Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kader Sulsel Dorong Prof KH Nasaruddin Umar Maju Calon Ketum PBNU

Makmur Idrus menilai peluang Nasaruddin Umar semakin besar bila PCNU se-Sulsel solid

Tayang:
Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com
BURSA PBNU - Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA saat mengumumkan penetapan 1 Ramadan. Nama KH Nasaruddin mencuat di bursa calon Ketua Umum PBNU. 
Ringkasan Berita:
  • Makmur Idrus menilai peluang Nasaruddin Umar akan semakin besar bila PCNU se-Sulawesi Selatan mampu dikonsolidasikan secara solid
  • KH Nasaruddin Umar saat ini menjabat Menteri Agama

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar NU ke-35 mulai menghangat.

Sejumlah nama bermunculan, mulai dari tokoh struktural PBNU, pimpinan pesantren, menteri, hingga figur intelektual nasional. 

Salah satu nama yang mulai mencuri perhatian adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. 

Sosok Nasaruddin dinilai memiliki modal yang tidak kecil: legitimasi keilmuan, pengalaman birokrasi nasional, jejaring pesantren, serta rekam jejak panjang dalam tubuh NU.

Ia pernah menjabat Katib Aam PBNU 2010–2015, Wakil Menteri Agama, Imam Besar Masjid Istiqlal, Menteri Agama RI, dan tokoh penting di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung, Bone, Sulawesi Selatan.

Menurut Makmur Idrus, mantan Ketua PC GP Ansor Makassar dan salah satu pengurus PWNU Sulawesi Selatan, peluang Nasaruddin Umar akan semakin besar bila PCNU se-Sulawesi Selatan mampu dikonsolidasikan secara solid.

“Kalau seluruh PCNU se-Sulawesi Selatan solid mendukung Prof. Nasaruddin Umar, maka beliau berpotensi menjadi tokoh kedua dari luar Jawa yang memimpin PBNU setelah KH. Idham Chalid. Ini bukan hanya soal figur, tetapi momentum kebangkitan kader luar Jawa,” ujar Makmur Idrus

Makmur menilai, Nasaruddin bukan orang baru di NU. Ia memahami kultur PBNU, relasi Syuriyah dan Tanfidziyah, tradisi bahtsul masail, serta memiliki komunikasi luas dengan pesantren, akademisi, birokrasi, dan elite nasional.

Di tengah menghangatnya komunikasi politik NU, beredar pula informasi di kalangan PCNU bahwa pada 12 Mei 2026, KH. Zulfa Mustafa dijadwalkan melakukan pertemuan tertutup dengan sejumlah pengurus PCNU se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Pertemuan tersebut disebut-sebut menjadi bagian dari konsolidasi awal menjelang Muktamar NU ke-35. 

Tak hanya itu, informasi lain yang berkembang menyebutkan bahwa KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) juga direncanakan datang ke Makassar pada 18 Mei 2026 untuk melakukan pertemuan serupa dengan pengurus NU Se Sulawesi Selatan di salah satu hotel di Makassar.

Pertemuan itu, menurut sumber internal NU, difasilitasi oleh salah satu tokoh masyarakat Sulawesi Selatan. 

Dinamika ini menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan mulai dipandang sebagai salah satu wilayah strategis dalam percaturan politik PBNU menjelang Muktamar.

Sejumlah elite PBNU tampak mulai aktif melakukan komunikasi langsung dengan PWNU maupun PCNU di kawasan timur Indonesia.

Makmur Idrus menilai situasi tersebut menjadi pertanda bahwa suara NU Sulawesi Selatan kini mulai diperhitungkan secara serius.

“Dulu Sulsel sering dianggap hanya pelengkap dalam arena Muktamar. Tapi sekarang mulai terlihat semua poros besar datang membangun komunikasi. Artinya, suara Sulsel sudah mulai dibaca sebagai kekuatan strategis,” katanya.

Ia juga membaca kemungkinan terbentuknya poros besar bila figur seperti Cak Imin, Nusron Wahid, Nasaruddin Umar, dan Gus Ipul berada dalam satu garis dukungan politik.

“Kalau Cak Imin, Nusron Wahid, Nasaruddin Umar, dan Gus Ipul kompak mengusung satu nama, separuh pertarungan Muktamar bisa selesai sebelum arena dibuka,” ujarnya sambil tersenyum. 

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa politik NU memiliki karakter unik yang tidak selalu mudah diprediksi.

“NU itu organisasi kiai. Kadang yang terlihat kuat di permukaan belum tentu menang. Tapi kalau elit-elit besar sudah mulai bertemu dan komunikasi intens, biasanya arus bawah mulai membaca arah angin,” tambahnya.

Kini pertanyaannya, apakah modal intelektual, pengalaman PBNU, basis pesantren, dan dukungan kawasan timur Indonesia mampu diterjemahkan menjadi kekuatan struktural di arena Muktamar? 

Karena dalam politik NU berlaku satu rumus lama: “Popularitas bisa membuka pintu, tetapi suara muktamirin tetap ditentukan oleh konsolidasi kiai, struktur, dan komunikasi dari hati ke hati.”

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved