Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Melihat Proses Pembuatan Papiong di Acara Rambu Solo Warga Enrekang

Mayoritas warganya memeluk agama Kristen, berbeda dengan penduduk Enrekang secara umum

Tayang:
Tribun-timur.com/Anastasya Saidong Ridwan
RAMBU SOLO - Warga menyajikan Pa'piong yang berada dalam bambu yang telah di bakar di kegiatan Rambu Solo' Almarhum Petrus Ri'pi, Dusun Salubarani, Desa Pana, Kecamatan Alla’, Kabupaten Endrekang, Sulawesi Selatan, Senin (11/5/2026). Makanan ini menjadi salah satu ciri khas Suku Toraja. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKALE - Aroma rempah menyengat dari dapur tradisional menyambut para tamu yang datang dalam prosesi adat Rambu Solo’ almarhum Petrus Ri’pi di Dusun Salubarani, Desa Pana, Kecamatan Alla’, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Senin (11/5/2026).

Dusun Salubarani yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja dikenal sebagai salah satu wilayah di Enrekang yang banyak dihuni masyarakat suku Toraja.

Mayoritas warganya memeluk agama Kristen, berbeda dengan penduduk Enrekang secara umum yang didominasi umat Islam.

Meski berbeda keyakinan, masyarakat di wilayah tersebut hidup berdampingan dan saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial maupun adat.

Di sela rangkaian upacara adat kematian khas masyarakat Toraja tersebut, warga tampak sibuk menyiapkan pa’piong, kuliner tradisional yang menjadi sajian khas dalam acara adat.

Rambu Solo’ merupakan upacara adat kematian masyarakat Toraja sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal dunia. 

Tradisi ini tidak hanya menjadi prosesi pemakaman, tetapi juga sarat nilai budaya, kekeluargaan, dan gotong royong.

Pada pelaksanaan Rambu Solo’ kali ini, perhatian tamu tertuju pada proses pembuatan pa’piong daging kerbau yang dimasak menggunakan racikan rempah khas.

Berbeda dari pa’piong pada umumnya yang identik dengan campuran daun miyana, olahan kali ini menggunakan perpaduan serai, bawang merah, bawang putih, merica, cabai rawit, serta berbagai rempah aromatik lainnya tanpa tambahan daun miyana.

Bumbu tersebut kemudian dicampur bersama potongan daging kerbau sebelum dimasak hingga menghasilkan cita rasa gurih dan kaya rempah.

Sekilas tampilannya menyerupai masakan rica-rica, namun rasa yang dihasilkan lebih pekat dan mirip bumbu rendang.

Warga setempat menyebut olahan pa’piong kerbau seperti itu memang kerap disajikan dalam berbagai acara adat Rambu Solo’.

Pa’piong sendiri merupakan makanan tradisional khas Toraja yang biasanya dibuat dari daging babi, ayam, atau ikan yang dimasukkan ke dalam bambu muda bersama bumbu rempah dan daun miyana, lalu dibakar hingga matang.

Kuliner tersebut menjadi sajian yang hampir selalu hadir dalam pesta adat masyarakat Toraja, terutama pada acara Rambu Solo’.

Di lokasi kegiatan, suasana adat terlihat begitu kental.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved