Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Cinta Sejati di Soppeng

Mereka Ingin ke Tarakan Tapi Takdir Berkata Lain, Permintaan Terakhir Husain dan Biba

Hanya berselang dua jam, sang suami pergi terlebih dahulu sekitar pukul 15.00 WITA, disusul sang istri pukul 18.00 WITA.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: M. Jabal Qubais | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM/M JABAL
KISAH HUSAIN - Kisah cinta sehidup semati Husain dan Biba di Soppeng, Sulawesi Selatan. Sang anak, Baharuddin (kanan), bersama menantu, Laha (kiri), menceritakan momen-momen terakhir orang tua mereka kepada Tribun-Timur.com, Senin (13/10/2025). Pasangan lansia itu meninggal dunia di hari yang sama, hanya berselang dua jam. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Cinta sejati tak hanya hidup dalam kisah dongeng.

Di Desa Lalabata Riaja, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, pepatah 'cinta sehidup semati' menjadi kenyataan yang menggetarkan hati.

Pasangan suami istri, Husain (72) dan Biba (66), menghembuskan napas terakhir di hari yang sama, Sabtu (11/10/2025). 

Hanya berselang dua jam, sang suami pergi terlebih dahulu sekitar pukul 15.00 WITA, disusul sang istri pukul 18.00 WITA.

Keduanya berpulang meninggalkan kisah cinta yang tulus dan setia sampai mati. 

Baharuddin, putra dari almarhum pasangan ini, mengenang hari-hari terakhir orang tuanya dengan suara penuh haru. 

Ia masih ingat jelas bagaimana pada Jumat (10/10/2025), ia mendapat kabar dari tetangga bahwa sang ibu, Biba, jatuh saat mencuci pakaian di samping rumah.

“Ibu jatuh duduk saja, tidak bisa berdiri. Tetangga yang bantu angkat dan bawa masuk ke dalam rumah,” ujarnya kepada Tribun-Timur.com.

Baharuddin yang merantau di Tarakan, Kalimantan Utara, berencana pulang ke kampung untuk melihat keadaan sang ibu.

Namun takdir berkata lain.

“Saya tak dapat tiket pagi. Baru jam tiga sore saya dengar kabar, Bapak sudah meninggal. Padahal beliau sehat, masih sempat masak dan bersih-bersih rumah,” tuturnya.

Dua jam kemudian, kabar duka kembali menghantam ibunya menyusul sang suami menghadap Ilahi.

“Saya benar-benar drop. Malam itu juga saya terbang dan tiba di Makassar pukul 12 malam. Subuh saya sampai di kampung, tapi mereka sudah tiada,” ucap Baharuddin.

Tak ada tanda-tanda sakit serius.

Menurut Baharuddin, ayahnya adalah sosok aktif meski telah uzur.

Ibunya, hanya sesekali mengeluh sakit biasa.

Kini, rumah yang dulu hangat oleh canda dan kasih sayang mereka berdua, menyisakan kenangan.

Kasur tua yang selalu mereka bagi, meja makan tempat berbagi sepiring berdua, kursi santai tempat mereka duduk berdampingan setiap sore semua itu kini hanya tinggal cerita.

“Ada satu permintaan yang belum sempat saya penuhi. Mereka ingin naik pesawat ke Tarakan lagi. Biasanya saya bawa, tapi waktu itu kami pulang kampung untuk lebaran. Rencananya tahun depan mau saya ajak lagi. Tapi Allah lebih dulu memanggil,” ungkap Bahar dengan mata berkaca-kaca.

Tak hanya keluarga, para tetangga juga menjadi saksi cinta abadi pasangan ini.

Rafiuddin, tetangga dekat almarhum, mengenang keduanya sebagai pasangan yang tak pernah terpisahkan.

“Romantis terus. Makan sepiring berdua, tidur satu bantal. Selalu saling panggil kalau salah satunya tak kelihatan. Kalau Petta Biba keluar, pasti dicari sama Petta Husain,” ujarnya.

Tak pernah terlihat bertengkar, mereka justru selalu terlihat saling menyayangi, bahkan di usia senja.

“Cinta sehidup semati. Saya belajar banyak dari kisah hidup mereka. Betul-betul pasangan yang saling melengkapi,” tandas Rafiuddin.

Kini, Husain dan Biba dimakamkan berdampingan sebagaimana mereka menjalani hidup, begitu pula mereka menghadap Sang Pencipta.

“Kami hanya bisa mendoakan, semoga Indo dan Ambo tenang di sisi Allah. Kami ikhlas,” ucap Bahar.

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved