opini
Cyberspace dan Gerakan Sosial Politik
APAKAH anda merasakan ada yang kurang ketika di pagi hari tidak memulai aktifitas dengan seperangkat gadget
Penulis: Ridwan Putra | Editor: Ridwan Putra
Oleh : Jusman Dalle
Direktur Ekonomi Politik TRANS Institute Indonesia
APAKAH anda merasakan ada yang kurang ketika di pagi hari tidak memulai aktifitas dengan seperangkat gadget yang menyediakan aplikasi Facebook, Twitter, Google+, dan berbagai jejaring sosial lainnya? Ya, di era ini, di zona baru, ketika dunia telah terkoneksi oleh kemajuan teknologi internet, ketika tembok-tembok dan jendela rumah kita runtuh dan disatukan oleh gelombang konvergensi dalam satu ruang internet (cyberspace), jaringan social media seperti Facebook, Google+, Blackberry Messanger, Blog dan Twitter, hadir sebagai kebutuhan baru. Menjadi menu wajib, bahkan sesaat kita membuka mata di subuh hari.
Siapapun kita, baik pelajar, mahasiswa, pekerja, entrepreneur, eksekutif, menteri, bahkan Presiden Barrack Obama atau Hugo Chavez sekalipun, rasanya tak afdhal memulai hari jika belum menulis status baru di Facebook dan BBM, atau belum berkicau di Twitter. Tentang perasaan pagi ini, tentang harapan kita hari ini atau tentang cinta yang baru diputuskan semalam, semua ingin dibagikan kepada penduduk planet baru yang bernama jejaring sosial. Pameo yang mengatakan bahwa dunia berada di dalam genggaman, kini terbukti sudah. Tak perlu beranjak dari tempat tidur atau tempat duduk, karena layar ponsel telah menjadi jendela raksasa.
Cyberspace dan Konvergensi
Enam tahun silam, Thomas L. Friedman telah memprediksi hal ini di dalam bukunya yang berjudul The World is Flat: a Brief History of The Twenty First (2005). Menurut kolumnis koran The New York Time tersebut, dunia masa depan tidak lagi “bulat”, akan tetapi berubah datar karena konvergensi. Dunia menyatu di dalam satu ruang yang disebut internet (cyberspace)
Konvergensi dan cyberspace terjadi dengan melihat bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain pada tingkat sosial, dan menggunakan berbagai platform media untuk menciptakan pengalaman baru, bentuk-bentuk yang menghubungkan kita secara global di luar dikotomi produsen atau konsumen perubahan dan industri informasi. Dalam hal ini, perubahan (change) menjadi kata kunci wajah baru dunia.
Cara terbaik untuk merespons perubahan tentu bukan dengan menghindarinya, akan tetapi menyiapkan diri baik dari segi mental maupun sikap, sehingga kehadiran perubahan tersebut bisa bermanfaat secara positif.
Peter Drucker (2007), mengatakan bahwa bahaya terbesar dalam turbulensi -yang menjadi penanda hadirnya perubahan- bukanlah turbulensi itu sendiri, melainkan cara berfikir kemarin yang masih digunakan untuk merespon masa sekarang. Secara lebih ekstrim, Albert Einstein (1879–1955) bahkan mengatakan bahwa mempertahankan cara-cara lama dalam menghadapi era baru dengan berharap hasil yang berbeda adalah sebentuk kegilaan.
Oleh karenanya, dalam konteks lokalitas, menghadapi era konvergensi dan cyberspace ini maka sistem respons kita harus segera dinavigasi untuk menyesuaikan diri agar tak tergilas perubahan. Tidak lagi ada konservatisme, namun bukan berarti budaya dan identitas lokal kita tanggalkan dan secara latah menerima semua model yang tidak relevan dengan identitas kebangsaan. Akan tetapi, identitas lokal menjadi filter bagi proses seleksi berbagai tawaran yang mengarus dari luar. Semua bisa dikompromikan secara fleksibel.
Landscape Sosial-Politik
Secara global, beberapa waktu terakhir, efek dari kehadiran jejaring sosial di era konvergensi dan cyberspace ini telah menjernihkan nalar kita dalam menangkap pergerakan landscape perubahan sosial-politik. Jika dahulu perubahan selalau di bawah kendali elite, kini civil society juga memegang peranan penting. Perubahan tidak lagi didominasi oleh hegemoni kekuasaan. Perubahan bukan lagi tercipta dari turbulensi antara dua kekuatan politik, militer atau ekonomi yang satu sama lain saling berebut pengaruh sebagaimana di abad-abad silam kita ‘saksikan’ melalu catatan para sejarawan.
Dengan perangkat digital, kini setiap orang di dunia memiliki kesempatan yang sama dalam menggerakkan dan mengarahkan perubahan. Revolusi yang terjadi di Timur Tengah (Tunisia, Mesir, Libya dan Suriah) sepuluh bulan terakhir, adalah gambaran nyata tentang konsekuensi positif yang dikonstruk dari kesadaran untuk memanfaatkan jejaring sosial menjadi jejaring perlawanan. Satu persatu pemerintahan dikatator tumbang di tangan rakyatnya sendiri. Propaganda melalui media sosial seperti yang dilakukan oleh Wael Ghonim, Bos Google di Mesir yang juga aktivis internet adalah bukti nyata. Oleh karenanya, adalah lumrah ketika para ahli perubahan sosial dan ahli politik bersepakat bahwa jejaring sosial menjadi variabel baru dalam proses politik yang lebih demokratis.
Kenyataan tersebut sejalan dengan keyakinan dua penganut teori konvergensi, Evans dan Sthepens (1988) yang telah meramalkan kecenderungan konvergensi.Oleh penganut teori konvergensi, modernisasi dan pembangunan dilihat telah bergerak secara positif untuk semakin memperbaiki dunia.
Perusahaan global yang berbasis new media dan commerce orinted seperti Google, Facebook, Twitter, Yahoo, Blogger dan sederet korporasi media sosial lainnya, menjadi korporasi perubahan yang mentransformasi gagasan dan informasi sampai pada tahap mengubah paradigma masyarakat dalam berinteraksi dan mendesakkan perubahan. Dunia internet yang selama ini dikatakan “maya” telah berevolusi menjadi dunia yang real di tangan jejaring sosial.
Oleh karenanya, pergeseran penggunaan kekuatan militer ke penggunaan teknologi informasi sebagai gerakan politik, pada akhirnya menjadi mainstream baru dalam mempengaruhi publik. Para ahli strategi perang menyebutnya perang asimetris (asymmetric warfare).
Hadirnya media sosial yang dijembatani cyberspace telah membentuk perilaku tersendiri dalam dunia politik. Fakta bahwa kesadaran pencitraan politikus dengan menggunakan perangkat teknologi internet, semakin menguat seiring dengan perkembangan media kita bisa lihat dari berbagai fenomena politik media sosial. Misalnya dengan membuat account facebook atau twitter politisi yang bersangkutan.
Namun cara ini ternyata tidak melulu berhasil, karena di satu sisi, pendidikan politik masyarakat, utamanya generasi muda terus mengalami trend positif. Facebook, BBM, Google+, Blog dan Twitter, dalam waktu relatif singkat menjadi ruang raksasa yang menampung segala macam inforamasi, protes dan kritik hingga tuntutan revolusi dari masyarakat. Internet bukan lagi sekedar dunia maya, tetapi mentransformasi berbagai protes, kritik dan kekecewaan tersebut ke dalam dunia nyata. Bisa dalam bentuk apatisme terhadap politik, gerakan sosial, hingga tuntutan revolusi.(*)