TribunTimur/
Home »

Opini

Klakson

Kata 'Pembangunan' Kerap Digunakan Calon Kepala Daerah, Ini Kritik Direktur LAPAR

Lihatlah, baliho orang-orang yang hendak menjadi calon kepala daerah dihiasi kata'“pembangunan'.

Kata 'Pembangunan' Kerap Digunakan Calon Kepala Daerah, Ini Kritik Direktur LAPAR
dok. tribun
Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi & Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel

Oleh: Abdul Karim
Direktur Eksekutif LAPAR Sulsel

PEMBANGUNAN. Rupanya kata ini tak mati-mati. Tetap awet abadi hingga kini. Padahal, 19 tahun lampau, pelopor kata ini di negeri ini—rezim Orba—tumbang dengan terpaksa sebab dipaksa.

Kita tahu, Soeharto nahkoda Orba memopulerkan kata 'pembangunan' itu. Kini, kata itu tak usang-usang ditengah zaman yang terus bergoyang-goyang.

Di abad pilkada seperti saat sekarang ini, kata “pembangunan” tetaplah populer. Bahkan, kepopulerannya mengalahkan popularitas kontestan pilkada.

Kata itu senantiasa mengisi ruang-ruang politik lokal kita. Ia tetap laris. Senantiasa punya kekuatan—setidaknya kuat menggugah kesadaran warga.

(Baca juga: 8 Fakta Kegagalan PSM Juara Paruh Musim)

Inilah salah satu kelebihan Orba, ia unggul dalam mewariskan kata-kata, seperti kata “pembangunan” itu.

Di setiap musim pilkada, kata “pembangunan” bersemi. Kata itu terwariskan ke mulut para aktor politik lokal kita.

Lihatlah, baliho orang-orang yang hendak menjadi calon kepala daerah dihiasi kata'“pembangunan'. Kendaaraan yang di-branding pun seringkali memajang kata itu.

Dalam sebuah kesempatan, sejumlah calon kepala daerah yang sedang mengikuti test and proper test juga mengutarakan kata 'pembangunan' dalam visi-misinya.

Rencana programnya begitu pula. Tak ada keliru disini, tak ada larangan pula menggunakan kata itu.

Barangkali kita hanya was-was bila pada akhirnya kata itu kelak mempertegas kebohongan belaka. Kita cemas bila kata itu hanya pelaris suara saja.

Kita patut heran, entah mengapa para aktor itu menggunakan kata “pembangunan” lagi. Apakah aktor-aktor politik lokal kita kehabisan kata?

Terbatas dalam berkata-kata? Atau miskin kata-kata?. Ataukah karena kata “pembangunan” itu diyakini mampu membius hati warga?

Entahlah, yang kita tahu, kata “pembangunan” bagai mantra pada zaman Orba.

Sebab lebih tiga dasawarsa Orba menggunakan kata 'pembangunan' untuk menaklukkan hati dan fikiran warga, untuk mempertahankan kursi nahkoda rezim.

Kata itu seolah menghipnotis publik. Dengan kata 'pembangunan' seolah segala urusan dinegeri ini kelar sudah.

Soal rakyat seolah tuntas. Padahal, tak sedikit penduduk negeri ini merasakan ketidakadilan, merasakan kemiskinan, merasakan penderitaan, merasakan luka, nestapa, dan sejenisnya.

Tetapi, Orba tetap bahagia hingga 32 tahun usianya. Maka, pantaslah kita risau.

Risau, kata itu—kata WS Rendra—persis takhayyul. Di Jakarta, Orba meneriakkan kata “pembangunan”. Tetapi di pelosok, jalan umum persis kubangan kerbau.

Saat malam, gelap menyelimuti lantaran PLN tak membagi cahayanya. Di istana negara, Soeharto pidato tentang pembangunan. Tetapi di kampung, sawah mengering tak terkira.

Sementara hutan-hutan tergunduli tak berkayu. Entah untuk keperluan industri, entah untuk kebutuhan sang isteri.

Dan jelang pilkada kali ini, kata 'pembangunan' datang lagi menghampiri. (*)

Catatan: Tulisan ini telah dipublikasikan di Rubrik Tribun Opini halaman 10 Tribun Timur edisi cetak, Sabtu, 29 Juli 2017. Judul asli: Pembangunan Lagi.

Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help