Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sawah di Pinrang Diserang Hama, DPRD Soroti Kinerja Penyuluh Pertanian

DPRD Pinrang pun mengkritik kinerja instansi terkait yang dinilai belum maksimal dalam melakukan langkah mitigasi.

Tayang:
Penulis: Rachmat Ariadi | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com
SAWAH PINRANG. Ketua Komisi II DPRD Pinrang, Amri Manangkasi. DPRD soroti kinerja penyuluh pertanian imbas ratusan hektare sawah petani diserang hama. 

TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG -- Sektor pertanian di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) kini berada di bawah bayang-bayang kegagalan panen.

Pasalnya, sebanyak 232 hektare sawah di Bumi Lasinrang terserang hama penggerek batang dan tikus yang masif dilaporkan mengancam produktivitas lahan sawah.

DPRD Pinrang pun mengkritik kinerja instansi terkait yang dinilai belum maksimal dalam melakukan langkah mitigasi.

Ketua Komisi II DPRD Pinrang, Amri Manangkasi mengatakan, serangan hama di lahan sawah petani ini dikarenakan kurangnya sosialisasi terkait dampak keterlambatan musim tanam terhadap risiko serangan hama.

Harusnya kata dia, para penyuluh pertanian di tingkat kecamatan hingga desa lebih proaktif dalam mengedukasi para petani.

"Sosialisasi itu penting dilakukan dalam rangka pencegahan segala persoalan yang menghambat meningkatnya nilai produksi pertanian kita," katanya saat dihubungi Tribun-Timur.com, Senin (13/4/2026).

Amri mengungkapkan, penyuluh pertanian tidak boleh hanya menunggu laporan, tetapi aktif turun langsung ke kelompok-kelompok tani untuk memberikan solusi teknis saat gejala serangan hama mulai ditemukan.

Dia melanjutkan, sektor pertanian merupakan program strategis nasional yang didanai oleh APBN untuk mewujudkan ketahanan pangan dan swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Namun, minimnya tindakan nyata di lapangan dikhawatirkan akan membuat proyeksi hasil panen di Pinrang menurun drastis.

"Penyuluh pertanian mestinya pro-aktif turun ke lapangan. Sama sekali tidak ada langkah upayanya, justru malah menyalahkan petani, itu lebih salah," tegas legislator Partai Golkar ini.

Amri pun berencana menjadwalkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan memanggil Dinas Pertanian serta institusi terkait lainnya terkait hal tersebut.

Agenda utama pertemuan tersebut adalah mengevaluasi kinerja penyuluh serta menyusun langkah konkret untuk menyelamatkan sisa musim tanam.

"Iya, kita akan susun jadwal untuk panggil semua institusi terkait persoalan ini. Proyeksi pertanian kita yang kemungkinan gagal," ungkapnya.

Petani Rugi

Rata-rata sawah terserang hama berada di Kecamatan Cempa dan Patampanua.

Hama yang menyerang ratusan hektare sawah jenis penggerek batang dan tikus.

Para petani pun mulai panik, lantaran tanaman padi mereka kondisinya mengering dan mati.

Mereka juga kawatir serangan hama penggerek batang terus meluas hingga berpotensi mengakibatkan gagal panen.

Seorang petani, Jamil Hasim mengatakan, hampir sebagian tanaman padi yang ditanam mengering tak berbuah setelah diserang hama penggerek batang.

"85 are, ini hasilnya saya dapat 19 karung. Biasanya bisa dapat 45 karung. Diserang penggerek batang," katanya kepada Tribun-Timur.com, Senin (13/4/2026).

Jamil mengungkapkan, hal ini membuat dirinya menerima kerugian pada musim panen pertama di tahun 2026 ini.

Pasalnya kata dia, hasil panen tidak menutupi biaya saat penanaman dan perawatan padi.

"Gagal panen tidak, cuma rugi kita karena tidak menutupi biaya produksi. Karena sewa dompeng (traktor) saja itu Rp 2 juta per hektar, padahal harga gabah sekarang lumayan Rp 7.200 per kilo," ungkapnya.

Petani lainnya, Aco mengaku hasil panen musim tanam kali ini jauh dibanding pada musim tanam sebelumnya.

Menurutnya, sawah seluas 2 hektare miliknya hanya menghasilkan 45 karung gabah. Padahal musim tanam sebelumnya hasilnya ratusan karung.

"Jauh sekali perbandingan hasil panennya, kemarin ada ratusan karung, sekarang cuma 45 hektare," ucapnya.

Kadis Pertanian Pinrang, Andi Sinapati Rudy mengutarakan, dari laporan anggotanya jumlah sawah yang terserang hama penggerek batang seluas 115 hektare di Kecamatan Cempa.

Sementara luas hama tikus sebanyak 117 hektare yang berada di Kecamatan Patampanua.

"Yang masif terserang hama untuk penggerek batang di Cempa 115 hektare, untuk serangan tikus ada di Patampanua 117 hektare," ujarnya.

Andi Sinapati menjelaskan, banyaknya sawah  terserang hama karena sejumlah petani tidak menanam sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

"Ini karena memang ketidaktepatan para petani kita juga dalam kegiatan penanaman di musim tanam awalnya," ucapnya.

"Kami sudah sampaikan bahwa dalam hasil rapat turun sawah, ternyata memang di lapangan masih ada beberapa petani juga yang masih menunggu-menunggu (menanam padi)," jelasnya.

"Padahal dari rekomendasi dari teman-teman penyuluh, memang bertanam di bulan Januari pasti akan terkena dampak serangan hama. Nah, ini resikonya," lanjutnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved