Opini
ESG dan Komitmen Pembangunan Berkelanjutan
Namun di luar lingkaran itu, banyak warga mungkin masih bertanya-tanya apa sebenarnya makna dari istilah tersebut.
Oleh: Andi Faisal
Dosen Akuntansi Universitas Negeri Makassar / Pakar Penganggaran Publik
TRIBUN-TIMUR.COM - DALAM beberapa tahun terakhir, istilah ESG—singkatan dari Environmental, Social, and Governance—muncul di berbagai ruang.
Ada dalam laporan perusahaan, seminar pemerintah, hingga diskusi akademik.
Namun di luar lingkaran itu, banyak warga mungkin masih bertanya-tanya apa sebenarnya makna dari istilah tersebut.
Apakah ESG hanya tren baru dalam dunia bisnis? Atau justru sebuah gagasan penting yang menyentuh masa depan kita?
Jika dilihat lebih dekat, ESG sesungguhnya berbicara tentang hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kita merasakannya ketika banjir datang lebih cepat dari biasanya, ketika udara terasa lebih panas, ketika sampah plastik menumpuk di sungai, atau ketika proyek besar berdiri tanpa memberi banyak manfaat bagi masyarakat sekitar.
Semua itu adalah tanda bahwa pembangunan tidak boleh hanya mengejar kecepatan dan keuntungan, tetapi juga memikirkan bagaimana manusia dan alam dapat hidup berdampingan secara wajar.
ESG mengingatkan bahwa pembangunan harus dilakukan dengan cara yang tidak merusak lingkungan.
Kita sudah terlalu sering melihat bagaimana pohon ditebang lebih cepat daripada ditanam kembali, atau bagaimana kualitas udara menurun di banyak kota besar.
Jika pembangunan membuat lingkungan rusak, pada akhirnya manusialah yang akan menanggung akibatnya.
Kerusakan alam selalu kembali kepada kehidupan sehari-hari kita: naiknya biaya kesehatan, kehilangan sumber air bersih, atau rusaknya mata pencaharian masyarakat.
Tetapi pembangunan berkelanjutan bukan hanya soal lingkungan. Ia juga menyangkut manusia yang tinggal di sekitarnya.
Di banyak tempat, sebuah pabrik atau proyek infrastruktur berdiri megah, tetapi masyarakat di sekitarnya tetap hidup dalam keterbatasan.
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulawesi Selatan |
|
|---|
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-11-29-Andi-Faisal.jpg)