Anomali Libur Sekolah di Hari Tasyrik: Ada Murd Hanya Datang Ambil MBG, Guru Gundah Siswa Dilema
Yang dipersoalkan bukan semata soal libur atau tidak libur. Ini tentang rasa keadilan kebijakan.
“Katanya mau belajar, ternyata tidak. Kita hanya datang ambil MBG baru disuruh pulang,” kata seorang murid SD di Parangtambung, Makassar.
Pertanyaan pun muncul: sebenarnya siapa yang sedang diajarkan konsistensi oleh negara?
Pendidikan bukan hanya soal mata pelajaran di ruang kelas. Anak-anak belajar dari sistem yang mereka lihat. Mereka membaca pesan dari kebijakan, meski tanpa teks tertulis.
Ketika kakaknya di SMA harus berangkat sekolah, sementara adiknya di SMP masih libur, ada pelajaran diam-diam yang ikut masuk ke kepala mereka: aturan bisa berbeda tanpa penjelasan yang mudah dipahami.
Mungkin pemerintah memiliki alasan administratif. Bisa jadi ada perbedaan kalender akademik, kewenangan pengelolaan pendidikan, atau target pembelajaran yang harus dikejar. SMA dan SMK berada di bawah pemerintah provinsi, sedangkan SD dan SMP berada di bawah pemerintah kabupaten/kota. Tetapi di mata masyarakat, argumentasi birokrasi sering kalah oleh logika keseharian.
Yang terlihat hanyalah satu pertanyaan sederhana: mengapa dalam momentum keagamaan yang sama, anak-anak diperlakukan berbeda?
Hari tasyrik bukan sekadar tambahan tanggal merah. Dalam tradisi umat Islam, ia adalah momentum kebersamaan, makan bersama, mengunjungi keluarga, dan merawat ikatan sosial setelah ibadah kurban.
Ketika sebagian keluarga lengkap di rumah sementara sebagian lain masih berjibaku dengan seragam sekolah, muncul kesan bahwa negara belum sepenuhnya sinkron bahkan dalam mengatur jeda kebersamaan warganya.
Ini memang bukan krisis besar pendidikan. Tapi justru anomali kecil seperti inilah yang kadang meninggalkan pertanyaan besar di masyarakat: apakah kebijakan benar-benar dibuat dari cara pandang warga, atau hanya berhenti di meja administrasi?
Sebab kadang, yang melelahkan bukan keputusan itu sendiri, melainkan rasa bahwa keputusan itu sulit dimengerti.(*)
| Momen Open House, Bupati Takalar Daeng Manye Kumpulkan 12 Camat di Satu Meja Bahas Pelayanan Publik |
|
|---|
| Iduladha 1447 H, 7.600 Sapi dan 400 Kambing Disembelih di Makassar |
|
|---|
| Kemenag Sulsel Sembelih 9 Sapi Kurban di Momen Iduladha, Daging Dibagikan ke Warga Sekitar Kanwil |
|
|---|
| KORPRI Makassar Salurkan Daging Kurban ke Cleaning Service, Satpol PP dan Warga Sekitar Balai Kota |
|
|---|
| Momen Iduladha 1447 H, PT Semen Tonasa Salurkan 20 Sapi Kurban untuk Warga Ring 1 dan Packing Plant |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260525-Siswa-berjejer-mengantri-giliran-tes-seleksi.jpg)