Mencetak Lionel Messi Indonesia
Suporter Indonesia merupakan salah satu suporter terfanatik di dunia.
Penulis: Aldy | Editor: Aldy
Laga El Clasico yang menyajikan duel sepakbola antara Barcelona dan Real Madrid selalu menjadi perbincangan panas dan menarik untuk ditonton. El Clasico terbaru terjadi pada leg pertama Copa del Rey yang dilaksanakan pada tanggal 18 Januari dimana pertandingan dimenangkan oleh Barcelona dengan skor 2-1.
Pertandingan ini kembali diwarnai insiden yang berlanjut ke luar lapangan. Insiden yang mendapat kecaman tersebut yaitu aksi pemain Real Madrid, Pepe yang menginjak tangan Lionel Messi. Dalih Pepe bahwa ia tidak sengaja dan hanya melakukan yang seharusnya ia lakukan dalam membela tim.
Sedangkan pada leg kedua yang diadakan di Camp Nou tanggal 26 Januari 2012, drama El Clasico berakhir imbang 2-2 yang berarti meloloskan Barcelona ke babak selanjutnya karena unggul agregat gol.
Begitulah Messi dalam setiap pertandingan, mendapatkan pengawalan ketat bahkan jika perlu tidak diberikan ruang gerak dalam mengolah sikulit bundar, tidak hanya dalam El Clasico tetapi saat Barcelona melawan klub-klub lainnya. Karena jika sang lawan lengah, maka Messi akan leluasa dalam mengancam gawang lawan, tentunya ia lakukan dengan permainan yang menawan.
Tak ada yang meragukan kualitas Messi sebagai pemain sepak bola. Berbagai rekor telah dipecahkan dalam debutnya bersama Barcelona, baik individu maupun tim. Dia memecahkan rekor pemain termuda dalam mencetak gol liga dan memenangkan La Liga musim 2004-2005. Dia juga memenangkan ganda liga dan Liga Champion Eropa pada tahun 2006. Ia mencetak hat-trick di El Clasico dan selesai dengan 14 gol dalam 26 pertandingan liga musim 2006-2007. Musim 2008-2009, ia mencetak 38 gol untuk memainkan bagian integral dalam kampanye treble-winner. Messi adalah pemain pertama memenangkan gelar Liga Champions sebagai pencetak gol terbanyak selama tiga tahun berturut-turut setelah Liga Champions berubah format pada tahun 1992.
Messi juga pencetak gol terbanyak World Youth Championship FIFA 2005 dengan enam gol, termasuk dua di pertandingan final. (www.id.wikipedia.org).
Baru-baru ini, ia kembali mencatatkan namanya sebagai pemain terbaik dunia versi FIFA dengan meraih penghargaan paling bergensi dalam dunia sepak bola yakni Ballon dÆOr tahun 2011. Ini adalah gelar Ballon dÆOr ketiganya (hat-trick) secara berturut-turut. Sebuah prestasi yang luar biasa untuk seorang pemain sepak bola diusia yang sangat muda. Raihan penghargaan individu yang diterimanya merupakan bukti atas apa yang dilakukannya di lapangan.
Pujian orang sudah biasa ia terima baik dari kawan maupun lawan, salah satunya dari pelatih kharismatik Arsenal, Arsene Wenger yang mengatakan bahwa Messi adalah pemain sepak bola dari planet lain.
Belum terwujud
Jika menilik biografi Messi, maka akan ditemukan sosok Messi yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Leonal Messi lahir di Rosario, Santa Fe Argentina dari pasangan Jorge Horacio Messi dan Celia Maria Cuccttini. Ayahnya adalah pekerja pada pabrik baja dan ibunya adalah tukang bersih paruh waktu. Secara fisik, Messi memiliki tinggi 169 cm. Tebersit dalam pikiran kita bahwa angka tersebut termasuk dalam postur tubuh yang pendek untuk mayoritas pemain sepak bola di Eropa.
Sudah menjadi ekspektasi bagi kita untuk melahirkan pemain sepak bola hebat bahkan se-kaliber Messi dalam meningkatkan kualitas sepak bola nasional dan prestasinya di kancah internasional. Namun kenyataannya, ekspektasi tersebut masih juga belum terwujud. Ada pertanyaan spekulasi yang mengatakan bahwa Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan negara-negara barat atau timur tengah dengan alasan postur tubuh pemain kita yang relatif kecil.
Pada sepak bola modern seperti sekarang ini, anggapan ini tidak lagi menjadi tepat. Buktinya Messi yang memiliki postur kecil dan pendek namun lebih hebat dari yang berpostur tinggi-besar. Hal ini juga dapat kita lihat pada mayoritas pemain Barcelona. Namun yang terpenting adalah bagaimana skill sang pemain dalam mengolah bola. Bahkan jika postur tubuh tetap berpengaruh, kita masih memiliki banyak pemain yang lebih tinggi dari Messi.
Lahirnya talenta muda di negeri ini dapat kita lihat pada Sea Games yang dilaksanakan di Palembang baru-baru ini membuktikan betapa hebatnya anak-anak muda kita dalam bermain sepak bola yang tergabung dalam Timnas U-23. Sebut saja Titus Bonay, Patrick Wanggai, Yongki Ariwibowo, dan Andik Vermansyah yang sukses mendapat simpatik dan pujian penonton. Walaupun pada kompetisi itu, Timnas U-23 tidak dibarengi dengan keberuntungan sehingga gagal meraih juara.
Talenta Muda
Demikian pula ketika Timnas kita bentrok dengan LA Galaxy dari Amerika Serikat. Salah satu pemain hebat yang bermain pada klub tersebut yakni David Bechkam, mengakui kehebatan pemain muda Andik Vermansayah. Sampai Bechkam harus memberikan tekel yang keras kepada pemain Persebaya Surabaya itu untuk menghentikannya. Talenta-talenta muda itulah yang membuktikan bahwa kita memiliki harapan yang dapat diwujudkan.
Selain itu, upaya peningkatan kualitas sepak bola nasional didukung oleh faktor penduduk. dengan jumlah yang sangat besar yakni kurang lebih 230 juta jiwa, merupakan tempat pemasaran sepak bola sebagai sebuah industri yang sangat menggiurkan. Apalagi besaran tersebut didukung oleh minat yang tinggi (high interesting) terhadap sepak bola.
Sebagaimana stasiun televisi swasta Trans 7 pernah menyiarkan dalam acara On the Spot bahwa suporter Indonesia merupakan salah satu suporter terfanatik di dunia. Kondisi inilah yang mengharuskan dilakukannya upaya yang serius dan kinerja professional dalam pengelolaannya.
Sayangnya, masih ada suporter klub yang memperlihatkan tindakan tidak sportif dan kolot dengan melakukan tawuran dan tindakan-tindakan yang menghambat jalannya sebuah pertandingan.
Potensi tersebut memang tidak cukup tetapi paling tidak menjadi modal dasar (capital). Hanya saja, kita belum memiliki formula yang tepat untuk mencetak Messi Indonesia. Ditambah lagi carut marutnya sistem pengelolaan persepakbolaan nasional yang turut menghambat kemajuan sepak bola nasional.
Untuk PSSI, kebijakan yang dilakukan sepertinya tidak memiliki arah yang jelas, mau dibawa ke mana persepakbolaan kita. Kompetisi yang seyogyanya menjadi ajang pembinaan justru terkesan dilakukan dengan politik balas dendam. Indonesia Super Liga (ISL) yang pada era-nya Nurdin Khalid legal dan Liga Primer Indonesia (LPI) ilegal kini terbalik sejak Djohar Arifin yang menjadi Ketua PSSI.
Bagaimana mungkin kita leluasa membangun kekuatan sepak bola jika sistem kompetisi saja masih kacau-balau, bahkan cenderung dipolitisi yang mengorbankan pemain dan membingungkan masyarakat. Mengutip pendapat Aminuddin Bakri bahwa sulit mencapai stabilitas kreatif apabila stabilitas kondusif belum dicapai.
Ini adalah bukti betapa sepak bola kita belum dalam taraf stabilitas kondusif. Jadi wajar jika sangat susah dicapai stabilitas kreatif. Nampak jelas terjadinya segregasi (pemisahan) tindakan pengelolaan yang dilakukan oleh stakeholder persepakbolaan kita. Semestinya, pengembangan kita dilakukan secara kolektif, holistik, dan terintegratif baik dari kalangan pemerintah, klub, sponsorship, maupun masyarakat.***
Oleh;
Wahyuddin MY
Founder Bintang ABG FC di Botteng, Mamuju