HMI dalam Tantangan Lingkungan yang berubah
Untuk menyonsong HMI masa depan, semestinya memiliki kemampuan organsiasi yang handal dan mantap.
Penulis: Aldy | Editor: Aldy
Tepatnya tanggal 5 Februari 2012 HMI terhitung ketika didirikannya pada tahun 1947 oleh Prof Dr Lafran Pane (alm) memasuki usianya ke 65 tahun selisi hanya 18 bulan dari usia NKRI. Mengutip ungkapan sejarahwan Sartono Kartodirjo: ".. Siapa yang mengontrol masa lampau, akan menguasai masa depan.
Sebagai penjawab atau juru kunci masa lampau, sejarahwan mempunyai tanggung jawab atau juru kunci masa lampau, sejarahwan mempunyai tanggung jawab besar. Ia wajib mempertahnkan baik integritas sejarah maupun integritas pribadi.
Studi sejarah HMI berupa kritikan masa lampaunya, yang pada masa peristiwa itu terjadi mungkin dapat dibenarkan atau justru dapat disalahkan, atau sebaliknya. Bisa terjadi, masa lampau HMI pada saat sekarang ini dengan alasan-alasan objektif maupun subjektif dapat disalahkan, atau karena pandangan kritis dapat dibenarkan, karena mahkamah sejarah sudah membuktikan kebenarannya. Dari dua yang pradoksal itu, ingeritas sejarah harus ditegakkan.
Setelah 65 tahun menghadirkan dirinya ditengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia, HMI telah merupakan realitas dan bagian Indonesia itu sendiri, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejarah HMI adalah bagian logis dari sejarah bangsa Indonesia. Memisahkan sejarah HMI dengan sejarah nasional kita bukan saja tidak mempunyai dasar historis, tetapi juga bertentangan dengan fakta historis.
Memasuki usia ke-65 tahun, HMI sebagai organisasi kemahasiswaan tertua di Indonesia yang telah melewati jatuh bangunnya sebuah perjuangan dari era revolusifisik, demokrasi parlemnter, demokrasi terpimpin. Orde baru hingga reformasi hingga kini kita diperhadapkan pada sebuah lingkungan yang berubah derastis pada setiap dimensi dan sendi kehidupan manusia di planet ini.
Dalam abad XXI ini, kita diperhadapkan pada perubahan-perubahan multi dimensi yang cepat dan tidak terhindarkan. Perubahan-perubahan ini merupakan penjungkir balikan tatanan kehidupan sebelumnya. Perubahan itu terjadi pada system nilai, termasuk pertimbangan moral yang bersifat imperative.
Perubahan multi dimensi itu juga menghinggapi tatanan masyarakat lain di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya pendidikan, moral keagamaan, tidak ada yang tidak berubah. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Berarti perubahan itu, maupun proses globalisasi adalah sesuatu yang tidak terelakkan.
Memasuki era ini semua bangsa di dunia tidak terkecuali bangsa Indonesia, sedang mengalami transformasi besar-besaran dan amat mendasar dalam setiap dimensi kehidupan. Pada era ini akan tumbuh masyarakat dunia baru dengan ciri yang berbeda dengan ciri-ciri masyarakat lama. Dalam konteks ini Indonesia sedang membangun sebuah masyarakat baru.
Kepentingan Nasional
Membangun masyarakat baru masa depan tidak dapat tidak mengandung dua dimensi, yaitu dimensi ideal, dan dimensi pragmatis. Idelaisme ini penting untuk memberikan arah serta menjaga agar bangsa kita tidak kehilangan sense of being dan sense of purpose. Singkatnya jadi diri atau khittah sebagai bangsa.
Analisis-analisis kritis menunjukkan bahwa kita belum memiliki pemerintahan negara yang mencerminkan apa yang diinginkan kosntitusi. Alih-alih berada pada posisi tersebut, pemerintah malah diidentikan perpanjangan tangan dari kepentingan asing. Adalah tugas komponen bangsa yang tercerahkan agar terus berbisik, berteriak, hingga tindakan kosntitusional pada pemerintah agar mengedepankan perwujudan kepentingan nasional.
Meski tidak diposisikan diametral antara kepentingan nasional dan kepentingan asing dimungkinkan sejauh itu sejalan dengan kepentingan nasional, hal harus clear dalam setiap kebijakan negara.
Globalisasi dan tanda-tanda pergeseran konstalasi global di abad XXI menunjukkan intensitas lobi negara-negara industry besar. Indonesia menjadi medan pertarungan sengit antaraAmerika Serikat, Jepang, China, Korea Selatan dan Uni Eropa. Kondisi tersebut mudah menenggelamkan kepentingan Nasional dan mendudukkan kepentingan asing yang utama.
Abad XXI memiliki anasirnya tersendiri dibandingkan dengan abad sebelumnya meski selalu ada yang sama dalam setiap abad, niscaya selalu banyak yang berbeda di tiap abad. Konstalasi geoekonomi-politik global, perbenturan antar peradaban, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perjanjian-perjanjian internasional, dan persitiwa-peristiwa besar di tingkat nasional dan regional adalah yang akan membentuk perwajahan abad XXI.
Sejarah mencatat bahwa dinamika antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II mamapu dimanfaatkan generasi muda bangsa ketika itu untuk merumuskan kelahiran bangsa dan negara Indonesia.
Kurang lebih 100 tahun dari masa itu, mampukah generasi bangsa saat ini, khususnya kaum muda/mahasiswa merumuskan dan mendirikan pilar-pilar bagi kebangkitan bangsa selanjutnya? Dengan begitu apa yang menjadi janji-jani kemerdekaan membentuk Negara-bangsa bernama Indonesia menjadi kian dekat kita gapai sebab abad XXI kerap digambarkan sebagai era kebangkitan bangsa-bangsa Asia.
Harapan HMI
Untuk menyonsong HMI masa depan, semestinya memiliki kemampuan organsiasi yang handal dan mantap, karena masalah yang di hadapi bukanlah tugas ringan tetapi sebuah masalah yang berat dan rumit, karena melihat HMI hari ini sebagai kegagalan perjuangan karean ditandai melemahnya HMI kenyataan ini ditandai dengan berbagai kritikan dan gugatan dan serta hujatan terhadap HMI.
Jika disimpulkan semua kritikan terhadap HMI, bahwa kini HMI lemah dan terpuruk, HMI tidak lagi membuahkan karya yang dapat dibanggakan, bahkan secara ekstrim Nanang Tahqiq mengusulkan HMI dibubarkan dan digantikan dengan yang lain.
Di atas realitas seperti itu maka tidak ada alternative lain HMI harus mereformasi diri untuk membangun kembali, menjemput masa depan yang lebih baik dari masa lalu, selain merofrmasi diri HMI juga hari ini membutuhkan pemimpin yang kuat. Kuat aqidahnya, kuat menejerialnya, kuat komitmennya, kuat, amanah, ikhlas sebab abad XXI ini bukan tantangan yang ringan bagi HMI untuk mengabdikan diri pada umat dan bangsa
Selaian dari pada itu semua persoalan di atas, menutut konstribusi HMI menghadapi perubahan dan pergantian setiap zaman sehingga mampu menyongsong masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu HMI harus siap, serta memiliki kemampuan dengan beragam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sesuai dengan predikat yang disandangnya, HMI harus mampu memiliki sikap dan perilaku yang positif, kreatif dan kosntruktif, sesuai dengan ciri khas kemahasiswaannya, keislaman dan keindonesiaan. Sehingga hendaknya HMI peka dan tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat, oleh karena itu HMI harus dan membangun sikap dinamis, progesif, kreatif dan inovatif agar dapat secara nyata turut serta mengatasi permasalah masyarakat, serta hal ini dapat dilakukan bersama organisasi pemuda dan jajaran masyarakat lainnya.
Yang terlebih penting ke-Islaman (Kaulitas Insan Cita) juga merupakan ciri khas HMI, harus tercermin dalam semua sikap dan perilaku setiap anggota HMI. Nilai-nilai Islamiyah harus mampu mebawa kita kearah kemajuan dan kemandirian.
Akhirnya di usia 65 tahun bukanlah sebuah usia yang muda dan bukan usia yang senja bagi sebuah organisasi. Namun sudah lebih dari cukup untuk mengukuhkan kedewasaan dan kematangan dalam menyikapi tantangan zaman. Maka teruslah bergerak HMI, jejakan langkah-langkah mengharumkan ditengah gelombang dinamika hyang terkadang insight-nya tidak tampil kasat mata.
Insya Allah dengan niatan memberi yang terbaik, berani mencoba dan salah, serta optimisme yakin usaha sampai, penempatan historis yang manis akan kau raih. Dirgahayu HMI dalam usia ke 65.***
Oleh;
Sufirman
Ketua Bidang Internal I (PPPA) Badko HMI Sulselbar