Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Headline Tribun Timur 

Jenderal Sjafrie: Presiden Indonesia Masih Harus Ada Huruf 'O'

Meski pernah kalah dalam pilpres, JK mengaku bangga sebagai satu-satunya orang Sulawesi yang mengikuti pilpres sebanyak 3 kali.

Editor: Sudirman
TRIBUN TIMUR/TRIBUN TIMUR
HEADLINE TRIBUN - Sjafrie Sjamsoeddin (73) berkunjung ke Unhas, Selasa (9/12/2025). Ia menyebut Presiden Indonesia harus ada huruf O. 

Ringkasan Berita:
  • Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menilai tokoh luar Jawa masih menghadapi tantangan besar untuk menjadi Presiden RI.
  • Di hadapan 5.200 civitas Unhas, ia menyinggung “kriteria tradisional” politik nasional yang cenderung menguntungkan tokoh dari Jawa.
  • Sjafrie menegaskan pentingnya semangat, pengabdian, dan nilai kejuangan bagi generasi muda.
  • Sjafrie menekankan bahwa jabatan bukan ukuran utama, melainkan karakter dan ketakwaan.

TRIBUN-TIMUR.COM - Menteri Pertahanan (Menhan), Jenderal (Hor) Sjafrie Sjamsoeddin (73), mengakui tokoh luar pulau Jawa dihadapkan tantangan besar untuk bisa menjadi Presiden di Indonesia.

Menurut jenderal kelahiran Makassar, 30 Oktober 1952 ini, realitas politik nasional terkini, masih menguntungkan tokoh-tokoh asal Jawa.

“Kriteria tradisional (jadi presiden) itu ada huruf ‘O’ di belakangnya,” ujar Sjafrie di awal Kuliah Umum bertema “NKRI Pantang Menyerah” di Baruga Andi Pangeran Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Tamalanrea, Makassar, Selasa (9/12/2025) pagi.

Sjafrie berbicara dihadapan sekira 5.200 civitas akademika kampus tertua di timur Indonesia ini. Mayoritas audiensnya adalah mahasiswa.

Mantan ajudan Presiden ke-2 Soeharto (1921-2008) ini, lalu melanjutkan dengan kelakar politiknya soal kepemimpinan nasional.

Baca juga: Dua Jenderal Bintang Empat dan Pangdam Ziarahi Makam Jenderal M Jusuf

“Tapi memang susah, Pak Rektor. Kita tahu dirilah. Nama Bapak juga sudah jauh dari radar. Namanya Bapak Jamaluddin Jompa,” ujar Sjafrie, diikuti derai tawa hadirin.

"Padahal kriteria tradisional itu ada huruf ‘O’ di belakangnya. kecuali Bapak mau ganti nama jadi Jamaluddin Jompo. Saya kira tidak ada yang mau,” Sjafrie menambahkan.

Ia mengemukakan ini dalam konteks memberikan semangat dan nilai-nilai kejuangan kepada mahasiswa.

Sebelumnya, Sjafrie lebih dulu menyinggung capaian Unhas yang kini berada di peringkat 951 dari 1.000 universitas terbaik dunia.

Namun, Pangdam Jayakarta (1997-1998) ini mengaku belum puas dengan prestasi tersebut.

“Saya baru puas kalau salah satu alumni Universitas Hasanuddin bisa menjadi Presiden Republik Indonesia,” ujarnya disambut tepuk tangan dan tawa Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, serta serarusan tetamu VVIP.

Sjafrie menegaskan, jabatan tinggi bukanlah ukuran utama.

“Yang penting jiwa, semangat, dan pengabdian tidak boleh pudar karena kita diberi takdir untuk bisa bertakwa. Yang paling penting, kita harus saling menghormati orang tua,” jelasnya menambahkan.

Sebelumnya, realitas politik kepemimpinan nasional ini beberapa kali disinggung Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (83).

“Jadi kira-kira kita butuh 100 tahun orang luar Jawa jadi presiden,” ujar JK menjawab pertanyaan mahasiswa dalam acara Young Economist Stand Up di kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (25/10/2017).

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved