Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Wacana Menteri Agama Renovasi Makam Syekh Jamaluddin Al Husaini

Disampaikan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Republik Indonesia saat dialog media MQKI.

Penulis: M. Jabal Qubais | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM/Jabal Qubais
DIALOG KEMENAG - Jajaran Kementerian Agama Republik Indonesia saat gelar dialog media di Sallo Hotel Sengkang, Kabupaten Wajo, Jumat (3/10/2025). Menteri Agama Republik Indonesia canangkan renovasi makam Syekh Jamaluddin Al Akbar Al Husaini di komplek Masjid Tua Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. 

 

TRIBUN-TIMUR.COM, WAJO - Menteri Agama Republik Indonesia canangkan renovasi makam Syekh Jamaluddin Al Akbar Al Husaini di komplek Masjid Tua Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Demikian disampaikan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Republik Indonesia saat dialog media MQKI di Sallo Hotel, Jumat (3/10/2025)

"Kita sebagai generasi muda Indonesia maka wajib mengenang Syekh Jamaluddin Al Akbar Al Husaini. Berkat perjuangannya, kita bisa berislam dan seharmonis hingga hari ini," ujar Basnang saat ditemui Tribun-Timur.com di lokasi.

"Maka dari itu peran Kementerian Agama penting dalam menjaga dan memelihara makam salah satu cucu Rasulullah Saw. Saya kira itu kewenangan Pemerintah Daerah dan kami kordinasi segera," tambahnya.

Dalam dialog tersebut disampaikan Musabaqah Qiraatil Kutub menjadi momen pendalaman Ekoteologi.

Baca juga: Kedatuan Luwu Anugerahi Menag Nasaruddin Umar Gelar Adat ‘To Makkadangnge ri Labutikka’ 

Ekoteologi sendiri adalah ilmu keagamaan yang mempelajari hubungan antara kepercayaan Agama dan lingkungan hidup menjadi dasar menjaga dan merawat alam semesta.

"Progam prioritas Menteri Agama adalah Ekoteologi, bagaimana kemudian Agama yang dari dulu condong pemeliharaan alam," tuturnya.

"Pak Menteri akan menggagas Maqashid syariah menjadi enam, yaitu Hifdzul Bi'ah memelihara dan menjaga alam," sambungnya.

Sementara itu, Musabaqah Qiraatil Kutub dilaksanakan guna merawat, menjaga dan mempopulerkan kitab kuning sebagai sentral dalam keberagaman umat islam di seluruh dunia.

"Kitab kuning ini menjadi dasar artikulasi implementasi sekaligus ikhtiar perkenalan tradisi islam di Indonesia," ucapnya.

Pesantren As'adiyah di Wajo dijadikan tuan rumah MQK bukanlah tanpa alasan

"Karena As'adiyah adalah Pondok Pesantren tertua di Indonesia Timur. Bahkan, perannya dalam melahirkan ulama besar, itulah yang mendasari kami melaksanakan Musabaqah Qiraatil Kutub tingkat nasional dan Internasional di luar Pulau Jawa," tegasnya.

"Saya kira itu juga bentuk apresiasi terhadap Pondok Pesantren yang punya kontribusi panjang dalam sejarah peradaban islam di Indonesia," urai Basnang Said.

Sementara itu, Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin menyebut salah satu syarat menjadi ulama adalah mampu membaca kitab kuning.

Ia menjelaskan pelaksanaan Musabaqah Qiraatul Kutub Internasional pertama kali di laksanakan.

"Orang di luar negeri bahkan bilang kalau mau belajar agama, datang ke Indonesia," tuturnya.

"Indonesia sudah dijadikan rujukan Agama di seluruh dunia. Ini amanah besar bagi kita semua," pungkasnya.(*)

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved