KLB Campak
Langkah Dinas Kesehatan Sulsel Atasi Kasus Suspek Campak
Campak mungkin hanya dianggap bagian dari masa kecil. Datang, lalu pergi. Namun ketika ia kembali dalam skala yang lebih luas, ceritanya berubah.
TRIBUN-TIMUR.COM - Campak mungkin hanya dianggap bagian dari masa kecil.
Datang, lalu pergi.
Namun ketika ia kembali dalam skala yang lebih luas, ceritanya berubah.
Di Sulawesi Selatan, lonjakan kasus tak bisa diabaikan.
1.304 kasus suspek tercatat, dengan 169 terkonfirmasi positif campak.
Kota Makassar, Kabupaten Wajo, Sinjai, dan Luwu masuk status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Ini bukan sekadar angka.
Ini alarm.
Baca juga: Luwu Siaga Satu Campak
“Jumlah suspek sekira 1.304 kasus, namun positif baru 169 kasus,” kata Kadinkes Sulsel, dr Evi Mustikawati Arifin, di Kantor Gubernur Sulsel, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Senin (13/4/2026).
Menurut dr Evi, pasien positif wajib menjalani pengobatan.
Sementara itu, pemerintah saat ini fokus pada upaya mitigasi untuk menekan penyebaran penyakit.
Salah satu langkah utama dilakukan dengan mempercepat imunisasi, khususnya bagi anak-anak di wilayah terdampak.
Baca juga: 108.772 Anak di Makassar Jadi Target Imunisasi Campak
Program imunisasi tambahan juga telah digencarkan di daerah yang berstatus KLB.
“Kita telah melakukan pemberian imunisasi tambahan di daerah KLB. Imunisasi juga diberikan bagi anak-anak yang belum lengkap,” jelasnya.
KLB campak adalah cermin.
Cermin dari lemahnya cakupan imunisasi, terbatasnya edukasi, atau bahkan minimnya kehadiran negara di titik-titik paling rentan.
Pemerintah memang telah bergerak.
Imunisasi tambahan digencarkan.
Puskesmas disiagakan.
Baca juga: Bulukumba Percepat Cakupan Imunisasi Campak
Namun KLB tidak terjadi dalam semalam.
Ia tumbuh perlahan, dari celah-celah yang dibiarkan.
Dari kelalaian yang luput diperbaiki.
Karena itu, status KLB tidak boleh lagi direspons secara reaktif.
Tidak cukup hanya mengejar kasus yang sudah muncul.
Dibutuhkan langkah yang lebih tegas.
Lebih menyeluruh dan lebih konsisten.
Campak memiliki gejala khas, di antaranya demam tinggi mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius.
Gejala ini biasanya disertai batuk kering, pilek, serta mata merah atau konjungtivitis.
Selain itu, muncul ruam merah pada kulit yang umumnya timbul 3 hingga 5 hari setelah gejala awal.
Ruam biasanya dimulai dari belakang telinga atau wajah, lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Pada beberapa kasus, juga ditemukan bercak putih kecil di dalam mulut atau bercak Koplik yang muncul sebelum ruam.
Masyarakat diimbau untuk segera melakukan imunisasi pada anak guna mencegah penularan yang lebih luas.
Pemerintah memastikan layanan imunisasi tersedia secara gratis di puskesmas.
“Semua tersedia di puskesmas, imunisasi campak gratis,” tegas dr Evi.
Ia mengingatkan agar anak yang belum mendapat imunisasi membatasi kontak dengan lingkungan sekitar, terutama dengan penderita campak.
“Himbauan ke masyarakat agar memastikan kelengkapan imunisasi anak. Hindari kontak dengan penderita, terutama bayi dan anak yang belum imunisasi,” katanya.
Di Sinjai, yang juga berstatus KLB, upaya imunisasi terus dimassifkan.
Dinas Kesehatan setempat mencatat 76 kasus suspek campak sepanjang 2026.
Sebagian besar terjadi pada kelompok usia balita.
Anak usia 0 hingga 4 tahun menjadi kelompok paling rentan terhadap penularan.
Dari 76 kasus tersebut, 35 berasal dari usia 0-4 tahun.
19 kasus lainnya dari kelompok usia 5-9 tahun.
Sisanya berasal dari kelompok usia yang lebih tinggi dengan jumlah yang jauh lebih kecil.
Data ini menunjukkan pentingnya perlindungan pada anak usia dini melalui imunisasi.
Upaya pencegahan paling efektif terhadap campak tetap melalui vaksinasi yang lengkap.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260413-Vaksinasi-Campak-di-Bulukumba.jpg)