Rabu, 29 April 2015
Home » Opini

Nuklir, Antara Bom Atom dan Pembangkit Listrik

Senin, 5 Desember 2011 14:14

BADAN Teknologi Nuklir Indonesia (Batan), yang berulang tahun ke 53 pada tanggal 5/12/2011 mengungkapkan bahwa pemahaman masyarakat Indonesia tentang nuklir masih jauh dari memuaskan. Mendengar, membaca dan mengucapkan kata “Nuklir”, membuat pemikiran kita langsung menjustifikasi dengan konotasi negatif. Nuklir adalah perang, bom yang pernah dijatuhkan sekutu (AS) di Jepang pada tahun 1945, menjadi sejarah yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang sejarah peradaban kemanusiaan.


Adapun perkembangan senjata nuklir sekarang ini begitu menghawatirkan, karena selain ada negara diperbolehkan memiliki senjata nuklir, negera yang tidak diperbolehkan memiliki senjata nuklir tersebut. Dari beberapa literatur yang ada sedikitnya ada 9 negara memiliki bom nuklir,  negera tersebut adalah : Amerika Serikat ( United States Of America), Russia, Inggris (United Kingdom), Perancis, China¸ India, Pakistan, Korea Utara dan Israel.

Selain bisa digunakan untuk membuat bom dahsyat untuk senjata perang, perkembangan teknologi nuklir hasil riset yang dilakukan oleh Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional), menyebutkan bahwa teknologi nuklir bisa memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masayarakat di berbagai bidang, seperti, pertanian, peternakan, dan kesehatan. Dan yang akan selalu hangat untuk diperbincangkan adalah pemanfaatan nuklir untuk pembangkit listrik atau dikenal PLTN (pembangkit Listrik tenaga Nuklir).

Di Indonesia setelah pantai Jepara di Jawa Tengah, kini wilayah Pulau Bangka telah disurvei oleh Batan sebagai kandidat tapak PLTN mendatang.  Alasannya wilayah ini bebas gempa, sehingga membangun PLTN di sana akan relatif aman, ada potensi bahan thorium yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar PLTN. Bahkan ketua panitia “International forum of Nuclear” IKA Teknik Unhas yang dilaksakan tanggal 6 Desember 2011, Anshar Rahman, menjelaskan  Sulawesi Selatan dengan potensi thorium yang dimilikinya juga siap menjadi pusat nuklir di Indonesia. (http://makassar.tribunnews.com/digital/index.php?hal=1; Unhas Siapkan Nuklir, 03/12/11)


Nuklir sebagai Senjata
Reaktor nuklir pertam kali dibangun oleh Enrico Fermi dan Leó Szilárd di Chicago Pile-1 saat mereka di Universitas Chicago pada 2 Desember 1942. Untuk uji coba nuklir dengan kepentingan sipil dilaksanakan tahun 1951 ketika AS berhasil memfungsikan reaktor pembiakan cepat EBR-I. Negara-negara besar mulai berlomba-lomba melakukan program nuklir pada tahun 1953. Sehingga pada 1 Juli 1968 perjanjian pembatasan program nuklir di sepakati yang dikenal  dengan Non-Proliferation Treaty (NPT). Berdasarkan NPT, hanya lima ada 5 negara yang perbolehkan menguasai senjata nuklir : AS, Uni Sovyet (Rusia), Perancis, Inggris, dan Cina. Kelimanya adalah anggota tetap DK PBB. Sehingga jelas NPT adalah alat negera-negara besar untuk menakut-nakuti negara-negara lain.

Teknologi nuklir sebenarnya adalah teknologi yang sangat sejak abad-20.  Kalau ummat Islam terkenal dengan motivasi untuk mencari dan menerapkan IPTEK, sampai berjalan jauh ke Cina untuk belajar membuat kembang api kemudian dikembangkannya menjadi mesiu hingga meriam raksasa maka semestinya, teknologi nuklir ini juga dikuasai umat Islam.  Hanya saja negara-negara besar tak akan rela keunggulan mereka disaingi negara lain, sehingga banyak aspek dari teknologi ini dirahasiakan atau dibatasi penyebarannya.

Padahal salah satu ayat dalam Al-Quran menunjukkan bahwa kaum Muslim diperintahkan untuk memiliki perlengkapan apapun yang bisa menjadikan kegentaran bagi orang-orang yang membenci Islam.

Halaman123
Penulis: CitizenReporter
Editor: Ridwan Putra
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas