Prespektif Syamril
Refleksi Tahun Baru Hijriyah: Ular dan Ulat
Di era sekarang juga tetap ada. Bahkan lebih besar dan massif lagi. Celah korupsi masuk dalam program strategis nasional seperti MBG.
Mari merenung sejenak. Apa perubahan itu ala ular? Apa hanya ganti rezim atau pejabat atau partai saja? Tanpa ada perubahan berarti di pola pikir dan perilaku?
Sepertinya demikian, perubahan ala ular. Jika pada masa Orde Baru terjadi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Di era sekarang juga tetap ada. Bahkan lebih besar dan massif lagi. Celah korupsi masuk dalam program strategis nasional seperti MBG.
Kepala BGN dan dua wakilnya sudah ditangkap. Sebentar lagi akan menyusul tersangka baru. Belum lagi pada program lain yang dicurigai juga ladang korupsi seperti Koperasi Desa Merah Putih.
Kolusi dan nepotisme juga demikian. Bahkan sekarang lebih subur dan besar.
Pada era Orde Baru, sebagian besar Menteri yang diangkat memang kompeten di bidangnya.
Ahli ekonomi, teknologi, lingkungan hidup, dan sebagainya.
Di era sekarang, pengangkatan sebagian besar Menteri dan Wakil Menteri bukan karena kompetensi dan karakter.
Mereka diangkat karena koneksi, loyalitas dan nepotisme hubungan kekerabatan.
Apa dampaknya? Korupsi tetap subur dan merajalela.
Dana APBN penggunaannya tidak efektif dan efisien.
Program yang dibuat kadang tidak menyentuh kebutuhan rakyat.
Program berjalan dengan dana yang di mark up atau dipotong untuk biaya tidak jelas.
Jadi ingat sabda Nabi "jika urusan diserahkan bukan pada ahlinya, tinggal menunggu kehancuran".
Pejabat negara juga sebagian besar tidak terlihat intelektualitas dan integritasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Syamril-Direktur-Sekolah-Islam-Athirah-65.jpg)