Dari Monash University, Jurnalis Australia-Indonesia Berbagi Tips Membumikan Isu Perubahan Iklim
Workshop difasilitasi Australia Indonesia Centre (AIC) dengan dukungan Monash Climate Communication Hub (Monash CliComm) dari Monash University.
TRIBUN-TIMUR.COM, MELBOURNE - Topik perubahan iklim menjadi pembahasan utama jurnalis Australia dan Indonesia dalam workshop yang diselenggarakan di Monash University, Rabu (13/5/2026).
Workshop difasilitasi Australia Indonesia Centre (AIC) dengan dukungan Monash Climate Communication Hub (Monash CliComm) dari Monash University.
Pertemuan antara jurnalis Australia dan Indonesia dihadiri pula termasuk satu diantaranya jurnalis Tribun Timur, Alfian.
Dua jurnalis Australia ikut dalam pendiskusian hangat itu yakni Lyndal Rowlands dari media Al-Jazeera dan Zacharias Szumer jurnalis Special Broadcasting Service (SBS) Australia.
Diskusi bertukar pengalaman antara jurnalis Australia dan Indonesia merupakan sesi kedua di hari pertama workshop yang diselenggarakan hingga, Kamis (14/5/2026).
Di sesi pertama, Monash CliComm memaparkan gambaran umum terkait perilaku masyarakat Australia dalam penerimaan informasi.
Data menunjukan, warga Australia cenderung masih sangat mempercayai setiap informasi yang datang dari para ilmuwan/akademisi dan hasil karya jurnalistik.
Termasuk mengenai topik perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan lainnya, warga Australia mengutamakan informasi dari para ilmuwan dan pemberitaan.
Sedangkan di Indonesia saat ini, arus informasi utamanya dalam pembentukan opini publik cenderung 'dikuasai' para influencer.
Baca juga: Pendengung Lebih Dipercaya di Indonesia, Jurnalis Australia Geleng-geleng Kepala
Dalam hal ini publik figur baik artis, selebgram, TikTokers dan youtubers.
Jurnalis Indonesia yang mengikuti kegiatan di Monash University ini pun ikut mengamini fenomena tersebut.
"Banyak kalangan influencer yang sebenarnya bukan bidangnya terkadang berbicara tentang satu topik dan mereka lebih dipercaya dibandingkan informasi pemberitaan yang dihasilkan jurnalis," tutur Suriani Mappong, jurnalis Kantor Berita Antara.
Dari perbedaan ini kemudian memunculkan pendiskusian hangat hingga ke sesi kedua mengenai situasi jurnalisme di Indonesia dan Australia.
Lyndal Rowlands yang mendengarkan kompleksnya persoalan jurnalisme di Indonesia sampai geleng-geleng kepala.
Baginya yang sudah berprofesi sebagai jurnalis selama belasan tahun, tantangan jurnalisme di Indonesia lebih berat dibandingkan dirinya dan Zacharias Szumer yang bekerja di Australia.
| Pendengung Lebih 'Dipercaya' di Indonesia, Jurnalis Australia Geleng-geleng Kepala |
|
|---|
| Terbang 3.800 Kilometer Diskusi Keberlanjutan Media |
|
|---|
| Foto Keseruan FSAI 2026 di Makassar, Sajikan Aneka Film Seru dan Temu Alumni Australia |
|
|---|
| FSAI 2026 Makassar Putar 4 Film Australia-Indonesia di XXI TSM |
|
|---|
| 60 Alumni Australia di Indonesia Timur ke Makassar Ramaikan FSAI 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260520-Jurnalis-asal-Makassar-mengikuti-workshop.jpg)