Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Salam Tribun Timur

Mencari Murid Berprestasi dengan Cara Lebih Adil

Ada pula yang gelisah melihat nilai anak, sambil berharap pintu sekolah impian tetap terbuka.

Tayang:
Tribun-timur.com
SPMB SULSEL - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sulsel segera dimulai secara online di laman spmb.sulselprov.go.id. Khusus jalur afirmasi, calon murid diterima dari keluarga tidak mampu yang terdaftar DTSEN. (spmb.sulselprov.go.id) 

TRIBUN-TIMUR.COM - Penerimaan murid baru hampir selalu menjadi musim paling mendebarkan bagi orang tua.

Kadang lebih menegangkan daripada anaknya sendiri.

Ada yang sibuk menghitung peluang.

Ada yang mulai mencocokkan zonasi.

Ada pula yang gelisah melihat nilai anak, sambil berharap pintu sekolah impian tetap terbuka.

Karena itu, setiap perubahan dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) selalu mengundang perhatian.

Tahun ini, Pemerintah Kota Makassar mengambil satu langkah yang patut diapresiasi.

Jalur prestasi tidak lagi hanya bertumpu pada satu angka: nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Kini, seleksi memadukan nilai TKA dengan rapor.

Mungkin terdengar sederhana.

Tetapi ini sesungguhnya perubahan cara pandang.

Sebab anak tidak bisa diukur hanya dari satu hari ujian.

Ada anak yang mungkin gugup saat tes.

Ada yang kurang beruntung di satu momentum.

Tetapi selama bertahun-tahun menunjukkan konsistensi belajar di sekolah.

Sebaliknya, ada pula yang sangat baik di ujian, tetapi kurang stabil dalam proses pembelajaran harian.

Di sinilah pentingnya keseimbangan.

Ketika nilai TKA dipadukan dengan rapor, sekolah sedang diajak melihat siswa secara lebih utuh.

Tidak hanya kemampuan menjawab soal dalam beberapa jam, tetapi juga jejak belajar selama bertahun-tahun.

Pemerintah Kota Makassar tampaknya ingin mengirim pesan: prestasi bukan soal sekali tampil hebat, tetapi tentang konsistensi.

Dalam kasus ini, Dinas Pendidikan Kota Makassar layak mendapat apresiasi karena mencoba membangun sistem yang lebih komprehensif.

Apalagi langkah ini tetap berada dalam koridor regulasi nasional, namun disesuaikan dengan kebutuhan lokal agar lebih adil.

Yang juga menarik, jalur prestasi non-akademik tetap diberi ruang jelas.

Prestasi olahraga, seni, maupun kompetisi lain tetap dihargai.

Tetapi dengan standar verifikasi yang lebih ketat.

Sertifikat harus berasal dari lembaga resmi, masa berlakunya dibatasi, dan hanya satu capaian terbaik yang digunakan.

Ini penting untuk menjaga kredibilitas sistem.

Karena pengalaman selama ini menunjukkan, polemik penerimaan siswa sering kali lahir bukan dari sistemnya, melainkan dari ruang abu-abu yang terlalu longgar.

Tentu, tidak ada sistem yang sempurna.

Selalu ada kritik.

Selalu ada orang tua yang merasa belum puas.

Tetapi pendidikan memang tidak boleh berhenti memperbaiki cara menilai anak-anak kita.

Sebab sekolah bukan sekadar mencari murid pintar.

Sekolah sedang mencari potensi masa depan.

Yang terpenting sekarang adalah memastikan sosialisasi berjalan baik.

Jangan sampai perubahan aturan justru membingungkan masyarakat.

Orang tua perlu penjelasan sederhana, terbuka, dan mudah dipahami.

Karena sistem yang baik pun bisa gagal bila komunikasinya buruk.

Dan satu hal yang patut dijaga: jangan biarkan proses ini kehilangan rasa keadilan.

Karena bagi banyak keluarga, SPMB bukan sekadar urusan administrasi tahunan.

Ini tentang harapan.

Tentang masa depan anak-anak mereka. Wassalam.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved