untuk berbagi dan mencari referensi. Layanan social network mendeley dapat digabungkan dengan software “Mendeley Desktop” (dapat didownload gratis di www.mendeley.com). Software ini dapat dijadikan sebagai alternative penggunaan citation manager lainnya yang berbayar.
Mendeley mengharuskan usernya untuk menyimpan semua dokumen dalam database baik offline maupun online. Dokumen dapat dishare atau disimpan secara rahasia. Setelah pendaftaran akun Mendeley selesai, user disediakan 1 GB ruang penyimpanan web gratis yang dapat diupgrade.
Mendeley Desktop dapat diinstal di Windows, Mac dan Linux. Otomatis ekstraksi metadata dari file PDF. Back-up dan sinkronisasi di beberapa komputer dengan satu akun Mendeley. Kutipan dari file yang tersimpan di Mendeley desktop terhubung dengan daftar pustaka di Microsoft Word atau OpenOffice dan tersusun secara otomatis berdasarkan abjad. Impor dokumen dan makalah penelitian dari situs-situs eksternal (misalnya PubMed, Google Scholar, arXiv, dll). Mendeley desktop juga mendukung BibTeX ekspor. Bahkan, mendukung aplikasi iPhone dan iPad.
Dengan persepsi yang benar terhadap plagiat dan kemampuan mengakses ketiga jenis layanan tersebut, diharapkan baik mahasiswa mapun dosen tidak lagi terjerat dalam kasus plagiat. Dunia akademik negeri ini merindukan tersedianya semua sumber bacaan sehingga seorang penulis dapat dengan mudah memilih artikel yang paling relevan dengan penelitiannya. Software untuk melacak plagiat sangat membantu penulis menghindari redaksi kalimat yang terindikasi plagiat. Mengutip referensi dari sumber yang tidak jelas alias abal-abal dapat menjadi ancaman serius, baik dari masyarakat maupun institusi. Akhirnya, diperlukan keinginan yang kuat dari pengambil kebijakan untuk berlangganan dengan semua penerbit e-journal, e-book terkenal, software deteksi plagiat dan citation manager. Jika fasilitas ini tidak dapat disediakan, maka plagiat baik yang dilakukan mahasiswa maupun dosen adalah dosa yang sistemik.(*)