Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sosok Kombes Zulham Effendy Bongkar Cara Bripda Pirman Aniaya Bripda DP hingga Meninggal Dunia

Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendy adalah prajurit Polri berasal dari akademi kepolisian (Akpol) 2000. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com/Muslimin Emba
PRAJURIT AKPOL 2000 - Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendy ditemui Tribun-Timur.com di Halaman RSUD Daya, Jl Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (22/2/2026). Kombes Pol Zulham Effendy memecat Bripda Pirman.  

TRIBUN-TIMUR.COM- Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendy memecat Bripda Pirman

Keputusan ini terjadi dalam sidang kode etik di ruang sidang lantai 4 gedung Mapolda Sulsel, Jl Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Senin (2/3/2026).

Bripda Pirman tersangka penganiayaan yang mengakibatkan juniornya Bripda DP (19) meninggal dunia.

Total ada 14 polisi yang merupakan rekan seangkatan Bripda Pirman dan Bripda DP yang dihadirkan.

Pengakuan Bripda Pirman yang mengaku hanya sekali memukul bagian perut dan wajah Bripda DP, terbantahkan dalam sidang itu.

Terungkap Bripda Pirman rupanya beberapa kali melakukan penganiayaan terhadap DR hingga korban terjatuh tak sadarkan diri.

"Awal pengakuannya hanya sekali pukul di perut, sekali pukul di wajah, ternyata di fakta persidangan ada beberapa kali," kata Kombes Pol Zulham Effendy seusai memimpin sidang.

Baca juga: Duduk Tenang saat Sidang, Bripda Pirman Dipecat Polri Kasus Polisi Bunuh Polisi

Pukulan bertubi-tubi yang dilakukan Bripda Pirman ke juniornya itu lanjut Zulham, dikuatkan dengan hasil visum RS Bhayangkara oleh Tim Dokpol Biddokkes Polda Sulsel.

"Ada kesesuaian hasil visum dan keterangan terduga pelanggar (Bripda Pirman)," kata Zulham.

"Walaupun awalnya tidak mengakui, tapi kita kroscek dengan keterangan saksi orang yang ada di TKP," lanjutnya.

Saksi mata penganiayaan Bripda Pirman ke Bripda DP itu kata Zulham adalah Bripda MH.

"Bripda MH ini dia pura-pura tidur, padahal dia melihat langsung terjadi pemukulan dan itu lumayan lama waktunya," beber alumnus Akpol 2000 ini.

Lebih lanjut dijelaskan, penganiayaan yang dilakukan Bripda Pirman terbilang cukup sadis.

Pasalnya, korban Bripda DP dianiaya dengan posisi kepala di bawah kaki di atas.

"Itu namanya sikap roket. Artinya itu yang buat fatal, artinya dalam keadaan terbalik kemudian dipukul," tuturnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved