Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Tarekat Jalan Pintas Menuju Tuhan - 2

Apabila seorang salik telah berhasil pada maqam tauhid, maka akan berhasil pada maqam makrifat.

Editor: Sudirman
Grafis Tribun Timur/ Muhlis
OPINI - Potret Mahmud Suyuti, Dosen Ilmu Hadis UIM Makassar. Mahmud salah satu penulis Opini Tribun Timur. 

Beragama secara awam. Duga-duga. Sekedar berbaik sangka. Terus rukuk dan sujud sambil berdoa, meski tak pernah dijawab-Nya. Memang kita disyariatkan untuk beribadah.

Tapi ya begitu. Walau terus kita lakukan, tidak sekalipun Tuhan menunjukkan aurah-Nya. Kita belum bisa merasakan kehadiran-Nya.

Nah ini inilah keislaman pada dimensi tauhid dan syariat, itu sifatnya pasif. Pada dimensi makrifat, keislaman menjadi sangat dinamis.

Tuhannya sudah aktif. TV nya sudah hidup. HP nya sudah berbunyi. Pintu langit sudah terbuka.

Dia senantiasa hadir dalam aneka cara-Nya dalam wujud spiritual. Dia sudah mulai berbicara, dan kita pun sudah mampu merespon-Nya.

Allah swt berfirman, seandainya kita tidak tuli, bisu dan buta. kita pasti akan mampu berhubungan dengan-Nya (QS. al-Baqarah/01: 18).

Nah untuk mencapai makam makrifat, penyakit tuli, bisu dan buta harus disembuhkan. Hasad, iri, dengki, sombong, takabbur dan penyakit hati lainnya perlu disembuhkan melalui terapi, itulah suluk melalui bimbingan mursyid tarekat.

Dalam risalah Zubdat al-Asrar karya Syekh Yusuf al-Makassariy dikatakan bahwa apa saja yang ada selain Allah swt hanya sebagai fenomena dari wujud al-Haqq (Allah), wujud
yang berdiri sendiri dan memberi wujud bagi yang lain.

Hal ini diumpamakan bayang-bayang, yang dimana bayang-bayang itu bukan terwujud dengan sendirinya, melainkan dikatakan bahwa bayang-bayang itu fenomena dari wujud seseorang.

Konseptual itulah menurut Syekh Yusuf disebut dengan al-Ihathah sedikit identik dengan al-ma’iyah. 

Keduanya tidak terpisahkan. Al-Ihathah adalah mencakup atau meliputi, sedangkan alma’iyah kesertaan atau ada di mana-mana.

Implementasi al-ihathah dan al-ma’iyyah merupakan jalan pintas untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan berserta-Nya, yakni peliputan terhadap hamba-Nya.

Tidak terpisah Allah dengan hamba-Nya karena Allah beserta dan meliputi hamba-Nya, Wakanallahu Bikullu Syain Muhit (QS. al-Nisā /4: 126), ayat lain Wahuwa
Ma’kum Ayna Makuntum (QS. al-Had d/57:4), Nabi SAW bersabda, Afdhalul Abdu an-Ya’lamu bi Annallaha Ma’ahu.

Kebersamaan Tuhan dengan hamba-Nya adalah seperti kebersamaan ruh dengan jasad. Demikian halnya tentang terbatasnya Tuhan dengan semuanya seperti terbatasnya yang disifati dengan sifat-Nya.

Misalnya kayu bakar, kayu bakar berdiri sendiri sedangkan api berdiri dengan kayu bakar.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved