Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Anomali Libur Sekolah di Hari Tasyrik: Ada Murd Hanya Datang Ambil MBG, Guru Gundah Siswa Dilema

Yang dipersoalkan bukan semata soal libur atau tidak libur. Ini tentang rasa keadilan kebijakan.

Tayang:
Penulis: as kambie | Editor: AS Kambie
Tribun-timur.com/Makmur
SELEKSI UNGGULAN - Siswa berjejer mengantri giliran tes seleksi Kelas Unggulan di SMA Negeri 2 Makassar, Jalan Baji Gau No.17, Senin (25/5/2026). Sebanyak 918 siswa memperebutkan kuota 60 siswa Kelas Unggulan SMA Negeri 2 Makassar. 

“Katanya mau belajar, ternyata tidak. Kita hanya datang ambil MBG baru disuruh pulang,” kata seorang murid SD di Parangtambung, Makassar.

Pertanyaan pun muncul: sebenarnya siapa yang sedang diajarkan konsistensi oleh negara?

Pendidikan bukan hanya soal mata pelajaran di ruang kelas. Anak-anak belajar dari sistem yang mereka lihat. Mereka membaca pesan dari kebijakan, meski tanpa teks tertulis.

Ketika kakaknya di SMA harus berangkat sekolah, sementara adiknya di SMP masih libur, ada pelajaran diam-diam yang ikut masuk ke kepala mereka: aturan bisa berbeda tanpa penjelasan yang mudah dipahami.

Mungkin pemerintah memiliki alasan administratif. Bisa jadi ada perbedaan kalender akademik, kewenangan pengelolaan pendidikan, atau target pembelajaran yang harus dikejar. SMA dan SMK berada di bawah pemerintah provinsi, sedangkan SD dan SMP berada di bawah pemerintah kabupaten/kota. Tetapi di mata masyarakat, argumentasi birokrasi sering kalah oleh logika keseharian.

Yang terlihat hanyalah satu pertanyaan sederhana: mengapa dalam momentum keagamaan yang sama, anak-anak diperlakukan berbeda?

Hari tasyrik bukan sekadar tambahan tanggal merah. Dalam tradisi umat Islam, ia adalah momentum kebersamaan, makan bersama, mengunjungi keluarga, dan merawat ikatan sosial setelah ibadah kurban.

Ketika sebagian keluarga lengkap di rumah sementara sebagian lain masih berjibaku dengan seragam sekolah, muncul kesan bahwa negara belum sepenuhnya sinkron bahkan dalam mengatur jeda kebersamaan warganya.

Ini memang bukan krisis besar pendidikan. Tapi justru anomali kecil seperti inilah yang kadang meninggalkan pertanyaan besar di masyarakat: apakah kebijakan benar-benar dibuat dari cara pandang warga, atau hanya berhenti di meja administrasi?

Sebab kadang, yang melelahkan bukan keputusan itu sendiri, melainkan rasa bahwa keputusan itu sulit dimengerti.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved