A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Nuklir, Antara Bom Atom dan Pembangkit Listrik - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Nuklir, Antara Bom Atom dan Pembangkit Listrik

Senin, 5 Desember 2011 14:14 WITA
opini
Arman Kamaruddin
Lajnah Intelektual HTI Sulsel

BADAN Teknologi Nuklir Indonesia (Batan), yang berulang tahun ke 53 pada tanggal 5/12/2011 mengungkapkan bahwa pemahaman masyarakat Indonesia tentang nuklir masih jauh dari memuaskan. Mendengar, membaca dan mengucapkan kata “Nuklir”, membuat pemikiran kita langsung menjustifikasi dengan konotasi negatif. Nuklir adalah perang, bom yang pernah dijatuhkan sekutu (AS) di Jepang pada tahun 1945, menjadi sejarah yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang sejarah peradaban kemanusiaan.


Adapun perkembangan senjata nuklir sekarang ini begitu menghawatirkan, karena selain ada negara diperbolehkan memiliki senjata nuklir, negera yang tidak diperbolehkan memiliki senjata nuklir tersebut. Dari beberapa literatur yang ada sedikitnya ada 9 negara memiliki bom nuklir,  negera tersebut adalah : Amerika Serikat ( United States Of America), Russia, Inggris (United Kingdom), Perancis, China¸ India, Pakistan, Korea Utara dan Israel.

Selain bisa digunakan untuk membuat bom dahsyat untuk senjata perang, perkembangan teknologi nuklir hasil riset yang dilakukan oleh Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional), menyebutkan bahwa teknologi nuklir bisa memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masayarakat di berbagai bidang, seperti, pertanian, peternakan, dan kesehatan. Dan yang akan selalu hangat untuk diperbincangkan adalah pemanfaatan nuklir untuk pembangkit listrik atau dikenal PLTN (pembangkit Listrik tenaga Nuklir).
 
Di Indonesia setelah pantai Jepara di Jawa Tengah, kini wilayah Pulau Bangka telah disurvei oleh Batan sebagai kandidat tapak PLTN mendatang.  Alasannya wilayah ini bebas gempa, sehingga membangun PLTN di sana akan relatif aman, ada potensi bahan thorium yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar PLTN. Bahkan ketua panitia “International forum of Nuclear” IKA Teknik Unhas yang dilaksakan tanggal 6 Desember 2011, Anshar Rahman, menjelaskan  Sulawesi Selatan dengan potensi thorium yang dimilikinya juga siap menjadi pusat nuklir di Indonesia. (http://makassar.tribunnews.com/digital/index.php?hal=1; Unhas Siapkan Nuklir, 03/12/11)


Nuklir sebagai Senjata
Reaktor nuklir pertam kali dibangun oleh Enrico Fermi dan Leó Szilárd di Chicago Pile-1 saat mereka di Universitas Chicago pada 2 Desember 1942. Untuk uji coba nuklir dengan kepentingan sipil dilaksanakan tahun 1951 ketika AS berhasil memfungsikan reaktor pembiakan cepat EBR-I. Negara-negara besar mulai berlomba-lomba melakukan program nuklir pada tahun 1953. Sehingga pada 1 Juli 1968 perjanjian pembatasan program nuklir di sepakati yang dikenal  dengan Non-Proliferation Treaty (NPT). Berdasarkan NPT, hanya lima ada 5 negara yang perbolehkan menguasai senjata nuklir : AS, Uni Sovyet (Rusia), Perancis, Inggris, dan Cina. Kelimanya adalah anggota tetap DK PBB. Sehingga jelas NPT adalah alat negera-negara besar untuk menakut-nakuti negara-negara lain.

Teknologi nuklir sebenarnya adalah teknologi yang sangat sejak abad-20.  Kalau ummat Islam terkenal dengan motivasi untuk mencari dan menerapkan IPTEK, sampai berjalan jauh ke Cina untuk belajar membuat kembang api kemudian dikembangkannya menjadi mesiu hingga meriam raksasa maka semestinya, teknologi nuklir ini juga dikuasai umat Islam.  Hanya saja negara-negara besar tak akan rela keunggulan mereka disaingi negara lain, sehingga banyak aspek dari teknologi ini dirahasiakan atau dibatasi penyebarannya.

Padahal salah satu ayat dalam Al-Quran menunjukkan bahwa kaum Muslim diperintahkan untuk memiliki perlengkapan apapun yang bisa menjadikan kegentaran bagi orang-orang yang membenci Islam.

“Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian serta orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya.” (QS al-Anfal [8]: 60).

Karena ketakutan negara-negara besar tersebut atas penguasaan teknologi nuklir untuk dijadikan bom atom, sampai-sampai untuk pemanfaatan kesejahteraan rakyat seperti PLTN biasanya negeri-negeri dunia ketiga, terrmasuk Indonesia hanya ditawari untuk dibangunkan PLTN, bahan jadinya sudah disiapkan, dan timbul ketergantungan, mulai perawatan sampai dengan penyediaan bahan nuklir.  Karena negara yang berusaha membangun PLTN akan dicurigai membuat senjata nuklir seperti Iran atau Korea Utara.

Karena faktanya, kemampuan suatu negara membuat PLTN akan mampu membuat senjata nuklir juga, karena teknologinya berasal dari reaktor nuklir untuk dijadikan sebagai pembangkit yang bisa juga dimanfaatkan dalam pembuatan senjata nuklir. Sejarah tersebut bisa kita lihat dari kemampuan AS untuk membuat PLTN dimana sebelumnya mereka berhasil meledakkan bom atomnya.  
Nuklir untuk Pembangkit Listrik.

Teknologi nuklir merupakan energi yang bersih dimasa yang akan datang karena tidak menghasilkan emisi gas buang seperti NOx, Sox dan CO2 sebagaimana PLTU dan PLTD. Meskipun PLTN juga menghasilkan limbah radioaktif yang harus disimpan sempat yang aman karena sangat berbahaya.

Namun dinegeri kita, sumber energi bersih sebenarnya masih sangat berlimpah seperti potensi angin, surya, laut dan panas bumi. Ini tergantung dari penguasaan teknologi untuk bisa memanfaatkan, jangan sampai dengan PLTN kita harus berutang dan dan menjadi tergantung terhadap negera lain.

Teknologi PLTN adalah teknologi tinggi.  Hal ini karena kebocoran atau kecelakaan dapat berakibat fatal.  Bahan radioaktif yang keluar akan memancarkan radiasi sinar Gamma selama ribuan tahun.  Bila terkena mahluk hidup, radiasi ini akan merusak sel, menyebabkan kanker atau kemandulan.  Pada kasus kecelakaan PLTN di Chernobyl tahun 1986 dan PLTN di Jepang . Bahkan di Chernobyl seluruh warganya harus dievakuasi dan kota itu hingga kini masih menjadi kota mati.  Untuk itu sebuah PLTN modern harus dibangun dengan keamanan berlapis.  Sistem kontrol otomatis disiapkan agar bila ada sesuatu yang tak wajar, reaktor otomatis dimatikan.  Masalahnya adalah bila kelalaian dan korupsi membuat sistem kontrol itu tak lagi berfungsi. Bangsa kita ini terkenal pintar membangun, tetapi malas memelihara.  

Kita juga wajib menyiapkan agar PLTN tersebut bila jadi dibangun tidak makin menjerat kita pada ketergantungan kepada asing, baik dalam bentuk utang, maupun dalam pengadaan bahan bakar nuklir.  Memang Indonesia punya uranium, tetapi kadarnya rendah, sedang alat untuk memperkaya uranium termasuk yang dibatasi, untuk mencegah suatu negara membangun senjata nuklir.  Sedang thorium (thorium - uranium oksida (ThU)02) sudah mulai digunakan sebagai bahan bakar nuklir untuk reaktor SMR (small Medium Reactor) dan reaktor nuklir tipe generasi IV. Tapi pemisahan logam thorium dari pasir Monasit, juga memerlukan teknologi tinggi.

Akhirnya menyiapkan PLTN memerlukan SDM yang handal, baik dari ketakwaan, profesionalisme maupun semangat juang.  Ini untuk mengantisipasi agar mereka tidak lalai dan tidak korupsi dalam menjalankan pekerjaannya, dan agar mereka senantiasa bekerja keras menguasai teknologi dengan motivasi spiritual. Pekerjaan nuklir hanya sedikit mentolerir kecerobohan (zero-tolerance).  Proyek PLTN juga menuntun agar sejak dari tender, pembebasan tanah, perjanjian dengan luar negeri terkait dengan pembiayaan, alih teknologi dan pengadaan bahan bakar, hingga pengurusan limbah radioaktif dapat berjalan dengan transparan, adil, aman, dan berkelanjutan.(*)
Penulis: CitizenReporter
Editor: Ridwan Putra
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas