Home » Opini
Potensi Pertarungan Pilgub Sulsel
Tribun Timur - Senin, 13 Februari 2012 13:56 WITA
Share |
opini
POTENSI PERTARUNGAN PILGUB SULSEL
Dari Isu Geopolitik Hingga  Survei
Oleh DR Adi Suryadi Culla
Dosen Fisip Unhas

Mengamati potensi pertarungn antar calon dalam pilkada, salah satu yang sering jadi isu hangat adalah faktor geopolitik. Namun, isu geopolitik itu bukanlah faktor penentu primer untuk memprediksi  kekuatan calon. Karena kalau itu jadi determinan terlalu simplistik.

Pengalaman pilgub Sulawesi Selatan tahun 2007 saat Amin Syam dan SYL (Syahrul Yasin Limpo) berhadapan, menyisakan pelajaran berharga  terkait variabel geopolitik. Jika geopolitik menjadi referensi maka kalkulasinya, bukan SYL yang memenangkan kompetisi tapi justru Amin Syam.

Hal itu karena basis  suara  Amin Syam bersama pasangannya  Mansyur Ramli saat itu justeru mewakili perpaduan geopolitik luas dengan populasi pemilih terbesar di Sulsel  mulai dari Bosowa, Luwu Raya, dan bahkan meliputi Ajatappareng. Apalagi Amin Syam adalah incumbent.

Sementara di pihak lain SYL sebagai sang penantang saat itu, secara geopolitik justru hanya mewakili potensi simbolisasi wilayah Selatan-selatan dengan populasi pemilihannya lebih kurang.

Namun, fakta menunjukkan  Amin Syam yang justru didukung faktor geopolitik lebih menguntungkn kalah, tentu termasuk karena  berbagai kelemahan tim suksesnya.

SYL berhasil memenangi Pilgub bahkan tanpa kontribusi suara signifikan dari basis geopolitik pendampingnya  Agus Arifin Numang (AAN) yang merepresentasi Ajatappareng. Di daerah basis AAN tersebut  justru suara pemilih  malah dimenangkan Amin Syam.

Memang faktor geopolitik penting. Dan sulit dipungkiri bahwa faktor geopolitik ikut berpengaruh terhadap potensi kemenangn calon. Itu sebab faktor ini banyak menjadi basis kalkulasi untuk menilai  duet maupun duel  paket calon.

Toh faktanya, baik Amin Syam maupun SYL  di pilgub silam  juga  memang meminang pasangannya termasuk karena pengaruh aspek geopolitik. Dan pengalaman itu seolah hendak juga ditarik kembali ke realitas kini  menghadapi pilgub 2013 yang sekarang sudah menghangat.

Ketika Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Azis Qahar Muzakkar (AQM) memutuskan untuk berpaket, hal  itu lalu direspon tidak terlepas dari tafsir geopolitik. Meskipun batasan geopolitik itu sendiri secara  tipologis beserta cakupan fisiknya masih  bisa  diperdebatkan. Namun berduetnya  IAS - AQM melahirkan tafsir simbolisme perpaduan antara basis representasi geopolitik Bosowa dan Luwu Raya.

Di sisi lain tafsiran geopolitik serupa juga berlaku terhadap incumbent SYL,  dalam memilih tandemnya kembali. Adanya sejumlah figur cawagub SYL  pun lalu  ditafsirkn  mewakili simbiosis mutualistik, perpaduan representasi geopolitik berbeda.

Jika SYL mewakili simbol politik daerah Selatan-selatan, calon pendampingnya  terutama beberapa nama yang mencuat seperti Agus Arifin Numang (AAN), Muh Roem, dan Andi Muallim, bahkan termasuk di luar Golkar seperti Ashabul Kahfie (ketua DPW PAN) dan Andi Rudianto Asapa (Ketua Gerindra Sulsel), semua sosok tersebut pun dipandang mewakili representasi geopolitik tertentu yang jadi basisnnya mulai dari  Ajatappareng, serta Bosowa hingga Sinjai.

Mana di antara sejumlah figur cawagub itu nanti terpilih menjadi tandem SYL? Jika faktor geopolitik dirujuk maka peluang masing-masing cawagub tersebut, terutama ketiga calon dari usungan Golkar (AAN, Roem, dan Muallim) posisinya relatif sama kuat mewakili geopolitik makro tertentu.

Jika berpasangan SYL, mereka  adalah perpaduan sejumlah basis wilayah Sulsel sebagai simbol pertemuan etno-politik dominan Bugis - Makassar. Tetapi, jika faktor geopolitik itu kemudian menjadi pertimbangan deterministik, maka  pengalaman lagi-lagi pilgub 2007 sebagaimana diuraikan sebelumnya membuktikan bahwa suatu simplikasi yang fatal jika aspek ini jadi landasan rasionalitas.

Sebenarnya di samping faktor geopolitik, tidak dapat diabaikan pula pentingnya melihat variabel rasional lain yang lebih bisa terukur obyektif seperti hasil survei. Misalnya, untuk  melihat ukuran dari  tingkat elektabilitas di antara ketiga cawagub pendamping SYL.

Sosok figur seperti Roem dan Mualim dibanding AAN  mungkin potensial lebih kuat dan memiliki akar lebih lebih menjalar secara simbolik geopolitik, tapi perlu juga dilihat soal  ukuran elektabiliitas mereka bertiga.

Mana figur yang lebih berelektabilitas diantara mereka, AAN, Roem, atau Muallim? Hasil survei yang sudah terekspose Golkar meskipun AAN  mungkin lemah secara geopolitik, tapi hasil survei elektabilitasya lebih tinggi  dibanding Roem dan Mualim jika berpaket SYL.

Karena itu, peluang AAN kembali jadi tandem SYL amat kuat. Hal serupa inilah di sisi lain yg juga berlaku ketika melihat potensi paket pasangan IAS-AQM. Opini publik menunjukkn figur yang lebih tinggi elektabilitas jika  dibandingkan banyak figur lainnya  jika  berpaket sebagai cawagub mendampingi IAS adalah AQM.

Fakta pelengkap yang rasional lainnya adalah bahwa potensi AQM itu jelas berelektabilitas terbukti dari keberhasilan AQM terpilih dua kali periode sbg anggota DPD RI.

Dan terakhir sebagai tambahan dengan adanya hasil terkumpulnyan ratusan ribu KTP dari warga yang  mendukung pencalonan AQM sebagai cagub atau cawagub. Gambaran itu menunjukkan potensi kekuatan riel AQM lebih luas  daripada faktor  geopolitik semata.

Semua itu menunjukkn faktor cawagub berdasarkan survei menjadi salah satu magnit rujukan potensi kekuatan pertarungn dan pertaruhan kandidat pilkada.

Dengan merujuk faktor survei sebagai variabel penting, maka duel antara SYL  dan IAS di pilgub sulsel, bisa disimpulkan lebih diperhadapkan dengan pilihan kalkulatif rasionalitas obyektif daripada terbawa arus simbolisme geopolitik primordial, dalam mengelola peluangnya untuk memenangkan pertarungan.***

Penulis : Ilham
Editor : Ridwan Putra