Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Merawat Kelestarian Lipa Garusu dari Tangan Mannia Parenta

Sarung Garusu’ atau sering disebut lipa' garusu' dalam bahasa Bugis adalah jenis sarung tenun tradisional khas Sulawesi Selatan. 

Tayang:
Penulis: Hardiyanti Kamaluddin | Editor: Waode Nurmin
Tribun-Timur.com/ Hardiyanti Kamaluddin
PENENUN BUGIS-Penenun Bugis Sidrap, I Mannia saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Arateng, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Senin (11/5/2026). I Mannia menjadi satu-satunya perempuan Bugis Sidrap yang masih menjaga tangannya untuk menenun “lipa’ garusu”. 

TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP — Kerajinan tenun tradisional di Kabupaten Sidrap kini semakin jarang digeluti masyarakat, bahkan nyaris tidak memiliki penerus.

Salah satu penenun yang masih bertahan melestarikan budaya tersebut adalah Mannia Parenta atau akrab disapa I Mannia (59).

Warga Kelurahan Arateng, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Senin (11/5/2026).

I Mannia menjadi satu-satunya perempuan di wilayah tersebut yang masih mempertahankan keterampilan menenun secara tradisional, khususnya pembuatan Sarung Garusu’.

Saat ditemui di rumahnya, I Mannia tengah menyelesaikan proses menenun Sarung Garusu’.

Sarung Garusu’ atau sering disebut lipa' garusu' dalam bahasa Bugis adalah jenis sarung tenun tradisional khas Sulawesi Selatan. 

Kain tenun tersebut dikenal memiliki permukaan mengkilap, halus, dan kaku.

Sarung Garusu’ dibuat melalui proses khusus.

Setelah kain selesai ditenun, proses penggosokan dilakukan agar sarungnya lebih bagus.

Tepung kanji terlebih dahulu dimasak hingga kental, kemudian dioleskan secara merata ke seluruh bagian kain tenun.

Setelah kain mengering, permukaannya digosok menggunakan cangkang keong laut hingga menghasilkan tekstur khas.

Menurut I Mannia, semakin lama proses pengerjaan dilakukan, kualitas sarung yang dihasilkan akan semakin baik.

Tidak hanya menenun, I Mannia juga membuat sendiri motif bunga atau kembang yang akan ditenun satu per satu menggunakan benang pilihan.

Proses pembuatan satu Sarung Garusu’ membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan, tergantung jenis bahan dan tingkat kesulitan pengerjaan.

I Mannia mengaku telah menekuni keterampilan menenun sejak masih gadis atau sekitar 40 tahun lalu.

Kini, ia mulai mewariskan kemampuan tersebut kepada anaknya agar tradisi tenun Bugis tetap terjaga, khususnya di Sidrap.

Sarung Garusu’ biasanya digunakan untuk acara pernikahan, pameran, hantaran, maupun dijual kembali.

Harga satu sarung bervariasi.

Mulai Rp1 juta hingga Rp10 juta, tergantung jenis benang, motif, dan tingkat kesulitan pengerjaan.

Menurut I Mannia, proses menenun membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi.

Sehingga tidak banyak anak muda yang tertarik menekuninya.

Ia berharap ada regenerasi di Sidrap dapat belajar dan melanjutkan budaya tenun tradisional tersebut.

“Memang pekerjaan ini sulit. Tapi kalau belajar terus menerus pasti akan pandai juga. Sayang juga kalau tidak ada penerusnya,” katanya.

Ia juga berharap Pemerintah Kabupaten Sidrap dapat membuka akses pembelajaran menenun bagi anak-anak muda di daerah tersebut.

Keuletan tangannya berbicara. Ketekunannya menenun menjadi tanda bahwa ia tidak sekadar mencari nafkah melalui keterampilannya, tetapi juga menjaga kelestarian itu agar tidak punah oleh zaman (*)

Laporan ReporterSidrap: Hardiyanti Kamaluddin 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved