Opini
Potensi Pertarungan Pilgub Sulsel
isu geopolitik itu bukanlah faktor penentu primer untuk memprediksi kekuatan calon
POTENSI PERTARUNGAN PILGUB SULSEL
Dari Isu Geopolitik Hingga Survei
Oleh DR Adi Suryadi Culla
Dosen Fisip Unhas
Mengamati potensi pertarungn antar calon dalam pilkada, salah satu yang
sering jadi isu hangat adalah faktor geopolitik. Namun, isu geopolitik
itu bukanlah faktor penentu primer untuk memprediksi kekuatan calon.
Karena kalau itu jadi determinan terlalu simplistik.
Pengalaman pilgub Sulawesi Selatan tahun 2007 saat Amin Syam dan SYL
(Syahrul Yasin Limpo) berhadapan, menyisakan pelajaran berharga terkait
variabel geopolitik. Jika geopolitik menjadi referensi maka
kalkulasinya, bukan SYL yang memenangkan kompetisi tapi justru Amin
Syam.
Hal itu karena basis suara Amin Syam bersama pasangannya Mansyur
Ramli saat itu justeru mewakili perpaduan geopolitik luas dengan
populasi pemilih terbesar di Sulsel mulai dari Bosowa, Luwu Raya, dan
bahkan meliputi Ajatappareng. Apalagi Amin Syam adalah incumbent.
Sementara di pihak lain SYL sebagai sang penantang saat itu, secara
geopolitik justru hanya mewakili potensi simbolisasi wilayah
Selatan-selatan dengan populasi pemilihannya lebih kurang.
Namun, fakta menunjukkan Amin Syam yang justru didukung faktor
geopolitik lebih menguntungkn kalah, tentu termasuk karena berbagai
kelemahan tim suksesnya.
SYL berhasil memenangi Pilgub bahkan tanpa kontribusi suara signifikan
dari basis geopolitik pendampingnya Agus Arifin Numang (AAN) yang
merepresentasi Ajatappareng. Di daerah basis AAN tersebut justru suara
pemilih malah dimenangkan Amin Syam.
Memang faktor geopolitik penting. Dan sulit dipungkiri bahwa faktor
geopolitik ikut berpengaruh terhadap potensi kemenangn calon. Itu sebab
faktor ini banyak menjadi basis kalkulasi untuk menilai duet maupun
duel paket calon.
Toh faktanya, baik Amin Syam maupun SYL di pilgub silam juga memang
meminang pasangannya termasuk karena pengaruh aspek geopolitik. Dan
pengalaman itu seolah hendak juga ditarik kembali ke realitas kini
menghadapi pilgub 2013 yang sekarang sudah menghangat.
Ketika Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Azis Qahar Muzakkar (AQM)
memutuskan untuk berpaket, hal itu lalu direspon tidak terlepas dari
tafsir geopolitik. Meskipun batasan geopolitik itu sendiri secara
tipologis beserta cakupan fisiknya masih bisa diperdebatkan. Namun
berduetnya IAS - AQM melahirkan tafsir simbolisme perpaduan antara
basis representasi geopolitik Bosowa dan Luwu Raya.
Di sisi lain tafsiran geopolitik serupa juga berlaku terhadap incumbent
SYL, dalam memilih tandemnya kembali. Adanya sejumlah figur cawagub SYL
pun lalu ditafsirkn mewakili simbiosis mutualistik, perpaduan
representasi geopolitik berbeda.
Jika SYL mewakili simbol politik daerah Selatan-selatan, calon
pendampingnya terutama beberapa nama yang mencuat seperti Agus Arifin
Numang (AAN), Muh Roem, dan Andi Muallim, bahkan termasuk di luar Golkar
seperti Ashabul Kahfie (ketua DPW PAN) dan Andi Rudianto Asapa (Ketua
Gerindra Sulsel), semua sosok tersebut pun dipandang mewakili
representasi geopolitik tertentu yang jadi basisnnya mulai dari
Ajatappareng, serta Bosowa hingga Sinjai.
Mana di antara sejumlah figur cawagub itu nanti terpilih menjadi tandem
SYL? Jika faktor geopolitik dirujuk maka peluang masing-masing cawagub
tersebut, terutama ketiga calon dari usungan Golkar (AAN, Roem, dan
Muallim) posisinya relatif sama kuat mewakili geopolitik makro tertentu.
Jika berpasangan SYL, mereka adalah perpaduan sejumlah basis wilayah
Sulsel sebagai simbol pertemuan etno-politik dominan Bugis - Makassar.
Tetapi, jika faktor geopolitik itu kemudian menjadi pertimbangan
deterministik, maka pengalaman lagi-lagi pilgub 2007 sebagaimana
diuraikan sebelumnya membuktikan bahwa suatu simplikasi yang fatal jika
aspek ini jadi landasan rasionalitas.
Sebenarnya di samping faktor geopolitik, tidak dapat diabaikan pula
pentingnya melihat variabel rasional lain yang lebih bisa terukur
obyektif seperti hasil survei. Misalnya, untuk melihat ukuran dari
tingkat elektabilitas di antara ketiga cawagub pendamping SYL.
Sosok figur seperti Roem dan Mualim dibanding AAN mungkin potensial
lebih kuat dan memiliki akar lebih lebih menjalar secara simbolik
geopolitik, tapi perlu juga dilihat soal ukuran elektabiliitas mereka
bertiga.
Mana figur yang lebih berelektabilitas diantara mereka, AAN, Roem, atau
Muallim? Hasil survei yang sudah terekspose Golkar meskipun AAN mungkin
lemah secara geopolitik, tapi hasil survei elektabilitasya lebih tinggi
dibanding Roem dan Mualim jika berpaket SYL.
Karena itu, peluang AAN kembali jadi tandem SYL amat kuat. Hal serupa
inilah di sisi lain yg juga berlaku ketika melihat potensi paket
pasangan IAS-AQM. Opini publik menunjukkn figur yang lebih tinggi
elektabilitas jika dibandingkan banyak figur lainnya jika berpaket
sebagai cawagub mendampingi IAS adalah AQM.
Fakta pelengkap yang rasional lainnya adalah bahwa potensi AQM itu jelas
berelektabilitas terbukti dari keberhasilan AQM terpilih dua kali
periode sbg anggota DPD RI.
Dan terakhir sebagai tambahan dengan adanya hasil terkumpulnyan ratusan
ribu KTP dari warga yang mendukung pencalonan AQM sebagai cagub atau
cawagub. Gambaran itu menunjukkan potensi kekuatan riel AQM lebih luas
daripada faktor geopolitik semata.
Semua itu menunjukkn faktor cawagub berdasarkan survei menjadi salah
satu magnit rujukan potensi kekuatan pertarungn dan pertaruhan kandidat
pilkada.
Dengan merujuk faktor survei sebagai variabel penting, maka duel antara
SYL dan IAS di pilgub sulsel, bisa disimpulkan lebih diperhadapkan
dengan pilihan kalkulatif rasionalitas obyektif daripada terbawa arus
simbolisme geopolitik primordial, dalam mengelola peluangnya untuk
memenangkan pertarungan.***