Opini
Urgensi Pendidikan Kader Ulama
Mereka telah dikalahkan, dibantai, dirampas negeri dan kekayaannya, dirampas kehidupan dan harapannya.
Oleh: Ilham Kadir
Penulis Buku ‘Ilmu Pendidikan Kader Ulama’
TRIBUN-TIMUR.COM - PADA abad ini, tidak ada kaum lain yang mengalami kekalahan atau kehinaan sebagaimana yang dialami kaum muslimin.
Mereka telah dikalahkan, dibantai, dirampas negeri dan kekayaannya, dirampas kehidupan dan harapannya.
Mereka telah ditipu, dijajah dan diperas, ditarik melalui paksaan atau penyuapan ke dalam agama-agama lain.
Semua ini praktis terjadi di setiap negeri dan pelosok dunia Islam, sebagai korban segala macam penganiayaan dan agresi, kaum muslimin difitnah dan dijelek-jelekkan di hadapan seluruh bangsa-bangsa.
Pada saat ini, mereka memiliki citra yang paling buruk, dalam media internasional kaum muslimin dinyatakan bersifat agresif, destruktif, mengingkari hukum, teoritis, biadab, fanatik, kuno, dan menentang zaman, (al-Faruqi, 1984:1).
Demikian keadaan ummat Islam yang digambarkan oleh Prof. Ismail Raji al-Faruqi (1921-1986) dalam sebuah seminar tentang islamisasi ilmu pengetahuan yang berlangsung di Islamabad, Januari 1982.
Masalah yang bertubi-tubi menimpa ummat Islam menurut al-Faruqi, sejak empat dekade lalu merupakan masalah eksternal yang hingga kini sebagian besar masih sa ngat relevan.
Ilmuan muslim kontemporer, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam International World Muslim Conference on Education yang dihadiri sebanyak 313 cendikiawan dan ulama seluruh dunia yang diadakan di Makkah al-Mukarramah pada bulan Mei 1977 telah mamaparkan masalah mendasar ummat Islam, baik secara eksternal maupun internal.
Secara internal disebabkan karena keruntuhan adab (loss of adab), yakni kehilangan disiplin akal, rohani dan jasmani yang akan mengakibatkan ketidak mampuan ummat
Islam meletakkan sesuatu pada tempatnya yang wajar, dan pada akhirnya menimbulkan kesalahan dan kezaliman dalam berbagai sendi kehidupan.
Sedangkan masalah eksternal disebabkan karena pertentangan abadi antara kebudayaan dan peradaban Barat dengan Islam, (al-Attas, 1990).
Menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, jika Samuel Huntington pada awal 1990- an menggemparkan dunia dengan teori “the clash of civilizations” yang bersifat provokatif dan berstrategi geo-politik, maka al-Attas dalam Islam and Secularism, (al-Attas, 2004) dua dekade lebih duluan, telah menguraikan gagasan lebih intelektual dan spiritual, yaitu, “the perpetual clash of worldwiews between Islam and the West” atau ‘bentrokan abadi antara pandangan hidup Barat dan Islam’, (Wan Daud, 2022: 702)
Majid Irsan al-Kilani menuangkan hasil diag nosa keadaan ummat Islam saat ini, ia menulis dunia Islam tengah menerima gempuran hebat kesekian kalinya.
Di depan mata ‘rumah-rumah jagal manusia’ sengaja dibangun untuk menghabisi kaum muslimin, darah ditumpahkan, kesucian dinodai, kehormatan dicederai, dan segenap sumber daya dijarah.
Ironisnya, ketika semua peristiwa tragis tersebut dibahas dalam ruanhruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), juga di depan organisasi dan forum politik berskala internasional lainnya, kejahatan para manusia biadab itu malah dipandang sebagai kebenaran, sementara hak orang-orang yang teraniaya dianggap sebagai kebatilan,
(al-Kilani, 2019).
Wajar saja jika para pemerhati, dari kalangan non-muslim maupun ummat Islam sendiri bertanya-tanya: Kenapa agama Islam dan ummatnya selalu menjadi target utama kolonialisme dan kritikan Barat dibandingkan agama dan ummat lain dalam sejarah manusia?
Tidak terlihat kritikan-kritikan Barat yang bertubi-tubi selama ratusan tahun terhadap Gautama Buddha, Kung Fu Tse atau Lao Tse dibandingkan kritikan yang dilontarkan kepada pribadi dan ajaran Nabi Muhammad.
Pertanyaan tersebut dijawab tuntas oleh al-Attas sebagaimana dikutip Wan Mohd Nor Wan Daud, bahwa:
(1) Kebangkitan Islam di atas pentas sejarah dunia telah menantang pengakuan agama Kristen sebagai agama universal untuk seluruh ummat manusia;
(2) Sejak awal lagi, al-Qur’an telah menggugat dasar-dasar akidah Kristen dengan menolak bahwa Allah dapat beranak dan diperanakkan, serta eksistensi Nabi Isa serta ibunya, Maryam;
(3) al-Qur’an menceritakan dengan jelas sikap dan prilaku pemuka-pemuka agama Yahudi dalam menyelewengkan ajaran-ajaran para nabi dan rasul dari Bani Israel;
(4) Islam telah mengubah jiwa dan raga orang-orang Barat secara revolusioner dan medan-medan linguistik, kebudayaan, sosial keilmuan, dan ekonomi;
(5) Perluasan pengaruh Islam serta daerah kekuasaannya di Timur Tengah termasuk kawasan yang sebelumnya milik Kerajaan Bizantium, India dan Afrika dalam waktu yang
begitu singkat, dan selama lima abad menjadi penguasa tunggal perdagangan laut Mediteranean dan India; namun yang paling penting.
(6) Islam memiliki potensi besar untuk bangkit kembali berdasarkan konsep tajdid [pembaruannya] dan mampu menantang hegemoni kebudayaan Barat pada masa akan datang, (Wan Daud, 2005).
Peran Ulama
Salah satu komponen yang selalu menjadi bagian penting dalam kebangkitan ummat adalah ulama, peran sentral mereka tak dapat diabaikan.
Para ulama dalam melakukan perbaikan terhadap ummat dan umara sering kali berada di belakang layar, tapi peran mereka sangat strategis, tujuan dan sasarannya jelas, program pendidikan dan dakwahnya tertata dengan rapih dan sistematis, walaupun proses yang mereka jalankan sering kali berada pada jalan yang terjal, mendaki, dan berliku, tapi hasilnya sangat membanggakan dan penuh kegemilangan.
Mendidik masyarakat secara luas berarti ikut serta merasakan kebutuhan ummat, sebab mereka selalu menanti kehadiran para ulama, mendidik masyarakat berarti memperbaiki akhlak segenap lapisan masyarakat, mengingatkan mereka tentang kelalaian dalam menjalankan ketetapan agama.
Ditinjau dari perspektif sejarah, peran sentral ulama dalam membangun bangsa merupakan sebuah keniscayaan, dan ini bukan asumsi belaka, tetapi menjadi fakta sejarah, termasuk, peran ulama dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia dan menjadi bagian penting dalam perumusan undang-undang dasar ‘45’ hingga lambang negara
yang bersifat fi losofi s, Pancasila.
Pada abad pertengahan, khususnya ketika ummat Islam memimpin peradaban dunia, para pemimpin yang disebut khalifah memiliki dua proyek utama: (1) mendidik kader
ulama; dan (2) memperkuat angkatan bersenjata, namun poin pertama menjadi pondasi poin kedua.
Adapun penguatan institusi pemerintahan, ekonomi, dan sebagainya, hanya merupakan buah dari proyek kaderisasi ulama.
“Suatu fakta sejarah yang nyata bahwa sebagian besar dari para Khalifah dan penguasa-penguasa dalam dunia Islam selalu memperkokoh kekuasaan mereka dengan dua macam kekuasaan lainnya, yaitu, ‘kekuasaan para ulama dan angkatan bersenjata’.
Untuk itu, mereka selalu memberikan bonus yang melimpah-ruah pada kedua golongan tersebut untuk memperpanjang masa kekuasaan mereka”, (Syalaby, 1975: 228).
Berakar dari masalah tersebut sehingga saya menawarkan sebuah teori baru yang tertuang dalam buku “Ilmu Pendidikan Kader Ulama”, agar dapat menjadi
panduan bagi para generasi muda yang menapaki jalan dan perjuangan para ulama. Wallahi A’lam!(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.