Opini
Mengikis Ketimpangan Antar Daerah di Sulawesi Selatan Menuju 2026
Negara berkembang umumnya ditandai dengan ketimpangan ekonomi antar daerah yang tinggi.
Oleh: Anas I. Anwar Makkatutu
TRIBUN-TIMUR.COM - Ketimpangan ekonomi masih menjadi persoalan yang banyak dihadapi oleh berbagai negara di didunia terlebih lagi di negara berkembang termasuk di Indonesia.
Negara berkembang umumnya ditandai dengan ketimpangan ekonomi antar daerah yang tinggi.
Beberapa faktor penyebab diantaranya terdapat perbedaan potensi sumberdaya alam, perbedaan kualitas sumberdaya manusia, serta keterbatasan sarana dan prasarana.
Hal inilah yang membuat sebagian daerah yang masih berkembang tidak mampu memanfaatkan proses pembangunan yang sedang dan akan dilaksanakan.
Keadaan sebaliknya dialami oleh negara maju dimana kondisi infrastruktur serta kualitas sumberdaya manusia yang lebih baik, sehingga setiap daerah dapat memaksimalkan peluang dari setiap proses pembangunan.
Akibatnya pembangunan yang dilakukan memiliki dampak secara langsung terhadap penurunan ketimpangan antar daerah.
Sulawesi Selatan sering disebut sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di Kawasan Timur Indonesia.
Namun, di balik angka-angka makro yang menggembirakan, tersembunyi ketimpangan pembangunan yang tajam antar wilayah.
Makassar dan sekitarnya tumbuh pesat seperti metropolis modern. Data BPS 2023 mencatat, kontribusi PDRB Kota Makassar mencapai 35,7 persen dari total ekonomi Sulsel, sementara kabupaten lainnya jauh dibawah angka tersebut, bahkan ada yang hanya menyumbang 0,8 % .
Angka ini mempertegas betapa timpangnya pembagian kue pembangunan di Sulsel dan masih bergulat dengan keterbatasan infrastruktur, akses pasar, dan kesempatan ekonomi.
Jika tidak segera diatasi, kesenjangan ini akan menjadi bom waktu yang menghambat potensi Sulsel menjelang 2026.
Ketimpangan pembangunan antara kota inti seperti Makassar, Parepare, dan Palopo dengan daerah pedesaan atau kepulauan di Sulsel masih menjadi tantangan serius.
Jika tidak segera diatasi, kesenjangan ini akan semakin melebar dan berpotensi memicu masalah sosial, seperti urbanisasi massal dan ketidakpuasan daerah.
Akar ketimpangan yang terjadi selama ini antara lain: konsentrasi investasi Dimana lebih dari 60 % investasi di Sulsel terserap di Makassar, Maros, dan Gowa.
| Literasi Digital untuk Makassarku |
|
|---|
| Uji Konsistensi Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia di Tengah Eskalasi Konflik Global |
|
|---|
| Sama Jangan Dibedakan, Beda Jangan Disamakan: Catatan Akhir Tahun Menyongsong 2026 |
|
|---|
| Bencana: Literasi Lingkungan Sebagai Solusi! |
|
|---|
| Ketika Ego Sektoral Mematikan Arah Promosi Global Pariwisata Sulawesi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-30-Anas-I-Anwar-Makkatutu.jpg)