Curhat Bujang SDI No 200 Bontokaddopepe Takalar, Tertipu Iming-iming Jadi PNS

Dirinya pernah tiga kali dimintai uang pelicin oleh oknum anggota DPRD Takalar.

Curhat Bujang SDI No 200 Bontokaddopepe Takalar, Tertipu Iming-iming Jadi PNS
muh ihsan harahap/tribuntakalar.com
Bahtiar Dg Nya’la (39)

Laporan Wartawan TribunTakalar.com, Muhammad Ihsan Harahap

TRIBUNTAKALAR.COM, PATTALLASSANG - Bahtiar Dg Nya’la (39), Bujang Sekolah di SDI No 200 Bontokaddopepe, Takalar harus merelakan uangnya hingga puluhan juta karena tertipu iming-iming diangkat jadi CPNS. 

Hal itu diungkapkan Bahtiar saat menemui TribunTakalar.com di Bontoa Tengah, Desa Bontokaddopepe, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa (8/5/2018) sore.

Ia menceritakan, dirinya bekerja sebagai bujang sekolah sebagai kompensasi atas penggunaan tanah orangtuanya seluas 10 are oleh pemerintah untuk membangun gedung sekolah tersebut pada tahun 1984.

“Sebagai kompensasi, ayah saya diangkat menjadi bujang sekolah. Namun tidak berapa lama kemudian beliau meninggal. Saya kemudian menjadi bujang sekolah pada tahun 2000. Dua tahun kemudian status saya sebagai kontrak daerah, didanai oleh APBD Takalar,” tuturnya.

Namun, status sebagai kontrak daerah yang dimiliki oleh Bahtiar berakhir pada 2009 seiring dengan dihapusnya aturan daerah yang mengatur regulasi tersebut.

Baca: OJK Sulampua Ingatkan Warga Tak Tergoda Iming-Iming Investasi Bodong

Baca: Iming-iming Diberi Rp 20 Ribu, Jamal Tega Cabuli Dua Anak Dibawah Umur

“Akhirnya sejak tahun 2009 saya digaji dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sebelumnya saya digaji Rp 300 ribu per bulan, namun dengan dana terbatas dari dana BOS akhirnya saya sekarang digaji kurang lebih Rp 300 ribu per tiga bulan,” ungkapnya.

Menurut pengakuan Bahtiar, dirinya pernah tiga kali dimintai uang pelicin oleh oknum anggota DPRD Takalar dan oknum lainnya untuk meluluskan dirinya sebagai CPNS.

“Mungkin harapan orangtua saya yang ingin anaknya menjadi PNS meski pada posisi bujang sekolah, sehingga orangtua saya tergiur dengan iming-iming oknum tersebut,” tutur pria yang juga sudah memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) itu.

Total uang yang telah dikeluarkan karena iming-iming dari para oknum tersebut hampir mencapai Rp 50 juta. Karenanya ia berharap pemerintah bisa memberikan jalan keluar dan memperhatikan nasib orang-oang sepertinya.

“Saya berharap mudah-mudahan Bapak Bupati ataupun Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar bisa memberikan jalan keluar agar saya yang sudah mengabdi 18 tahun sebagai bujang sukarela di sekolah ini bisa diangkat status jadi PNS,” katanya.(*)

Penulis: Muhammad Ihsan Harahap
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved