Salam Tribun Timur
Proyek Irigasi Pemprov Sulsel Mengering di Gareccing
Sawah-sawah yang airnya diperebutkan itu terhampar di sekitar proyek irigasi miliaran rupiah yang terbengkalai.
TRIBUN-TIMUR.COM - Petani Sinjai kini begadang lebih awal dari masa Piala Dunia 2026.
Di Sinjai Selatan, ada petani yang kini tidur setelah Subuh.
Bukan karena lembur kerja kantor.
Bukan pula karena menonton bola.
Tetapi karena menjaga air sawah.
Setelah Salat Isya, mereka keluar membawa senter.
Menunggu air hujan yang tersisa mengalir ke petak sawah masing-masing.
Mereka berjaga hingga dini hari.
Bahkan ada yang pulang menjelang azan Subuh.
Jika lengah sedikit, air itu sudah dibelokkan ke sawah tetangga.
Begitulah suasana petani di Desa Gareccing, Alenangka, dan Sangiasserri hari-hari ini.
Mereka sedang berebut air.
Sawah-sawah yang airnya diperebutkan itu terhampar di sekitar proyek irigasi miliaran rupiah yang terbengkalai.
Proyek Rehabilitasi DI (Daerah Irigasi) Apareng dibangun tahun 2020.
Nilainya Rp3,35 miliar dari APBD Provinsi Sulsel.
Tetapi hingga pekan pertama Mei 2026, proyek itu belum juga berfungsi.
Yang tersisa hanya jejak keperihan. Galian alat berat.
Jaringan irigasi yang tak selesai. Dan janji ganti rugi tanaman warga yang belum dituntaskan.
Padahal jika proyek irigasi itu rampung, sekitar 600 hektare sawah bisa menikmati aliran air.
Artinya, ratusan petani seharusnya tidak perlu lagi berjaga malam hanya demi setetes air.
Itu bukan sekadar proyek mangkrak.
Itu mengenai nasib petani yang digantung bertahun-tahun.
Ketika pemerintah berbicara soal ketahanan pangan, swasembada, dan ancaman El Nino, di lapangan justru ada proyek irigasi terbengkalai.
Petani akhirnya dipaksa bertahan sendiri.
Mengandalkan hujan.
Mengandalkan embun.
Mengandalkan keberuntungan.
Dan mengandalkan ketahanan begadang.
Dan ketika hujan mulai jarang turun, kecemasan ikut tumbuh di pematang sawah.
Situasi itu sangat berbahaya.
Karena konflik kecil antarpetani akibat perebutan air bisa berubah menjadi persoalan sosial yang lebih besar jika negara terus lambat hadir.
Apalagi BMKG sudah memberi peringatan: kemarau tahun ini berpotensi lebih berat akibat El Nino.
Maka proyek irigasi tidak boleh diperlakukan seperti proyek biasa.
Pemerintah Provinsi Sulsel harus segera turun langsung menyelesaikan masalah Apareng.
Jika kendalanya ganti rugi tanaman warga, selesaikan segera dengan transparan dan manusiawi.
Jika kontraknya bermasalah, buka ke publik.
Jika perlu audit, lakukan segera.
Tetapi jangan biarkan petani terus menunggu dalam gelap.
Karena petani tidak sedang meminta kemewahan.
Mereka hanya meminta air sampai ke sawahnya.
Dan negeri agraris akan terdengar sangat ironis ketika petaninya harus begadang semalaman hanya untuk menjaga aliran air hujan yang tersisa.
Wassalam!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/IRIGASI-APARENG-OK.jpg)