Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pelemahan Rupiah Picu Kekhawatiran Pelaku Usaha di Sulsel

Khususnya sektor industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, otomotif, elektronik, hingga UMKM yang menggunakan bahan impor.

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Waode Nurmin
dok Satriya Madjid
PELEMAHAN RUPIAH - Wakil Ketua Umum Kadin Sulsel, Satriya Madjid. Satriya Madjid menilai pelemahan rupiah mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha di Sulsel. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus Rp17.660 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (18/5/2026), mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kenaikan kurs dinilai menekan biaya produksi dan mempersempit margin usaha, terutama bagi sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Sulawesi Selatan, Satriya Madjid mengatakan, pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap dunia usaha.

Khususnya sektor industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, otomotif, elektronik, hingga UMKM yang menggunakan bahan impor.

“Kenaikan kurs membuat biaya produksi meningkat dan menekan margin usaha,” kata Satriya, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Senin (18/5/2026).

Menurut Satriya, apabila kondisi tersebut terus berlanjut, dampaknya bisa semakin serius terhadap berbagai sektor usaha.

Proyek-proyek yang menggunakan komponen luar negeri juga berpotensi mengalami penyesuaian biaya akibat tingginya kurs dolar AS.

Pelemahan rupiah, kata dia, tidak hanya berdampak pada biaya operasional perusahaan, tetapi juga memengaruhi daya beli masyarakat.

Kenaikan harga barang dinilai dapat membuat konsumsi masyarakat melambat dan berdampak pada perputaran usaha secara umum.

“Sektor pariwisata dan perhotelan yang sangat tergantung dari perjalanan menggunakan transportasi udara juga sangat terdampak karena komponen bahan bakar,” kata Ketua Umum IKA Unibos 45 Makassar tersebut.

Terkait ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), Satriya berharap kondisi tersebut tidak terjadi.

Namun, ia mengakui jika tekanan kurs berlangsung dalam waktu lama disertai penurunan permintaan pasar, maka perusahaan kemungkinan akan melakukan efisiensi.

Termasuk pengurangan tenaga kerja di sektor yang paling terdampak.

“Jika tekanan kurs berlangsung lama disertai penurunan permintaan pasar, maka efisiensi perusahaan bisa saja mengarah pada pengurangan tenaga kerja, terutama di sektor yang paling terpukul oleh kenaikan biaya operasional,” jelasnya.

Satriya menambahkan, banyak pelaku usaha memilih lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved