Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

In Memoriam Puang Ramma 

Pasca haul, ribuan jamaah dan murid-murid Puang Ramma yang tergabung di tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy telah kembali ke daerahnya.

Editor: Sudirman
DOK PRIBADI
RUBRIK OPINI - Mahmud Suyuti Sekjen Jam’iyah Khalwatiyah tahun 2013-2020 dan Katib Am Jam’iyah Khalwatiyah tahun 2020-sekarang. 

Oleh: Mahmud Suyuti

Sekjen Jam’iyah Khalwatiyah tahun 2013-2020 dan Katib Am Jam’iyah Khalwatiyah tahun 2020-sekarang

TRIBUN-TIMUR.COM - Haul ke-19 Puang Ramma telah dilaksanakan pekan lalu (Jumat-Ahad/05-07/09) di Markaz Jam’iyah Khalwatiyah Jl. Baji Bicara No. 7-8 Makassar.

Pasca haul, ribuan jamaah dan murid-murid Puang Ramma yang tergabung di tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy telah kembali ke daerahnya masing-masing.

Sebagian mereka yang dari Pulau Jawa, Sumatera, Maluku, Sumbawa, Kalimantan, Papua pulang mengendarai kapal laut. Sebagian lagi jamaah menumpangi pesawat.

Jamaah lokal pulau Sulawesi khususnya Sulselbar yang mengendari bus pribadi maupun carter singgah ziarah di makam Puang Ramma di tambua Maros sekira 12 kilometer ke arah Utara dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Tausiah

Di kompleks Makam Puang Ramma terpasang beberapa spanduk dan baliho bertuliskan tausiah yang disampaikan kepada jamaah, murid-muridnya sebelum beliau wafat. 

Selain spanduk dan baliho, sebagian tausianya tertulis pada dinding tembok sebelah atas bagian Selatan pusara makam Puang Ramma dan jelas sekali terbaca bagi setiap peziarah.

Minimal tiga tausiah Puang Ramma yang perlu dikemukakan.

Pertama, “NU dibangun oleh para ulama maka lanjutkan perjuangan mereka, jangan kecewakan mereka”.

Tausiah ini sebagai pesan visual agar kaum Nahdliyyin tergugah untuk melanjutkan khittah cita-cita perjuangan ulama NU.

Kedua, “Alai Sifa’na Waede”, ambillah sifatnya air. Sifat sekaligus zat air adalah mensucikan sebagai simbol bagi manusia agar selalu dalam keadan suci dan bersih secara lahir maupun batin. 

Ketiga, “Padecengi Atimmu”, perbaiki hatimu, sucikan hatimu atau bersihkan hatimu yang oleh Puang Makka sebagai mursyid ke-12 penerus Puang Ramma menekankan agar murid-muridnya selalu tazkiyatul qalb ‘an sifatil mazmumah, yakni pensucian jiwa dari sifat-sifat tercelah.

Mahabbah

Puang Ramma yang nama lengkapnya Syekh Sayyid Djamaluddin Assegaf Puang Ramma al-Khalwatiy Qaddasallahu Sirrah merupakan zurriyatul rasul yang dimuliakan banyak orang.

Memuliakan Puang Ramma bukan berarti mengkultuskannya tetapi sebagai ekspektasi rasa mahabbah terhadapnya.

Bukan secara kebetulan jika tema haul ke-19 Puang Ramma yang telah dilaksanakan adalah “Kecintaan Allah dan Rasulullah padamu tergantung kecintaanmu kepada Orang Tua dan Gurumu”.

Kecintaan terhadap guru merupakan implementasi mahabbah yang dalam dunia tasauf menjadi maqam yang sangat urgen.

Wajar jika murid-murid Puang Ramma memiliki mahabbah yang sangat tinggi kepada mursyid dan masyaikhnya.

Puang Ramma sebagai mursyid tarekat dan muassis NU Sulawesi Selatan yang berwibawah dan ditokohkan, memilki sejumlah karamah.

Jika Nabi SAW diberikan mukjizat maka ulama sebagai pewaris nabi diberikan karamah sebagai penghormatan dan pemuliaan terhadapnya karena martabat atau kedudukannya yang mulia di sisi Allah swt

Karamah hanya terjadi pada ulama yang berpredikat seorang wali yang saleh, hanya terjadi pada diri seseorang sufi sebagai tanda kemuliaannya karena senantiasa istiqamah serta telah melewati beberapa maqam kesufian. 

Dengan demikian karamah merupakan istilah kesufian yang diistilahkan dengan kekeramatan, kelebihan khusus, kesaktian-kesaktian, dan keajaiban sebagai anugrah dari Allah SWT kepada seorang sufi. 

Karamah-1

Dalam Manaqib Puang Ramma disebutkan 12 karamah yang beliau miliki. Namun di sini cukup disebutkan dua sampel saja. 

Pertama, selamat dari hempasan ombak. Kedua murid Puang Ramma selamat dari kebakaran di Mina. 

Sewaktu Puang Ramma akan pergi ziarah ke makam kakeknya, Syekh Alwi Tuan Karamah di Pulau Barrang Lompo, ombak sangat kencang dan menggulung tinggi tiga sampai meter. Tidak satupun kapal sampan dan perahu yang berani berlayar. 

Setelah beberapa kali negosiasi pada akhirnya pengemudi kapal setuju, walaupun dengan khawatir bercampur takut, bahkan kelihatan gemetaran sesaat memulai menggerakkan nahkodanya.

Berjalanlah perahu itu dan ditengah perjalanan turun hujan lebat dan ombak semakin meninggi.

Di tengah hempasan ombak disertai hujan, Puang Ramma berdoa sambil mengangkat tangan kanannya sejajar dengan dada.

Walhasil ombak besar yang menghantam itu redah, air lautpun tenang dan kapal yang ditumpanginya sebanyak 20-an orang tiba dengan selamat di tujuan.

Karamah-2

Kebakaran di area tenda Mina 15 April 1997 menelan banyak korban jiwa. Diberitakan saat itu 343 jamaah haji meninggal dunia dan 1.500 lainnya terluka.

Bertepatan dengan itu, Puang Ramma di Makassar ke tukang cukurnya, yakni Pak Mahmud orang Madura.

Saat dicukur Puang Ramma tiba-tiba berdoa agar jamaahnya di tanah suci, Pak Bulu diselamatkan dari kebakaran. 

Sepulang menunaikan haji, H. Bulu tidak pulang ke rumahnya di Maros, tetapi langsung ke Jl. Baji Bicara menangis dan bersujud di hadapan Puang Ramma

Sang murid menceritakan ke gurunya bahwa sewaktu kejadian di Mina ada Puang datang me¬narik saya keluar dari tenda sehingga selamat dari kobaran api. 

Puang Ramma bertanya ke muridnya: “Kau liat saya di mana, baju apa saya pakai saat itu?” 

H. Bulu menjawab, “Saya yakin sekali kita itu Puang sambil menyebut motif baju yang dipakai Puang Ramma

Untuk meyakinkan, Puang Ramma memanggil H. Bulu ke kamar kemudian mem¬per¬lihatkan beberapa bajunya, lalu H. Bulu menunjuk baju Puang Ramma yang kemeja putih lengan pendek bergaris-garis hitam, persis sama dengan baju yang dipakai Puang Ramma saat dicukur.  

Banyak penuturan dari jamaah Khalwatiyah saat menunaikan ibadah haji bertemu Puang Ramma di sana. 

Nasran Mone yang akrab disapah Cakmon menuturkan bahwa saat menunaikan haji, beliau bertemu dengan Puang Ramma saat wukuf di Arafah.

Banyak pengakuan yang sama dituturkan Cakmon, namun di sini tidak dikemukakan secara detail dan lengkap tentang karamah Puang Ramma untuk menghindari riya’. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved