Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Khilafah Islamiyah Untuk Semua

Kalau kita mau petakan, ada beberapa setidaknya ada beberapa model sikap masyarakat terhadap Sistem Islam

Tayang:
Editor: Aldy
Sepanjang Mei-Juni, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar event akbar berupa Muktamar Khilafah (MK) 2013 di berbagai daerah di Indonesia. Acara ini diselenggarakan di 31 Kota. Start pada 5 Mei bertempat di Kendari, Semarang, dan DIY, dan acara puncaknya di Jakarta pada 2 Juni.
    Di Makassar sendiri akan dilakdanakan pada tangga 19 Mei 2013, pukul 08.00 sd 12.00 di Stadion Gelora Andi Mattalatta (Mattoanging). HTI begitu konsisten dalam perjuangannya menegakkan syariah dan khilafah. Alasan pertamanya ialah karena ini adalah konsekwensi iman. Dan alasan kedua karena HTI telah menyadari betul bahwa krisis multidimensi yang terjadi di negri ini hanya bisa diatasi dengan sistem yang datang dari Rabb seluruh alam semestai ini.
Itulah sistem Islam dalam bingkai Khilafah.
    Penjelasan sederhananya, Allah Swt sang pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta, tentunya lebih tau apa yang dibutuhkan ciptaan-Nya. Artinya Khilafah yang diperjuangkan oleh HTI adalah Khilafah untuk semua. Khilfah untuk ummat Islam, apapun partainya, organisasinya, mazhabnya serta Khilafah untuk non muslim apapun agama dan keyakinannya.

Masyarakat dan Khilafah
    Kalau kita mau petakan, ada beberapa setidaknya ada beberapa model sikap masyarakat terhadap  Sistem Islam (Khilafah) ini, di antaranya:
Pertama : Pejuang sistem Islam (Syariah dalam bingkai Khilafah). Mereka adalah orang-orang yang telah menyadari bahwa perjuangan penegakkan sistem Islam adalah sebagai kewajiban. Mereka rela bersusah payah berjuang agar sistem Islam itu tegak. Diselenggarakannya MK ini juga bisa sebagai salah satu uslub untuk penguat keyakinan dan penambah motivasi mereka dalam berjuang.
    Kedua: Pendukung sistem Islam. Mereka adalah masyarakat yang meyakini bahwa sistem Islam itu adalah sistem terbaik dan yakin jika diterapkan mampu membuat negara semakin maju dan sejahtera, tapi mereka belum sudi untuk ikut berjuang. Maka adanya MK ini juga bisa sebagai pendorong dan pemberi motivasi mereka untuk ikut berjuang.
    Ketiga: Pihak anti sistem Islam tulen. Mereka adalah orang-orang yang telah tercekoki oleh pemikiran Sipilis (sekulerisme, pluralisme, liberalisme), diantaranya ialah Jaringan Islam Liberal (JIL). Jumlah mereka tidak banyak, tapi sayangnya mereka justru laris tampil di depan publik khususnya media televisi.  
    Adanya MK ini juga bisa sebagai pemberian dakwah kepada mereka. Karena semua orang berhak mendapatkan dakwah Islam. Atau minimal sebagai counter opini untuk meluruskan dakwah Sipilis mereka yang membahayakan umat.
    Keempat : Massa mengambang. Pihak ini adalah masyarakat yang tidak paham sama sekali dan juga masyarakat yang baru paham sedikit saja akan keindahan sistem Islam. Semua itu dampak dari penyebaran paham sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan). Mereka memahami Islam hanya sebatas ibadah ritual dan spiritual saja. Padahal Islam adalah agama (ideologi) yang sempurna. Mengatur urusan pribadi, masyarakat maupun negara.
    Masyarakatpun ada yang salah presepsi terhadap sistem Islam. Sebagai contoh menolak penerapan sistem Islam dengan alasan karena Indonesia adalah negara majemuk. Padahal sistem Islam terbukti gemilang dalam mengatur kemajemukan bangsa. Sebagaimana terbukti pada massa Rasulullah Saw hingga kekhilafahan Ustmani yang diruntuhkan Kemal At-Taturk Tahun 1924. Atau masyarakat yang masih menganggap bahwa sistem Islam dapat ditegakkan dalam sistem kenegaraan dalam bentuk lain.
    Padahal sistem Islam bisa tegak secara sempurna hanya dalam bingkai Khilafah. Karena itu, diselenggarakan MK ini bisa sebagai upaya pemberian kesadaran mereka atas pentingnya penerapan syariah dalam bingkai khilafah.
    Itulah mengapa edukasi penting untuk terus digelorakan. Bagaimanapun masyarakat adalah kunci terjadinya sebuah perubahan. Termasuk didalamnya pihak-pihak yang memiliki kekuatan riil di negri ini, seperti halnya pihak militer yang notabene juga bagian dari masyarakat. Mereka semua berhak mendapatkan dakwah Islam. Jika masyarakat menginginkan perubahan ke arah Islam. Dengan Izin Allah, perubahan niscaya dapat dilakukan.

Untuk Semua
    Dalam perjuangannya, HTI menempuh jalan perjuangan tanpa kekerasan (non violence). Kepedulian HTI atas negara ini tak perlu diragukan lagi. Bahkan pada saat TimTim hendak lepas dari Indonesia, HTI dalam majalah dan seleberan-selebarannya telah memperingatkan Pemerintah tentang skenario asing melalui UNAMET yang menghendaki Timtim lepas.
    Sampai akhirnya TimTim lepas pun, HTI melaui Jubirnya, Ismail Yusanto, sempat menyampaikan kepada media massa bahwa “HTI akan mengambil kembali TimTim dan menggabungkannya dengan Indonesia walaupun butuh waktu 25 tahun”.
    Tujuan utama dihelatnya ajang spektakuler ini adalah dalam rangka melakukan edukasi terhadap umat akan pentingnya syariah dan khilafah. Umat mesti paham bahwa sistem sekulerisme inilah yang telah mengakibatkan Indonesia terpuruk. Sedangkan sistem Islam merupakan satu-satunya solusi terbaik.    
    Secara garis besar, HTI telah mengeluarkan master plan formula seperti apa yang bakal digunakan untuk membangun Indonesia. Hal itu telah dituangkan dalam “Manifesto HTI untuk Indonesia” yang telah dibukukan. Dalam buku itu telah dijelaskan bagaimana strategi Islam mengatasi segala problematika negri ini. Baik itu solusi masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dsb.
    Jadi sungguh jika justru ada segelintir pihak yang menyatakan bahwa HTI dengan perjuangan sistem Islam merupakan ancaman bagi bangsa. Justru sebaliknya, sistem sekulerisme-kapitalisme yang sekarang diterapkan inilah yang menjadi ancaman sebenarnya. Terbukti misalnya dengan lepasnya TimTim.
    Pun akibat sistem ini, kekayaan alam Indonesia banyak dikuasai asing. Penegakkan hukum carut marut, kurupsi menggurita, dekadensi moral juga kian merajalela. Jadi sebenarnya Khilafah itu untuk semua bukan untuk HTI atau ummat Islam saja.
    Oleh karena itu, mari kita terus berjuang agar terwujud kembali kehidupan Islam dibawah institusi daulah khilafah Islam. Dan kita tentu tetap harus berupaya terikat dengan syariah Islam sesuai dengan kemampuan seoptimal kita untuk sekarang ini. (*)

Oleh;
Arman Kamaruddin
Koordinator Lajnah Intelektual HTI Sulsel

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved